RADAR BOGOR – Kebiasaan terlalu lama duduk, bermain gawai, hingga minim aktivitas fisik menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor. Berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025, sebanyak 70,65 persen pelajar tercatat memiliki aktivitas fisik yang rendah.
Kondisi yang kerap disebut sebagai “sindrom mager” tersebut mendorong Dinkes Kota Bogor untuk kembali menghidupkan budaya berolahraga di lingkungan sekolah.
Kepala Dinkes Kota Bogor Erna Nuraena mengatakan, upaya meningkatkan aktivitas fisik pelajar sejalan dengan Peraturan Wali Kota (Perwali) mengenai Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
Baca Juga: Update Bansos 26 Agustus 2026: KPM Bogor Terima Sekaligus BPNT Tahap 3 dan Beras 30 Kg
Salah satu langkah yang didorong yakni menggelar senam pagi secara rutin sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
“Pertama, kita harapkan setiap pagi semua sekolah menggalakkan kembali senam pagi seperti zaman kita kecil dulu,” ujar Erna saat menghadiri Gerakan Aksi Bergizi dan Cek Kesehatan Gratis di MAN 1 Kota Bogor, Rabu, 26 Agustus 2026.
Tak berhenti pada pagi hari, Dinkes juga mendorong sekolah memberikan aktivitas peregangan pada sekitar pukul 10.00 WIB dan 14.00 WIB.
Erna menegaskan, kegiatan tersebut tidak membutuhkan waktu panjang. Senam ringan selama lima hingga 10 menit dinilai sudah cukup untuk membantu menjaga kebugaran siswa.
“Cukup senam ringan 5-10 menit untuk mengatasi kurangnya aktivitas fisik dan menjaga kebugaran anak-anak,” katanya.
Baca Juga: Bukan Cuma Puncak, Festival Jasinga dan Cimande Buka Wajah Lain Wisata Budaya Bogor
Siswa dengan Kebugaran Rendah Akan Mendapat Pembinaan
Program CKG juga dimanfaatkan untuk mengetahui kondisi kebugaran para pelajar. Jika ditemukan siswa dengan tingkat kebugaran rendah, sekolah akan memberikan pembinaan melalui latihan fisik yang disesuaikan.
“Nanti kalau ditemukan ada pelajar yang kebugarannya rendah, mereka akan diberi latihan fisik (exercise) khusus oleh guru olahraganya supaya tingkat kebugarannya bisa meningkat,” jelas Erna.
Sekretaris Daerah Kota Bogor Denny Mulyadi mengatakan, rendahnya aktivitas fisik menjadi salah satu temuan penting dalam pelaksanaan CKG tahun sebelumnya.
Baca Juga: BPNT KKS BNI Masih Terus Cair, Ada yang Dapat Rp590.000 karena Potongan Admin
Selain masalah kebugaran, pemeriksaan kesehatan pelajar pada 2025 juga menemukan sejumlah persoalan lain.
Di antaranya karies gigi sebesar 48,79 persen, pra-hipertensi 24 persen, anemia 16,87 persen, pra-diabetes 10,08 persen, serta gizi lebih atau obesitas 8,24 persen.
“Untuk karies atau gigi yang bolong dan tidak terawat, itu hampir mencapai 48,79 persen. Kemudian ada sindrom mager (kurang aktivitas fisik) yang mendominasi di angka 70,65 persen,” ungkap Denny.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar Pemkot Bogor memperkuat Gerakan Aksi Bergizi pada 2026.
Baca Juga: Bantuan Beras 30 Kg Serentak Cair Hari Ini di Garut, Bogor, Kuningan, dan Klaten
Program tersebut mencakup aktivitas senam dan olahraga, konsumsi makanan bergizi, minum Tablet Tambah Darah (TTD), hingga edukasi kesehatan.
CKG Pelajar Masih Dikebut
Di sisi lain, pelaksanaan CKG di Kota Bogor masih terus digenjot. Dari total sasaran 701 sekolah dan madrasah dengan sekitar 227 ribu siswa, realisasi pemeriksaan hingga triwulan kedua baru mencapai 28,9 persen.
Denny meminta Dinkes mempercepat pemeriksaan agar cakupan CKG di sekolah dapat meningkat. Pemkot Bogor menargetkan realisasi tahun ini mampu menembus lebih dari 70 hingga 80 persen.
“Tahun kemarin capaiannya di angka 61 persen. Kalau untuk tahun ini, targetnya harus di atas 70 sampai 80 persen,” ujarnya.
Baca Juga: Belum Dapat Bansos PKH BPNT? Ada Pencairan Susulan, KKS Baru Segera Diproses
Sementara itu, MAN 1 Kota Bogor memiliki sekitar 1.077 siswa dari kelas 10 hingga 12. Dalam kegiatan CKG dan Aksi Bergizi yang digelar Rabu, sebanyak 359 siswa kelas 10 mengikuti pemeriksaan kesehatan.
Adapun 150 siswa kelas 11 mengikuti rangkaian kegiatan berupa senam, sarapan bersama, minum TTD, serta talkshow kesehatan.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga