Presiden ISKA Ungkap Alasan Kickboxing Aman

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:56 WIB
Presiden ISKA Indonesia, Mustadi Anetta (tengah) saat berdialog di Graha Pena Radar Bogor.
Presiden ISKA Indonesia, Mustadi Anetta (tengah) saat berdialog di Graha Pena Radar Bogor.

RADAR BOGOR - Anggapan bahwa olahraga combat sport, identik dengan cedera dan benturan keras perlahan mulai berubah. 

Di balik pertandingan yang terlihat menegangkan, terdapat aturan dan pembagian kategori yang dirancang untuk menyesuaikan kemampuan setiap atlet.

Hal itu disampaikan Presiden International Sport Kickboxing Association (ISKA) Indonesia, Mustadi Anetta yang menjelaskan, bagaimana sistem pertandingan dalam ISKA dirancang dengan memperhatikan aspek keselamatan atlet.

Baca Juga: Tidak Biasa, Ini Bansos PKH Plus Rp500 Ribu yang Baru Diuji Coba Khusus Surabaya

Menurut Mustadi, pandangan tersebut juga menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Promotor B2 Unleashed, Harlan Bengardi. 

Saat melihat pertandingan yang melibatkan atlet usia muda, kata dia, Harlan sempat mempertanyakan alasan orang tua mengizinkan anaknya mengikuti combat sport.

Namun, setelah melihat langsung bagaimana pertandingan dijalankan, muncul pemahaman bahwa olahraga tersebut memiliki sistem keselamatan yang ketat.

Level Pertandingan Disesuaikan Kemampuan Atlet

Mustadi menjelaskan, salah satu kunci keamanan dalam pertandingan ISKA terletak pada pembagian kategori berdasarkan tingkat kemampuan peserta.

Atlet tidak langsung diarahkan ke pertandingan dengan tingkat kesulitan tinggi. 

Mereka dapat memulai dari kategori beginner, kemudian meningkat ke elite, semi pro, hingga pro sesuai kemampuan dan pengalaman.

“Di internasional sendiri, kami benar-benar memilah jenis pertandingan berdasarkan level dan kategori kemahiran. Jadi peserta bisa memilih mulai dari beginner, elite, semi pro, sampai pro,” ujar Mustadi Anetta kepada Radar Bogor.

Menurutnya, sistem tersebut membuat masyarakat memiliki pilihan. 

Mereka yang ingin berolahraga sekaligus belajar bela diri, jelas dia, tidak harus langsung masuk ke pertandingan dengan intensitas tinggi.

Sebaliknya, sambung dia, atlet yang ingin mengejar prestasi dapat meningkatkan level pertandingan secara bertahap.

Aturan Junior Lebih Ketat

Mustadi mengatakan, aspek keselamatan semakin diperketat pada kategori tertentu, terutama bagi atlet junior.

Sejumlah teknik yang memiliki risiko lebih tinggi, tidak diperbolehkan dalam pertandingan pada level tertentu. 

Salah satunya adalah serangan menggunakan lutut ke kepala.

Baca Juga: Ada Penerima Baru! Bansos PKH BPNT Tahap 3 Masih Buka Peluang Pencairan

Teknik seperti spinning backfist juga memiliki pembatasan pada kategori tertentu.

Dengan demikian, peserta dapat menentukan tingkat tantangan yang sesuai dengan kemampuan mereka tanpa harus langsung menghadapi seluruh teknik yang digunakan pada level profesional.

“Kalau merasa ingin tantangan lebih, bisa naik ke semi pro. Jadi levelnya memang bisa dipilih sesuai kemampuan dan keinginan atlet,” katanya.

Bertanding Berkali-kali Tetap dalam Koridor Safety

Sistem keselamatan tersebut juga diterapkan, ketika atlet mengikuti turnamen dengan format pertandingan lebih dari satu kali dalam sehari.

Menurut Mustadi, ISKA memiliki berbagai format pertandingan, mulai dari turnamen dengan jumlah peserta terbatas, pertandingan eksibisi satu lawan satu, hingga format turnamen yang memungkinkan seorang atlet tampil beberapa kali.

Meski demikian, pertandingan tetap berada dalam koridor keselamatan yang telah ditentukan.

Perlengkapan pelindung menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kondisi atlet selama bertanding. 

Karena itu, menurut Mustadi, anggapan bahwa atlet combat sport pasti mengalami cedera berat setiap kali bertanding tidak sepenuhnya tepat.

Satu Atlet Bisa Tampil di Berbagai Kategori

Pengalaman di sejumlah kejuaraan internasional juga memperlihatkan, bagaimana sistem pertandingan ISKA dapat memberikan ruang bagi atlet untuk mengikuti lebih dari satu kategori.

Mustadi menyontohkan kompetisi ISKA Asia Pacific, ketika seorang atlet Indonesia mampu tampil berkali-kali dalam satu hari.

Baca Juga: Kabar Gembira, KPM PKH Bisa Diterima 3 Bansos Tambahan di Tahun 2026

Atlet tersebut mengikuti hingga delapan pertandingan dan berhasil meraih medali emas pada tiga kategori.

“Dia main satu hari sampai 8 kali dan mendapatkan 3 emas. Artinya, ada prosedur dan sistem pertandingan yang dibuat seaman mungkin sehingga atlet bisa menikmati pertandingan berulang kali,” ujar Mustadi saat di Graha Pena Radar Bogor.

Bagi Mustadi, pengalaman tersebut menunjukkan, combat sport tidak selalu identik dengan benturan keras atau cedera berat.

Dengan pembagian level, regulasi teknik, perlengkapan pelindung, serta prosedur pertandingan yang terukur, olahraga kickboxing dapat menjadi aktivitas yang kompetitif sekaligus tetap mengutamakan keselamatan atlet.

Pandangan inilah yang turut dibawa dalam gelaran B2 Unleashed di Kota Bogor, sambung Mustadi, yang diharapkan dapat memperkenalkan combat sport kepada masyarakat dengan perspektif yang lebih luas. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
ISKA B2 Unleashed International Sport Kickboxing Association Mustadi Anetta bogor