RADAR BOGOR – Tim Dosen Pulang Kampung IPB University menginisiasi penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Cluster Linggabuana, Pakuan Regency, Kelurahan Margajaya, Kota Bogor.
Melalui program tersebut, sampah organik rumah tangga didorong untuk tidak hanya berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah kembali menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi kegiatan urban farming.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program bertajuk “Integrasi Pengelolaan Sampah dan Urban Farming untuk Penguatan Resiliensi Keluarga di Kelurahan Margajaya, Bogor” yang dirancang berlangsung selama kurang lebih lima bulan.
Sebagai langkah awal, warga diperkenalkan secara langsung pada sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui kegiatan studi banding ke School of Waste Management (SWAM) di Kampung Gardu Dalam, Kelurahan Margajaya, pada Rabu, 2 September 2026.
Kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai unsur masyarakat dari Cluster Linggabuana. Peserta yang terlibat antara lain perwakilan Posyandu sebagai mitra program, petugas kebersihan, penanggung jawab bidang kebersihan, Ketua RW 07, pengurus Masjid Raudhatul Jannah, serta sejumlah tokoh masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai perjalanan pengembangan SWAM dan sistem pengelolaan sampah yang diterapkan di lingkungan tersebut. Mereka juga mengamati secara langsung tahapan pemilahan sampah yang dimulai dari rumah tangga hingga proses pengelolaan di tingkat komunitas.
Pemilahan sejak dari sumber menjadi salah satu unsur utama dalam sistem pengelolaan tersebut. Sampah yang telah dipisahkan berdasarkan jenisnya dinilai lebih mudah untuk ditangani, sementara sejumlah material masih dapat dimanfaatkan kembali.
Prof. Arief Sabdo Yuwono selaku pendiri SWAM menjelaskan bahwa peserta juga diperkenalkan pada pengolahan sampah dapur menggunakan metode pengomposan aerob. Dalam proses tersebut, larva Black Soldier Fly (BSF) dimanfaatkan untuk membantu proses biodegradasi material organik.
“Peserta juga mempelajari pengolahan sampah dapur melalui sistem pengomposan aerob dengan dukungan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai agen biodegradasi,” ujar Prof Arief, Kamis, 3 September 2026.
Berdasarkan pemaparan dalam kegiatan tersebut, proses penguraian dapat berlangsung sekitar dua bulan setelah pemasukan sampah terakhir. Sistem pengolahan yang digunakan memanfaatkan bak berbahan hebel dengan lubang-lubang aerasi untuk mendukung sirkulasi udara selama proses penguraian sekaligus membantu mengurangi timbulnya bau.
Setiap unit bak pengolahan memiliki kapasitas efektif sekitar 1,4 meter kubik. Model tersebut kemudian menjadi salah satu referensi yang akan dipertimbangkan oleh Tim Dosen Pulang Kampung IPB University untuk diterapkan dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah di Cluster Linggabuana.
Melalui pendekatan tersebut, sampah organik rumah tangga, terutama sisa bahan makanan dan sampah dapur, diarahkan untuk diolah menjadi media tanam. Produk hasil pengolahan nantinya diharapkan dapat digunakan warga dalam mengembangkan kegiatan pertanian perkotaan di lingkungan permukiman.
Program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan sistem pengolahan, tetapi juga menempatkan partisipasi masyarakat sebagai bagian penting dalam keberhasilannya. Warga didorong untuk membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah serta berpartisipasi dalam pengelolaan bersama pengurus lingkungan dan petugas kebersihan.
Dengan pola tersebut, sebagian sampah rumah tangga diharapkan dapat dialihkan dari alur pembuangan menjadi sumber daya yang memiliki manfaat produktif bagi masyarakat. Pendekatan ini juga membuka peluang bagi warga untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan kegiatan urban farming secara berkelanjutan.
Tim Dosen Pulang Kampung IPB University dalam program tersebut dipimpin oleh Prof. Lailan Syaufina. Tim ini juga melibatkan Prof. Arief Sabdo Yuwono, Prof. Illah Sailah, Prof. A. Faroby Falatehan, serta Iis Purnamawati.
Kunjungan dan studi banding ke SWAM menjadi tahapan awal sebelum program dilanjutkan ke proses penerapan sistem serta pendampingan masyarakat di Cluster Linggabuana.
Melalui program tersebut, pengelolaan sampah rumah tangga diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah sehingga mampu membantu mengurangi volume limbah yang dibuang.
Pada saat yang sama, hasil pengolahan sampah organik diharapkan dapat memberikan nilai manfaat tambahan dengan mendukung pengembangan urban farming dan memperkuat ketahanan keluarga di Kelurahan Margajaya.(uma)
Editor : Eka Rahmawati