Sejak SD, Profesor IPB Tegaskan Anak Perlu Belajar Cegah Kebakaran dan Bencana

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 20:41 WIB
Pakar Pengasuhan dan Tumbuh Kembang Anak IPB University, Profesor Dwi Hastuti.  (foto : IPB TV)
Pakar Pengasuhan dan Tumbuh Kembang Anak IPB University, Profesor Dwi Hastuti. (foto : IPB TV)

RADAR BOGOR - Api mungkin terlihat sederhana bagi anak-anak.

Nyala kecil dari lilin atau kompor, misalnya, bisa menjadi sesuatu yang biasa mereka temui di rumah. 

Namun, tanpa pengetahuan dan pengawasan yang tepat, api juga dapat berubah menjadi sumber bahaya yang mengancam keselamatan.

Karena itu, pemahaman mengenai kebencanaan dinilai penting dikenalkan sejak anak berada di bangku sekolah dasar (SD).

Baca Juga: KKS Berpotensi Bertambah! 8 Bansos Cair September 2026, PKH BPNT hingga BLT Dana Desa

Edukasi tersebut bukan sekadar mengajarkan apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga membangun kebiasaan untuk mengenali risiko dan mencegahnya sejak awal.

Pakar Pengasuhan dan Tumbuh Kembang Anak Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Profesor Dwi Hastuti menilai, pendidikan kebencanaan sudah dapat diperkenalkan sejak kelas 1 SD. 

Materinya pun tidak harus berdiri sebagai mata pelajaran khusus, melainkan bisa disisipkan dalam pembelajaran yang sudah ada di sekolah.

Belajar Bencana Tak Harus Jadi Mata Pelajaran Baru

Menurut Prof Dwi Hastuti, anak-anak dapat mengenal berbagai jenis bencana melalui pelajaran sains, ilmu sosial, maupun pendidikan jasmani.

Pola pembelajaran seperti ini, kata dia, telah diterapkan di Jepang sehingga pengetahuan tentang kebencanaan menjadi bagian dari aktivitas belajar sehari-hari.

Pendekatan tersebut dinilai, relevan untuk diterapkan di Indonesia.

"Anak dapat diperkenalkan dengan berbagai kondisi alam dan potensi bencana yang ada di sekitarnya, mulai dari banjir, gempa bumi, angin topan, hingga kebakaran hutan," jelasnya dikutip dari laman resmi IPB, Selasa 1 September 2026.

Pengenalan tidak harus dilakukan melalui teori yang rumit.

Buku pelajaran, cerita bergambar, video, hingga kegiatan yang mengajak anak mengamati lingkungan sekitar dapat menjadi media untuk membangun pemahaman mereka.

Dengan cara tersebut, anak tidak hanya mengetahui bahwa bencana bisa terjadi, tetapi juga memahami hubungan antara kondisi lingkungan dengan munculnya berbagai risiko.

Kebiasaan Sederhana Bisa Bangun Kepedulian

Pendidikan kebencanaan juga berkaitan erat dengan bagaimana anak memperlakukan lingkungan.

Kebiasaan sederhana di sekolah, seperti membuang sampah pada tempatnya, membersihkan halaman, menyapu kelas, hingga merawat area sekolah, dapat menjadi bagian dari pembelajaran.

Baca Juga: Bukan Gua Biasa, Goa Sunyaragi Cirebon Punya Bangunan Batu Karang dengan Perpaduan 4 Budaya

Prof Dwi Hastuti menekankan, guru dan lingkungan sekolah memiliki posisi penting dalam proses tersebut.

Anak membutuhkan contoh nyata agar nilai kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai teori.

Keteladanan guru menjadi salah satu hal yang menurutnya, perlu diperhatikan.

Perilaku sehari-hari orang dewasa di lingkungan sekolah akan mudah diamati dan ditiru oleh anak.

Karena itu, upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bersih perlu dimulai dari kebiasaan orang-orang di dalamnya, termasuk tidak membiarkan sumber api maupun sampah yang berpotensi memicu kebakaran berada sembarangan.

Pemahaman tentang Api Bisa Dimulai dari Kelas 1

Khusus mengenai kebakaran, anak perlu memahami bahwa api memiliki dua sisi.

Api dapat membantu kehidupan manusia, misalnya untuk memasak dan memberikan penerangan, tetapi bisa menjadi berbahaya ketika tidak digunakan atau dikendalikan dengan benar.

Prof Dwi Hastuti menyebut, usia SD sebagai waktu yang tepat untuk mulai mengenalkan konsep tersebut.

Bahkan, materi dasar mengenai penggunaan api dapat diperkenalkan sejak kelas 1 SD dengan mengambil contoh yang dekat dengan kehidupan anak di rumah.

Kompor dan lilin, misalnya, dapat digunakan sebagai konteks pembelajaran untuk menjelaskan manfaat api sekaligus risiko yang menyertainya.

Baca Juga: Karhutla Berulang, Pakar IPB Sebut Satwa Langka Sumatra-Kalimantan Terancam

Anak juga dapat dikenalkan secara bertahap pada berbagai penyebab kebakaran dan pentingnya mencegah api berkembang menjadi tidak terkendali.

Saat memasuki kelas 3 SD, materi tentang lingkungan dan dampak kerusakannya dapat diperluas.

Anak mulai dapat diajak memahami persoalan seperti pencemaran sungai dan laut, kerusakan hutan, hingga kebakaran hutan.

Pada tahap ini, pembelajaran sains juga dapat menjadi ruang untuk mengenalkan konsep bahaya, bencana, serta kesiapsiagaan sederhana sesuai usia anak.

Orang Tua dan Sekolah Perlu Berjalan Bersama

Pendidikan mengenai bahaya kebakaran tidak cukup hanya diberikan di sekolah.

Orang tua juga memiliki peran penting karena sebagian besar interaksi anak dengan sumber api justru dapat terjadi di lingkungan rumah.

Anak perlu mendapatkan penjelasan mengenai risiko saat berada di dekat kompor, lilin, maupun peralatan yang menggunakan sumber energi tertentu.

Namun, penyampaiannya harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak dalam memahami bahaya.

Sekolah kemudian dapat memperkuat pengetahuan tersebut melalui kegiatan praktik, termasuk simulasi evakuasi ketika terjadi kebakaran.

Baca Juga: Keren Banget, Ada yang Beda dari Motor Honda Vario 125

Simulasi menjadi penting agar anak tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga memiliki gambaran mengenai tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.

Dengan latihan yang dilakukan secara berkala, anak diharapkan tidak mudah panik dan mampu menempatkan keselamatan diri sebagai prioritas.

Edukasi Bencana Bukan untuk Menakut-nakuti Anak

Bagi Prof Dwi Hastuti, mengenalkan kebencanaan sejak usia sekolah dasar bukan berarti membuat anak tumbuh dalam ketakutan.

Justru, pengetahuan tersebut diperlukan agar mereka memiliki kewaspadaan dan mampu mengenali risiko di sekelilingnya.

Anak dapat belajar bahwa bencana dan kebakaran bukan sesuatu yang hanya terjadi dalam berita.

Ada tindakan sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risikonya, mulai dari menjaga lingkungan hingga memahami cara menggunakan sumber api dengan aman.

Dengan pendidikan yang diberikan secara bertahap, sesuai usia, dan didukung oleh keteladanan orang dewasa, anak diharapkan tidak hanya siap menghadapi bencana, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap keselamatan diri dan lingkungan. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
ipb institut pertanian bogor anak