RADAR BOGOR - Upaya mendeteksi kanker serviks sejak dini, terus dikembangkan Puskesmas Mekarwangi, Kota Bogor.
Salah satunya melalui inovasi PAK DEDI KASEV (PAkai Kamera DEteksi DIni KAnker SErViks) yang memanfaatkan kamera sebagai alat bantu saat pemeriksaan IVA Test.
Inovasi tersebut digagas oleh Sunarti, inovator PAK DEDI KASEV, berangkat dari persoalan yang ditemui tenaga kesehatan ketika melakukan pemeriksaan IVA secara konvensional.
Baca Juga: Ayam Goreng Mbok Matah: Kuliner Viral dengan 5 Pilihan Sambal Terenak di Depok
Selama ini, pemeriksaan sangat bergantung pada pencahayaan ruangan dan kemampuan visual petugas.
Kondisi tersebut dapat membuat proses pembacaan hasil menjadi kurang optimal sekaligus menyulitkan petugas ketika harus menjelaskan kondisi serviks kepada pasien.
Melalui PAK DEDI KASEV, kondisi leher rahim dapat ditampilkan secara langsung melalui layar telepon seluler atau tablet.
Pasien pun bisa melihat hasil pemeriksaannya secara real time.
“PAK DEDI KASEV merupakan metode pemeriksaan yang menambahkan alat bantu kamera pada pemeriksaan IVA Test untuk memberikan visualisasi langsung bagian leher rahim,” ujar Sunarti dalam keterangan tertulis Bogor Innovation Award.
Berawal dari Keprihatinan terhadap Kanker Serviks
Kanker serviks masih menjadi persoalan serius bagi perempuan.
Tingginya kasus dan banyaknya pasien yang baru diketahui ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut, menjadi salah satu alasan penguatan deteksi dini diperlukan.
Berdasarkan data yang dicantumkan dalam latar belakang inovasi, pada 2025 terdapat lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks setiap tahun di Indonesia.
Sekitar 70 persen kasus disebut baru terdiagnosis pada stadium lanjut.
Kondisi tersebut, membuat skrining menjadi bagian penting dalam upaya menemukan perubahan atau lesi prakanker sebelum berkembang menjadi kanker.
Baca Juga: Tiket Pesawat Berpotensi Makin Mahal? Kemenhub: Fuel Surcharge Kini Maksimal 40 Persen
Di Kota Bogor, tercatat 90 kasus kanker leher rahim pada 2023, dengan 10 kasus kematian.
Sementara itu, di wilayah kerja Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor pada 2025 ditemukan 11 kasus positif HPV DNA.
Cakupan IVA di Mekarwangi Masih Rendah
Persoalan lain yang mendorong lahirnya inovasi ini adalah masih rendahnya cakupan pemeriksaan IVA di Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor.
Berdasarkan laporan manual Puskesmas Mekarwangi periode Januari 2023 hingga Desember 2025, sebanyak 1.213 perempuan telah menjalani deteksi dini kanker leher rahim menggunakan metode IVA.
Jumlah tersebut setara dengan 12,43 persen dari total sasaran wanita usia subur.
Angka itu, kemudian menjadi dorongan bagi tim inovator untuk mencari pendekatan yang dapat membuat pemeriksaan lebih mudah dipahami dan menarik bagi masyarakat.
Selain faktor teknis, rasa takut, malu, serta kurangnya pemahaman mengenai pentingnya skrining juga menjadi tantangan dalam meningkatkan partisipasi perempuan.
Pasien Bisa Melihat Kondisi Serviks Secara Langsung
Penggunaan kamera menjadi pembeda utama PAK DEDI KASEV dibandingkan pemeriksaan IVA yang dilakukan tanpa alat bantu visual tambahan.
Setelah prosedur IVA dilakukan, kamera yang telah dilindungi plastik steril sekali pakai digunakan untuk mendokumentasikan kondisi serviks dalam bentuk foto maupun video.
Hasil visual tersebut kemudian ditampilkan pada telepon seluler atau tablet, sehingga petugas dapat menjelaskan kondisi serviks kepada pasien sambil pemeriksaan berlangsung.
Baca Juga: Kabar Bansos PKH Hari Ini! Saldo Rp975 Ribu Masuk KKS, Cek Penerima
Bagi pasien, pendekatan ini memberikan pengalaman berbeda.
Mereka tidak hanya menerima penjelasan secara lisan, tetapi dapat melihat langsung bagian yang sedang diperiksa.
Sunarti mengatakan, pengalaman tersebut turut meningkatkan antusiasme pasien terhadap pemeriksaan kesehatan reproduksi.
“Pasien dapat melihat secara langsung kondisi serviks melalui layar telepon seluler. Hal ini membantu meningkatkan pemahaman dan kesadaran mereka terhadap kesehatan reproduksi,” katanya.
Pertama Kali Diuji pada Pegawai Puskesmas
PAK DEDI KASEV mulai diuji pada 22 September 2025.
Saat itu, metode tersebut digunakan dalam pemeriksaan HPV DNA Co-Testing IVA terhadap 13 pegawai Puskesmas Mekarwangi.
Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan dua orang dengan hasil IVA positif, satu kasus servisitis, dan dua polip serviks.
Pasien kemudian mendapatkan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit.
Hasil pemeriksaan juga dikonsultasikan kepada dokter konsulen.
Menurut tim inovator, hasil pembacaan konsulen menunjukkan kesesuaian dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan di Puskesmas Mekarwangi.
Dua hari setelah uji coba internal, tepatnya 24 September 2025, metode tersebut mulai diterapkan kepada pasien.
Baca Juga: Inovasi SEHATTI Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor Dekatkan Skrining Ibu Hamil
Respons yang diterima cukup positif.
Pasien menunjukkan, rasa ingin tahu dan aktif bertanya mengenai pemeriksaan yang mereka jalani.
Teknologi Sederhana untuk Membantu Petugas
Sunarti menjelaskan, PAK DEDI KASEV bukan menggantikan pemeriksaan IVA, melainkan menambahkan kamera sebagai alat bantu visual dalam proses pemeriksaan.
Prosedur pemeriksaan tetap diawali dengan pasien mengambil posisi litotomi.
Petugas kemudian menggunakan spekulum untuk melihat leher rahim, membersihkan area serviks, lalu mengoleskan asam asetat dengan konsentrasi 3–5 persen.
Setelah menunggu reaksi selama sekitar satu menit, petugas melakukan penilaian terhadap perubahan yang terlihat pada serviks.
Pada tahap berikutnya, kamera yang sudah dilindungi plastik steril sekali pakai digunakan untuk mengambil gambar atau video kondisi serviks.
Dokumentasi tersebut, dapat membantu petugas ketika melakukan pembacaan hasil maupun ketika membutuhkan konsultasi dengan tenaga medis lain di fasilitas rujukan.
Sasar Perempuan Usia 30-50 Tahun
Program PAK DEDI KASEV ditujukan, terutama bagi perempuan usia 30 hingga 50 tahun atau perempuan yang telah aktif secara seksual di wilayah kerja Puskesmas Mekarwangi.
Untuk mengikuti pemeriksaan IVA, terdapat sejumlah kondisi yang perlu diperhatikan.
Baca Juga: Penyaluran TPG Non ASN dan PPPK Mulai Ditransfer Bertahap, Cek Status Info GTK
Perempuan yang menjalani pemeriksaan tidak sedang menstruasi, tidak sedang hamil, serta tidak melakukan hubungan suami istri atau menggunakan obat-obatan melalui alat vital setidaknya 24 jam sebelum pemeriksaan.
Bagi perempuan dengan hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi abnormal, tindak lanjut dilakukan sesuai hasil pemeriksaan dan kebutuhan medis, termasuk rujukan apabila diperlukan.
Sementara perempuan dengan hasil IVA negatif tetap dianjurkan mengikuti skrining secara berkala sesuai ketentuan tenaga kesehatan.
Dokumentasi Membantu Edukasi Pasien
Salah satu keunggulan PAK DEDI KASEV, dokumentasi hasil pemeriksaan yang dapat diberikan kepada pasien.
Foto atau video tersebut, membuat pasien memiliki rekam visual dari pemeriksaan yang telah dilakukan.
Dokumentasi juga dapat membantu, ketika pasien membutuhkan konsultasi lanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
Di sisi lain, visualisasi secara langsung menjadi sarana edukasi bagi petugas untuk menerangkan anatomi serviks, kondisi normal maupun temuan yang perlu mendapat perhatian.
Dengan pemahaman yang lebih baik, pasien diharapkan tidak berhenti pada pemeriksaan awal, tetapi bersedia menjalani tindak lanjut apabila ditemukan kelainan.
Edukasi Dilakukan Lewat Posyandu hingga Media Sosial
Pengenalan inovasi dilakukan melalui beberapa jalur.
Setelah uji coba terhadap pegawai Puskesmas, edukasi diperluas langsung kepada pasien saat pemeriksaan.
Promosi juga dilakukan melalui jaringan kader kesehatan, grup WhatsApp, media sosial Puskesmas, serta kolaborasi dengan petugas promosi kesehatan dalam kegiatan Posyandu dan kegiatan lapangan.
Baca Juga: Xiaomi 18 Fold Siap Tantang Samsung dan iPhone, Desain Ponsel Lipat Baru Bikin Penasaran
Puskesmas Mekarwangi juga menjadwalkan, pemeriksaan IVA secara rutin setiap Rabu pukul 08.00–12.00 WIB dan layanan tersebut diberikan secara gratis.
Pendekatan langsung kepada pasien menjadi salah satu strategi penting karena tenaga kesehatan dapat menjelaskan manfaat pemeriksaan sekaligus mengurangi kekhawatiran yang selama ini membuat sebagian perempuan enggan menjalani skrining.
Diharapkan Tekan Risiko Kanker Serviks
PAK DEDI KASEV mulai diterapkan secara berkelanjutan sejak September 2025.
Kehadiran inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan cakupan skrining sekaligus membantu tenaga kesehatan memperoleh gambaran kondisi serviks yang lebih jelas.
Lebih jauh, deteksi lesi prakanker sejak dini diharapkan memungkinkan pasien mendapatkan penanganan lebih cepat sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Dari sisi ekonomi, peningkatan deteksi dini juga berpotensi mengurangi beban pengobatan apabila penyakit ditemukan pada tahap lebih awal.
Bagi masyarakat, pemeriksaan tetap diberikan secara gratis dan dokumentasi hasil dapat menjadi informasi pendukung untuk konsultasi berikutnya.
Sunarti berharap inovasi tersebut dapat terus mendorong perempuan untuk tidak menunda pemeriksaan.
Baca Juga: Isu Hukum Memanas, Muhammadiyah Kabupaten Bogor Minta Warga Tidak Terprovokasi
“Deteksi dini menjadi langkah penting untuk menemukan lesi prakanker lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan dengan tepat,” tuturnya.
Melalui kombinasi pemeriksaan IVA dan bantuan teknologi kamera, Puskesmas Mekarwangi berupaya menjadikan skrining kanker serviks lebih informatif, mudah dipahami, dan semakin dekat dengan masyarakat. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti