Ibu Bekerja Bukan Berarti Kurang Baik, Ini Kuncinya

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 06:31 WIB
Dr. Yane Ardian
Dr. Yane Ardian

RADAR BOGOR - Menjadi seorang ibu sekaligus menjalani pekerjaan profesional kerap menempatkan perempuan pada dilema.

Di satu sisi, ada tanggung jawab terhadap pekerjaan yang harus diselesaikan.

Di sisi lain, keluarga tetap membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan kehadiran seorang ibu.

Namun, apakah ibu yang bekerja otomatis menjadi kurang baik dalam menjalankan perannya di keluarga?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang disoroti Staf Ahli Bidang Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga TP PKK Pusat, Dr. Yane Ardian, dalam tulisannya berjudul Work Life Harmony.

Baca Juga: KPM Terbukti Melakukan Pelanggaran, Bansos Tidak Bisa Cair Lagi, Ini Penjelasannya

Menurut Yane, persoalan sebenarnya bukan terletak pada keputusan seorang ibu untuk bekerja.

Hal yang jauh lebih menentukan adalah ada atau tidaknya dukungan yang memungkinkan seorang ibu menjalankan berbagai peran tanpa kehilangan kesehatan dan kebahagiaannya.

Ibu Bekerja Tidak Otomatis Mengabaikan Keluarga

Selama ini, pembahasan mengenai ibu bekerja sering kali ditempatkan dalam pilihan sederhana: bekerja atau tidak bekerja.

Padahal, kondisi setiap keluarga berbeda. Seorang ibu yang bekerja tidak serta-merta berarti memiliki waktu lebih sedikit untuk keluarga atau menjadi kurang perhatian kepada anak.

Yane menjelaskan, pengalaman menjalani pekerjaan dan kehidupan keluarga dapat membawa dua kemungkinan.

Keduanya dikenal dalam kajian sebagai work-family conflict dan work-family enrichment.

Work-family conflict terjadi ketika tuntutan pekerjaan dan keluarga saling berbenturan. 

"Dalam kondisi tersebut, seseorang dapat mengalami tekanan, kelelahan, hingga merasa kesulitan memenuhi berbagai harapan yang datang dari kedua sisi," jelas istri Wamendagri Bima Arya tersebut.

Namun, ada pula kondisi sebaliknya, yaitu work-family enrichment. Dalam situasi ini, pengalaman positif dari satu peran justru dapat memberikan manfaat bagi peran lainnya.

Ketika Pekerjaan Justru Memberi Energi untuk Keluarga

"Bayangkan seorang ibu yang berhasil menyelesaikan pekerjaan penting di kantor," kata Pembina Kesekretariatan Posyandu Pusat itu.

Keberhasilan tersebut dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan kepuasan dalam dirinya.

Perasaan positif itu tidak harus berhenti ketika ia meninggalkan tempat kerja.

Baca Juga: BRImo Taiwan Resmi Meluncur, BRI Bidik Kemudahan Finansial PMI

Rasa percaya diri dapat terbawa ke rumah dan membantu ibu menghadapi persoalan keluarga dengan lebih tenang, sabar, serta yakin dalam mengambil keputusan.

Hal serupa dapat terjadi dari arah sebaliknya.

Keluarga yang memberikan rasa aman dan dukungan emosional dapat menjadi sumber kekuatan bagi seorang ibu ketika menghadapi tekanan di tempat kerja.

Dengan demikian, pekerjaan dan keluarga tidak selalu harus dipandang sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Keduanya, dapat saling menguatkan ketika seorang ibu memiliki lingkungan yang mendukung.

Dukungan Menjadi Kunci Work Life Harmony

Karena itu, menurut Yane, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah seorang ibu bekerja atau tidak.

Yang perlu dilihat adalah apakah ibu memiliki sistem pendukung yang membuatnya mampu menjalankan berbagai peran secara sehat.

Dukungan tersebut dapat datang dari pasangan, keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat. Bentuknya pun tidak selalu harus berupa bantuan besar.

Baca Juga: Empat Jenis Bansos yang Masih Cair Tahap 3, Bagi yang Belum Cair Jangan Buru-buru Panik

Pengertian, kepercayaan, kesempatan untuk beristirahat, hingga ruang untuk berkembang sebagai individu juga menjadi bagian penting dalam menciptakan keseimbangan kehidupan.

Seorang ibu tidak hanya membutuhkan waktu.

Ia juga membutuhkan kesempatan untuk tetap menjadi dirinya sendiri, memiliki ruang bertumbuh, serta merawat kondisi fisik dan emosionalnya.

Anak Tidak Membutuhkan Ibu yang Kehilangan Dirinya

Dalam kehidupan keluarga, pengorbanan seorang ibu sering kali dianggap sebagai bentuk kasih sayang.

Namun, pengorbanan tidak seharusnya membuat seorang ibu kehilangan kesehatan, kebahagiaan, atau kesempatan untuk mewujudkan impiannya.

Yane menekankan, anak pada dasarnya tidak membutuhkan ibu yang mengorbankan seluruh dirinya hingga kehilangan kebahagiaan.

Anak justru membutuhkan sosok ibu yang sehat secara fisik dan emosional, serta mampu membangun hubungan yang hangat dan penuh kasih.

Pandangan tersebut menggeser cara melihat peran ibu bekerja.

Ukuran keberhasilan seorang ibu bukan semata-mata berapa banyak waktu yang dihabiskan di rumah, tetapi juga bagaimana kualitas hubungan yang dibangun bersama keluarga.

Keluarga Tetap Menjadi Tempat Pulang

Pada akhirnya, bekerja dan menjadi ibu bukanlah dua pilihan yang harus selalu dipertentangkan.

Seorang ibu tetap dapat memiliki cita-cita, mengembangkan kemampuan, dan menjalani karier tanpa harus merasa bersalah karena memilih bekerja.

Baca Juga: Bansos Tahap 3 Tidak Cair karena Terindikasi Game Online Terlarang, Simak Solusi Lengkapnya

Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang memungkinkan semua peran tersebut berjalan dengan sehat.

Gagasan work life harmony yang disampaikan Yane Ardian mengingatkan, keluarga seharusnya bukan menjadi alasan seorang ibu berhenti bermimpi.

Sebaliknya, keluarga perlu menjadi tempat pulang yang memberikan rasa aman, dukungan, dan kehangatan ketika seorang ibu menjalani perjalanan untuk mencapai impiannya. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
Work Life Harmony ibu yane ardian