RADAR BOGOR - Suasana pembelajaran sejarah di kelas XII SMAN 10 Bogor, tampak berbeda.
Di depan kelas, guru tidak hanya menjelaskan materi melalui buku dan papan tulis, tetapi juga mengajak siswa berinteraksi langsung dengan Papan Interaktif Digital (PID).
Layar digital menjadi ruang bagi siswa untuk mencoba, menjawab kuis, mengeksplorasi materi, hingga mengikuti berbagai aktivitas pembelajaran.
Di sisi lain, buku teks tetap berada di balik proses tersebut sebagai sumber utama yang menjadi pijakan guru dalam menyusun materi.
Baca Juga: KPPKBB Siapkan Jurnalis Muda Bogor Barat yang Berintegritas
Pemandangan itu, terlihat saat tim Penerbit Erlangga berkunjung ke SMAN 10 Bogor pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Kunjungan tersebut, menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana buku teks dapat dipadukan dengan teknologi digital dalam kegiatan belajar mengajar.
Teknologi Bukan untuk Menggantikan Buku
Transformasi digital di sekolah selama ini kerap dikaitkan dengan penggunaan perangkat teknologi.
Padahal, kehadiran teknologi dalam pembelajaran tidak serta-merta membuat sumber belajar konvensional kehilangan peran.
Dwi Wahyu, AMD 1 Produk 2 Erlangga, dan Hadiyansyah, Koordinator SMP/A Bidang IPS Erlangga, menilai penggunaan PID tetap perlu berjalan beriringan dengan buku sebagai salah satu sumber belajar utama.
Menurut keduanya, teknologi justru dapat memperkaya pengalaman belajar ketika dimanfaatkan untuk mengembangkan materi yang bersumber dari buku teks.
Dengan PID, materi yang sebelumnya disajikan secara tekstual dapat dikembangkan menjadi aktivitas yang lebih visual dan interaktif.
Siswa pun memiliki kesempatan untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi ikut mengeksplorasi materi yang dipelajari.
Guru Perlu Lebih Berani Mengeksplorasi Fitur PID
Plt. Kepala SMAN 10 Bogor, Arshal Hakim mengatakan, keberadaan Papan Interaktif Digital dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber belajar bagi guru dan siswa.
Namun, menurutnya, optimalisasi perangkat tersebut membutuhkan kesiapan pengguna.
Baca Juga: Serunya Jalan-Jalan di Flona 2026, Pameran Flora dan Fauna Terbesar di Lapangan Banteng Jakarta
Guru maupun siswa perlu memahami berbagai fungsi dan cara penggunaan PID agar teknologi yang tersedia benar-benar memberikan dampak dalam proses pembelajaran.
Pandangan serupa disampaikan Wawa Warno, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMAN 10 Bogor.
Wawa menilai, PID memiliki manfaat dalam mendukung kegiatan pembelajaran.
Karena itu, guru didorong untuk mengenal dan mengeksplorasi lebih banyak fitur yang tersedia.
“PID ini bermanfaat dalam proses pembelajaran. Guru perlu mengeksplorasi lebih banyak fitur-fiturnya, seperti Rumah Pendidikan yang di dalamnya terdapat Ruang GTK dan Ruang Murid untuk sumber belajar,” ujar Wawa.
Dari Buku Teks hingga AI, Guru Rancang Pembelajaran Interaktif
Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran Sejarah di kelas XII menjadi salah satu contoh bagaimana perangkat digital dapat digunakan secara lebih kreatif.
Dalam pembelajaran yang disaksikan tim Erlangga, guru memanfaatkan fitur whiteboard pada PID untuk menuliskan materi.
Guru juga menggunakan fasilitas berbagi layar untuk menampilkan media pembelajaran yang telah dirancang secara interaktif.
Siswa tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan.
Mereka diberi kesempatan berinteraksi langsung dengan tampilan pada layar, mengikuti aktivitas, dan mengerjakan tantangan pembelajaran.
Baca Juga: Sate dan Gule Matuh, Kuliner Legendaris Sejak 1970-an dengan Sate Domba Empuk
Guru Sejarah SMAN 10 Bogor, Hesti Dwi Rachmawati menjelaskan, buku teks tetap menjadi sumber utama ketika dirinya menyusun materi pembelajaran.
Ia kemudian melengkapinya dengan informasi dari internet dan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Namun, informasi yang diperoleh dari AI maupun internet tidak langsung digunakan begitu saja.
“Sumber internet dan teknologi AI juga digunakan, namun tetap harus kita verifikasi ulang,” kata Hesti.
Setelah melalui proses pengecekan, Hesti merancang media pembelajaran yang disesuaikan dengan fungsi PID serta kondisi siswa di kelasnya.
Media tersebut tidak hanya berisi materi, tetapi juga dirancang agar siswa terlibat secara aktif.
Mulai dari tantangan aktivitas belajar, kuis, kartu interaktif, hingga kegiatan refleksi disiapkan untuk membuat pembelajaran lebih dinamis.
Dalam proses tersebut, Hesti menggunakan Gemini Canvas dengan prompt yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, materi yang diajarkan, serta karakter siswa di kelas.
Siswa Merasakan Belajar Sejarah Lebih Menyenangkan
Bagi siswa, penggunaan PID memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran yang hanya mengandalkan penjelasan teori.
Ernesta Jolie Ruth Tampubolon, salah satu siswa SMAN 10 Bogor yang aktif mengikuti pembelajaran, mengatakan penggunaan PID membuat suasana kelas terasa lebih menyenangkan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Viral, KPPKBB Bekali Generasi Muda Ilmu Jurnalistik
Menurut Ernesta, kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan perangkat membuat materi yang dipelajari terasa lebih mudah dipahami.
“Ketika saya maju dan mencoba interaksi langsung dengan PID seperti tadi, materi pelajaran rasanya jadi jauh lebih gampang dipahami daripada cuma mendengarkan penjelasan teori saja,” ungkapnya.
Meski demikian, Ernesta menilai teknologi tidak berarti membuat buku teks menjadi tidak penting.
Buku Jadi Rujukan untuk Mengecek Informasi dari AI
Di tengah semakin mudahnya siswa mendapatkan informasi melalui AI, Ernesta justru melihat buku teks memiliki fungsi penting sebagai pembanding.
Ia mengingatkan teman-temannya agar tidak langsung mempercayai informasi yang diberikan AI.
Informasi tersebut, perlu diperiksa kembali menggunakan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, termasuk buku teks.
Bagi siswa, kebiasaan melakukan pengecekan ulang menjadi bagian penting dari proses belajar di era digital.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi tidak cukup hanya dengan mengetahui cara mengoperasikan perangkat atau membuat konten digital.
Siswa juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis untuk memilah informasi yang mereka temukan.
PID dan Buku Teks Saling Melengkapi
Pengalaman pembelajaran di SMAN 10 Bogor memperlihatkan, transformasi digital pendidikan tidak harus dimaknai sebagai pergantian sumber belajar lama dengan teknologi baru.
Buku teks tetap dapat menjadi fondasi dalam memahami konsep dan menyusun pengetahuan secara sistematis.
Sementara itu, PID memberikan ruang untuk mengembangkan materi tersebut menjadi pengalaman belajar yang lebih visual, interaktif, dan partisipatif.
Baca Juga: Bantuan Sembako Disalurkan untuk Warga Terdampak Gempa Ngada NTT
Dalam model seperti ini, guru tetap memegang peran penting sebagai fasilitator.
Guru menentukan sumber yang relevan, memverifikasi informasi, memilih teknologi yang sesuai, sekaligus merancang aktivitas berdasarkan kebutuhan dan karakter siswa.
Di sisi lain, siswa tidak lagi hanya menjadi penerima informasi.
Mereka didorong untuk berinteraksi, mencoba, mengeksplorasi, bertanya, membandingkan informasi, dan menyimpulkan pengetahuan.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital di sekolah bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa canggih perangkat yang digunakan.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut mampu memperkuat proses belajar, membuka ruang interaksi yang lebih luas, serta membantu guru dan siswa membangun pengetahuan secara bersama-sama.
Baca Juga: Kabar Baik, Ada Penerima Bansos PKH BPNT Baru di Akhir Agustus 2026
Kolaborasi antara buku teks, Papan Interaktif Digital, guru, dan siswa menjadi salah satu gambaran, teknologi dapat hadir bukan untuk menghapus cara belajar yang sudah ada, melainkan membuat pengalaman belajar menjadi lebih aktif, kritis, kolaboratif, dan bermakna. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti