RADAR BOGOR - Penanganan kawasan kumuh di perkotaan, tidak cukup hanya dengan memperbaiki jalan atau membangun drainase.
Di balik persoalan lingkungan yang terlihat secara kasatmata, terdapat persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, hingga keterbatasan akses masyarakat terhadap hunian yang layak.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kota Bogor.
Karena itu, Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Bogor menghadirkan sebuah pendekatan kolaboratif melalui inovasi Gerobak Sae Pisan (Gerakan Bogor Bebas Kumuh Strategi Akselerasi Permukiman Indah, Sehat, Aman dan Nyaman).
Baca Juga: Kinerja BRI Triwulan II 2026 Makin Solid, Laba Bersih Tembus Rp31,2 Triliun
Inovasi yang digagas oleh Rr. Mutiara Adhi Sarasati selaku inovator dari Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Bogor tersebut, dirancang untuk mempercepat penanganan kawasan kumuh dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi hingga masyarakat.
Dari Persoalan Kumuh Menuju Penanganan Terpadu
Permukiman kumuh selama ini menjadi salah satu pekerjaan besar dalam pembangunan perkotaan.
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang cepat tidak selalu diikuti ketersediaan hunian serta infrastruktur dasar yang memadai.
Harga lahan perkotaan yang tinggi juga membuat masyarakat berpenghasilan rendah kerap tinggal di kawasan dengan kepadatan tinggi.
Kondisi tersebut dapat diperparah oleh minimnya akses terhadap air bersih, sanitasi, drainase, jalan lingkungan, serta fasilitas dasar lainnya.
Di sisi lain, persoalan kawasan kumuh juga berkaitan dengan ketimpangan sosial ekonomi, keterbatasan sumber daya, lemahnya koordinasi antarinstansi, serta belum optimalnya keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
Di Kota Bogor, tantangan itu menjadi semakin kompleks karena kawasan permukiman kumuh tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Selama 2020 hingga 2023, penanganan kawasan kumuh lebih banyak diarahkan pada pembangunan infrastruktur, khususnya jalan dan drainase.
Namun, pendekatan tersebut dinilai belum cukup untuk menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
Dari kebutuhan inilah konsep Gerobak Sae Pisan mulai dikembangkan.
Berawal dari Satu RW di Panaragan
Gerobak Sae Pisan mulai diterapkan sebagai pilot project pada 2024 di RW 02 Kelurahan Panaragan, Kecamatan Bogor Tengah.
Berbeda dari pola penanganan sebelumnya, program ini tidak hanya menyasar aspek fisik.
Baca Juga: Hybrid vs Mobil Listrik, Mana yang Lebih Irit di Kemacetan Kota? Simak Informasi Lengkapnya
Intervensi juga diarahkan pada bidang sosial, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Pendekatan tersebut dilakukan melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, baik dari lingkungan pemerintah maupun pihak eksternal.
Hasilnya, penanganan kawasan dilakukan dengan mengacu pada tujuh indikator kekumuhan.
Pendekatan terpadu tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan luasan kawasan permukiman kumuh di Kota Bogor.
Jika sebelumnya lokasi kumuh yang ditetapkan mencapai 511,84 hektare dan tersebar di enam kecamatan serta 61 kelurahan, pada 2024 luasan berdasarkan penetapan terbaru turun menjadi 345,72 hektare.
Penurunan tersebut menjadi salah satu pijakan bagi Pemerintah Kota Bogor untuk terus mengembangkan Gerobak Sae Pisan sebagai bagian dari upaya menuju Kota Bogor Zero Kumuh atau BOZKU.
Tak Berhenti di Panaragan
Keberhasilan penerapan program di Panaragan kemudian mendorong Pemerintah Kota Bogor untuk memperluas pendekatan tersebut.
Pada 2025, Gerobak Sae Pisan direplikasi di tiga wilayah prioritas, yakni Kelurahan Harjasari, Kelurahan Cibogor, dan Kelurahan Cibuluh.
Replikasi dilakukan dengan pola kolaborasi yang melibatkan perangkat daerah, kecamatan, kelurahan, dunia usaha melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP), perguruan tinggi, serta masyarakat.
Penanganannya pun dibuat lebih menyeluruh. Infrastruktur tetap menjadi bagian penting, tetapi tidak berdiri sendiri.
Baca Juga: 5 Rute Trekking di Sentul Bogor yang Bisa Jadi Pilihan Liburan, Ada Curug hingga Hutan Pinus
Sejumlah intervensi mencakup peningkatan kualitas jalan lingkungan, perbaikan drainase, perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), penyediaan akses air minum, serta penataan lingkungan.
Pada saat yang sama, program juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat, kesehatan, lingkungan, serta penguatan kapasitas warga.
Dengan pola tersebut, kawasan yang ditangani diharapkan tidak sekadar terlihat lebih tertata, tetapi juga memiliki masyarakat yang lebih berdaya dan mampu menjaga keberlanjutan hasil penataan.
Kolaborasi Jadi Kunci
Salah satu pembeda utama Gerobak Sae Pisan adalah upaya menjadikan penanganan kawasan kumuh sebagai gerakan bersama.
Kolaborasi tersebut diperkuat melalui Keputusan Wali Kota Bogor Nomor 600.2.18/Kep.274-Disperumkim/2024 tentang Pembentukan Tim Kolaborasi Gerakan Bogor Bebas Kumuh Strategi Akselerasi Permukiman Indah, Sehat, Aman, Nyaman dalam Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kota Bogor.
Selain itu, Pemerintah Kota Bogor juga memiliki Peraturan Wali Kota Bogor Nomor 32 Tahun 2024 tentang Kolaborasi Peningkatan Kualitas Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh sebagai landasan kolaborasi dalam penanganannya.
Kehadiran regulasi tersebut menjadi penting karena persoalan kawasan kumuh tidak mungkin diselesaikan oleh satu perangkat daerah saja.
Sumber daya dari berbagai pihak perlu dipertemukan agar intervensi yang dilakukan lebih tepat sasaran dan memberikan dampak yang lebih luas bagi warga.
Didukung Teknologi hingga Pemberdayaan UMKM
Gerobak Sae Pisan memanfaatkan, teknologi informasi melalui aplikasi SIPRANATA sebagai salah satu instrumen pendukung pengelolaan informasi kawasan permukiman kumuh.
Di sisi lain, program ini memiliki identitas yang cukup kuat melalui nama dan tagline Gerobak Sae Pisan.
Nama tersebut dirancang agar mudah dikenal masyarakat sekaligus menjadi simbol gerakan bersama untuk menciptakan lingkungan permukiman yang indah, sehat, aman, dan nyaman.
Program tidak berhenti pada pembangunan fisik. Masyarakat juga mendapatkan sosialisasi dan pelatihan dari perangkat daerah terkait.
Dukungan pembiayaan dan kegiatan turut dibuka melalui kolaborasi dengan pihak swasta, perguruan tinggi, BAZNAS, maupun perbankan.
Dari sisi ekonomi, program diarahkan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan keluarga dan pemberdayaan masyarakat.
Bahkan, implementasinya diarahkan untuk mendorong lahirnya UMKM baru serta kelembagaan koperasi warga.
Dengan demikian, penanganan kawasan kumuh diharapkan tidak menciptakan ketergantungan terhadap bantuan, tetapi mampu membangun kemandirian masyarakat dalam jangka panjang.
Sembilan Langkah Menuju Bogor Zero Kumuh
Untuk memastikan inovasi berjalan secara sistematis, Gerobak Sae Pisan memiliki sejumlah tahapan.
Proses dimulai dari perencanaan dan pembentukan tim, penyusunan regulasi, hingga penyusunan pedoman pelaksanaan.
Setelah itu, dilakukan pengembangan aplikasi SIPRANATA dan pengenalan program kepada masyarakat melalui berbagai kanal komunikasi.
Tahap berikutnya adalah implementasi berupa pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU), perbaikan rumah, serta pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat.
Seluruh proses kemudian dilanjutkan dengan monitoring dan evaluasi.
Hasil evaluasi menjadi dasar untuk menentukan pengembangan serta replikasi program di kawasan kumuh lainnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan penanganan kawasan kumuh yang tidak hanya mengandalkan pembangunan fisik.
Menjawab Tantangan Penanganan Kawasan Kumuh
Gerobak Sae Pisan hadir di tengah kebutuhan Kota Bogor, untuk memiliki strategi penanganan permukiman kumuh yang lebih terintegrasi.
Sebelumnya, tantangan yang dihadapi tidak hanya menyangkut kondisi fisik lingkungan.
Faktor kelembagaan, regulasi, ketersediaan sumber daya, kondisi sosial ekonomi, serta karakteristik masyarakat juga ikut menentukan keberhasilan penanganan.
Karena itu, strategi yang dikembangkan melalui Gerobak Sae Pisan mencoba mempertemukan berbagai kebutuhan tersebut dalam satu gerakan kolaboratif.
Inovasi ini juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bogor menjawab isu pembangunan berkelanjutan, terutama kebutuhan untuk menciptakan kawasan perkotaan yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Ke depan, keberlanjutan program akan sangat bergantung pada konsistensi kolaborasi dan kemampuan mereplikasi pola yang sudah terbukti berjalan.
Bagi Kota Bogor, targetnya bukan sekadar mengurangi angka luasan kawasan kumuh, tetapi menciptakan lingkungan tempat tinggal yang benar-benar indah, sehat, aman, nyaman, dan mampu mendukung kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
Gerobak Sae Pisan pun diharapkan terus bergerak dari satu kawasan ke kawasan lainnya, menjadi bagian dari perjalanan panjang Kota Bogor menuju BOZKU atau Bogor Zero Kumuh. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti