RADAR BOGOR - Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor, mendorong UPTD Puskesmas Belong mencari cara baru dalam memantau keberadaan jentik nyamuk.
Dari persoalan pelaporan yang masih menggunakan kertas, lahirlah SI-ANTIK atau Sistem Informasi Juru Pemantau Jentik.
Inovasi tersebut digagas Listya Noor Fitria Dali, inovator SI-ANTIK dari UPTD Puskesmas Belong.
Baca Juga: Ketua KONI Bogor Minta Warga Tak Mudah Terprovokasi, Utamakan Fakta dan Asas Praduga Tak Bersalah
Sistem ini, dirancang untuk mengubah pemantauan dan pelaporan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) menjadi lebih praktis dengan memanfaatkan teknologi yang sudah dekat dengan keseharian masyarakat, yakni smartphone.
Gagasan itu muncul bukan tanpa alasan.
Pada Triwulan I dan II 2024, Kelurahan Babakan Pasar mencatat 15 kasus DBD, termasuk satu kasus kematian.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena upaya pencegahan DBD tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan secara berkala.
"Dibutuhkan sistem yang mampu membuat masyarakat lebih aktif sekaligus membantu puskesmas memperoleh gambaran kondisi lingkungan secara lebih cepat," ujarnya dalam keterangan tertulis Bogor Innovation Award.
Berawal dari Masalah Data Jentik
Sebelum SI-ANTIK diterapkan, pencatatan kegiatan jumantik masih dilakukan menggunakan buku dan formulir kertas.
Cara tersebut, membuat proses pengumpulan data membutuhkan waktu dan berisiko menimbulkan persoalan, mulai dari catatan yang hilang hingga laporan yang tidak lengkap.
Persoalan lainnya terletak pada cakupan pemeriksaan.
Data Angka Bebas Jentik (ABJ) yang hanya berasal dari sebagian rumah belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya di seluruh wilayah.
Sebagai ilustrasi, dalam kawasan yang memiliki 1.820 rumah, pemeriksaan terhadap 100 rumah dan ditemukannya satu rumah positif jentik dapat menghasilkan angka ABJ yang terlihat baik.
Namun, angka tersebut belum tentu mencerminkan kondisi 1.720 rumah lainnya yang tidak diperiksa.
Dari persoalan itulah SI-ANTIK dikembangkan.
Sistem tersebut diarahkan agar semakin banyak rumah tangga dapat melakukan pemantauan sekaligus melaporkan kondisi jentik secara mandiri.
QR Code Jadi Pengingat di Setiap Rumah
Konsep SI-ANTIK terbilang sederhana.
Warga dapat mengakses formulir pelaporan melalui QR code yang ditempel di rumah masing-masing.
Baca Juga: Peralihan Status Kepegawaian Guru PPPK Pakai Seleksi CPNS Guru 2027, Ini Mekanismenya
Selain itu, tautan SI-ANTIK juga dibagikan secara rutin setiap Jumat melalui grup WhatsApp RT/RW oleh petugas puskesmas, koordinator jumantik, dan supervisor jumantik.
Dengan pola tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga memperoleh pengingat secara berkala untuk melakukan PSN dan melaporkan hasil pemantauan di lingkungan rumah.
“Penggunaan teknologi ini menjadi jembatan antara kader jumantik, warga, dan puskesmas agar pemantauan jentik dapat dilakukan lebih luas, transparan, dan cepat,” demikian konsep yang dikembangkan Listya melalui SI-ANTIK.
Laporan dapat diisi, menggunakan smartphone dan dilengkapi dokumentasi foto.
Data yang masuk kemudian dapat dipantau oleh puskesmas secara real-time melalui sistem yang terhubung dengan dashboard.
Gunakan Teori SOR untuk Ubah Kebiasaan Warga
Yang menarik, SI-ANTIK tidak sekadar dibuat sebagai alat pencatatan digital.
Inovasi tersebut juga menggunakan pendekatan teori Stimulus-Organism-Response (SOR) untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Dalam penerapannya, QR code yang terpasang di rumah serta pengiriman tautan secara rutin setiap Jumat menjadi stimulus.
Baca Juga: KPM Bansos BPNT Murni Terima PKH Validasi hingga Rp975.000, Cek Bukti Transaksinya
Warga dan kader kemudian diharapkan merespons stimulus tersebut dengan melakukan pemeriksaan jentik, PSN, dan pelaporan secara mandiri.
Pendekatan ini dirancang agar kegiatan pemberantasan sarang nyamuk tidak berhenti pada kegiatan sesaat, melainkan berkembang menjadi kebiasaan di tingkat rumah tangga.
Selain fungsi pelaporan, SI-ANTIK juga dikembangkan sebagai sarana edukasi mengenai DBD, termasuk informasi mengenai cara mengenali jentik dan pentingnya menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Slogan yang diusung pun sederhana dan mudah diingat: “Jumantik Aktif, Nyamuk Tak Berkutik.”
Kasus DBD Turun dari 15 Menjadi Nol
Penerapan SI-ANTIK mulai dilakukan secara resmi pada April 2024 setelah sistem tersebut dikembangkan selama sekitar satu bulan pada Maret 2024.
Pengembangan dilakukan dengan memanfaatkan platform digital gratis seperti Google Form dan Google Sheets.
Dengan demikian, inovasi dapat dibuat dan diterapkan tanpa membutuhkan anggaran besar untuk membangun aplikasi khusus.
Hasil penerapan yang dicatat Puskesmas Belong menunjukkan perubahan signifikan.
Jika pada Triwulan I dan II 2024 terdapat 15 kasus DBD di Kelurahan Babakan Pasar, jumlah tersebut turun menjadi nol kasus pada Triwulan III dan IV 2024.
Baca Juga: Semarak HUT ke-81 RI, RSUD R Moh Noh Nur Leuwiliang Bogor Ajak Warga Jaga Kebugaran
Selain penurunan kasus, digitalisasi juga membuat laporan kegiatan jumantik lebih mudah terdokumentasi.
Bukti foto membantu memperkuat laporan, sementara data yang masuk secara langsung memudahkan petugas dalam melihat kondisi wilayah dan menentukan tindak lanjut.
Bukan Sekadar Digitalisasi Pelaporan
Kehadiran SI-ANTIK juga memberikan dampak pada cara puskesmas memandang pemantauan DBD.
Sistem ini tidak hanya mengejar peningkatan angka ABJ, tetapi juga berusaha memperluas cakupan pemeriksaan sehingga data yang terkumpul lebih menggambarkan kondisi rumah tangga di wilayah tersebut.
Di sisi masyarakat, pengingat rutin dan materi edukasi diharapkan dapat meningkatkan kesadaran untuk melakukan PSN secara mandiri.
Sementara bagi kader jumantik, adanya evaluasi mingguan serta rencana pemberian apresiasi bagi kader berprestasi menjadi salah satu cara untuk mempertahankan motivasi dan konsistensi pelaporan.
Hemat Biaya, Mudah Direplikasi
Dari sisi anggaran, SI-ANTIK menawarkan model inovasi yang relatif sederhana.
Sistem pelaporan menggunakan layanan digital yang tersedia secara gratis, sedangkan kebutuhan biaya utama berada pada pencetakan stiker QR code yang dipasang di rumah warga.
Model tersebut membuat SI-ANTIK berpotensi diterapkan di wilayah lain tanpa membutuhkan investasi teknologi yang besar.
Efisiensi juga diharapkan muncul dari berkurangnya penggunaan formulir dan buku pencatatan manual.
Di sisi masyarakat, keberhasilan pencegahan DBD juga berpotensi mengurangi beban biaya yang muncul ketika warga harus menjalani pengobatan.
Baca Juga: Peralihan Status PPPK ke CPNS 2027, Kesempatan bagi Pelamar Umum Guru Fresh Graduate
Bahan pengembangan SI-ANTIK mencatat biaya perawatan pasien DBD yang menjalani rawat inap dapat berada pada kisaran Rp3 juta hingga Rp10 juta per pasien.
Dengan penurunan kasus yang dicatat setelah penerapan inovasi, terdapat potensi penghematan biaya kesehatan sekaligus berkurangnya kehilangan waktu produktif akibat sakit.
SI-ANTIK Disiapkan untuk Naik Kelas
Perjalanan inovasi ini belum berhenti pada penggunaan Google Form dan QR code.
Ke depan, SI-ANTIK direncanakan berkembang menjadi aplikasi mobile yang dapat digunakan masyarakat untuk melakukan pemantauan jentik secara lebih interaktif.
Pengembangan berikutnya juga diarahkan pada fitur pelaporan kasus DBD secara langsung kepada puskesmas.
Data tersebut, nantinya dapat dipadukan dengan peta berbasis Geographic Information System (GIS) untuk membantu petugas melihat pola persebaran kasus dan menentukan intervensi secara lebih cepat.
Jika pengembangan tersebut terealisasi, SI-ANTIK tidak hanya menjadi sistem pelaporan jumantik, tetapi dapat berkembang menjadi ekosistem pemantauan kesehatan lingkungan berbasis masyarakat.
Warga Jadi Bagian Penting Pencegahan DBD
Pada akhirnya, kekuatan utama SI-ANTIK bukan semata-mata pada teknologi yang digunakan.
Inovasi ini mencoba mengubah posisi masyarakat dari penerima informasi menjadi bagian aktif dalam pencegahan DBD.
Setiap rumah menjadi titik pemantauan.
Setiap laporan menjadi data.
Dan setiap tindakan PSN menjadi bagian dari upaya memutus siklus perkembangbiakan nyamuk.
Baca Juga: Kredit BRI Tembus Rp1.646 Triliun, Tumbuh 16,2 Persen di Tengah Penguatan Ekonomi Nasional
Melalui pendekatan sederhana berbasis smartphone, Puskesmas Belong berupaya membangun sistem pemantauan yang lebih cepat, luas, dan berkelanjutan.
Bagi inovator SI-ANTIK, Listya Noor Fitria Dali, transformasi digital tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bahwa inovasi pelayanan kesehatan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang mahal.
Dengan memanfaatkan perangkat yang sudah dimiliki warga dan sistem digital yang mudah digunakan, upaya pencegahan DBD dapat didorong menjadi gerakan bersama.
SI-ANTIK pun membawa pesan sederhana yakni ketika jumantik semakin aktif dan warga semakin peduli, ruang bagi nyamuk untuk berkembang biak semakin sempit. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti