Penandatanganan MoU dilakukan di Jalan Nyi Raja Permas atau di dekat Pintu Timur Stasiun Bogor, Senin, 7 September 2026 siang.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan revitalisasi Stasiun Bogor mengacu pada tiga konsep utama, pertama yaitu mengembalikan identitas stasiun.
Stasiun Bogor disebut Bobby punya nilai historis yang cukup kuat. Akses naik turun kereta sudah dibangun sejak tahun 1881 silam.
“Jadi Inilah yang akan jadi muka Stasiun Bogor (Kawasan Nyi Raja Permas) muka stasiun baru itu nanti ada di belakang ini,” jelas Bobby pada awak media.
Baca Juga: 12 Perjalanan KRL Bogor Dibatalkan, Ini Penjelasan Dirut KAI
Konsep berikutnya yakni meningkatkan konektivitas, saat ini terdapat dua stasiun yang saling berdekatan, yaitu Stasiun Bogor dan Bogor Paledang.
“Nanti akan ada seamless integration (Penggabungan) Sekarang kan seolah-olah ada dua stasiun antara Stasiun Bogor dan Stasiun Bogor Paledang,” ucapnya.
Berikutnya konektivitas antara moda transporrasu juga akan ditingkatkan. PT KAI berencana menjadikan Stasiun Bogor menjadi pusat antarmoda.
“Di situ ada trans pakuan, ada biskita, ada angkutan daring, bahkan diskusi dengan Pak Wali juga bagaimana menghadirkan konsepnya LRT perkotaan,” terangnya.
Konsep revitalisasi yang ketiga yakni Spasialitas, di Stasiun Bogor ke depan tidak hanya menyiapkan ruang-ruang terbuka, tetapi juga jadi pusat perekonomian.
“Ada ruang-ruang berusaha atau ruangan ekonomi untuk yang kita kenal dengan Transit Oriented Development atau TOD,” ujar Bobby.
Konsep-konsep tersebut bakal direalisasikan dalam tiga tahap, pertama akan dimulai dari area dalam Stasiun Bogor itu sendiri.
Bobby menyebut revitalisasi tahap pertama sudah dimulai melalui perpanjangan peron 6 hingga 8 yang kini juga sudah dilengkapi dengan kanopi.
“Saat ini bisa menampung kapasitas angkut 30 persen harian dari yang sebelumnya. Sekaeang kita lagi kerjakan kanopi di peron 4 dan 5,” ujar Bobby.
Penambahan kanopi itu merupakan tindak lanjt dari dua penumpang yang kerap kali kehujanan atau kepanasan saat menunggu KRL tiba.
“Berikutnya lagi, level crossing yang ada di dalam stasiun. Nanti akan kita naikkan, kita pasang tambahan eskalator sama lift untuk perlintasan yang ada di selatan,” ungkapnya.
Fasilitas itu akan menunjang perpindahan penunpang dari peron satu ke peron 6 hingga 8, sehingga ke depan aksesnya bisa melalui atas.
“Berikutnya di awal tahun depan kita akan tata ini dan tata sebelah selatannya untuk menjadi tingkat antarmoda bagi angkutan Kota Bogor sendiri,” terang Bobby.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menyambut baik semua rencana tersebut, baginya ini senafas dengan rencana penataan yang akan ia lakukan.
Pemerintah Kota Bogor memang tengah menyiapkan penataan Jalan Nyi Raja Permas, MA Salmun dan Jalan Kapten Muslihat.
“Ternyata, PT KAI pun sudah memiliki konsep dan juga rencana untuk revitalisasi Stasiun Bogor, kami menyambut baik, menyambut gembira,” kata Dedie.
Ke depan Pemkot Bogor bakal mensingkronkan konsep penataan yang ia sudah rencanakan, dengan yang sudah disiapkan oleh PT KAI.
“Ya tinggal kami mensinkronkan dengan apa yang sudah kami rencanakan dan apa yang sudah teman-teman PT KAI akan laksanakan,” pungkasnya. (bay)
Editor : Eka Rahmawati