RADAR BOGOR – Dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai berpengaruh terhadap kesehatan warga Kota Bogor.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mencatat kenaikan kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan konjungtivitis atau iritasi mata pasca adanya sebaran abu vulkanik.
Data tersebut berasal dari hasil surveilans harian di 25 puskesmas se-Kota Bogor. Dinkes membandingkan data pada 31 Agustus dan 7 September 2026.
Kepala Dinkes Kota Bogor Erna Nuraena mengatakan, total kasus dari enam indikator kesehatan terkait dampak abu vulkanik justru turun dari 1.849 kasus menjadi 1.669 kasus.
Enam indikator tersebut meliputi ISPA, pneumonia, PPOK, asma, konjungtivitis, dan dermatitis.
Namun, dua indikator yang relevan dengan pajanan abu vulkanik mengalami kenaikan.
Baca Juga: Lawan Arah hingga Naik Trotoar, Ojol di Kota Bogor Bakal Kena Suspend
Kasus PPOK meningkat dari 24 menjadi 31 kasus, sedangkan konjungtivitis naik dari 30 menjadi 36 kasus.
“Kenaikan itu terkonsentrasi di beberapa wilayah kerja puskesmas, seperti Pulo Armyn, Mekarwangi, dan Gang Kelor,” kata Erna.
Dinkes kemudian meningkatkan intensitas surveilans di wilayah tersebut. Ketersediaan obat dan alat pelindung diri (APD) di seluruh puskesmas juga dipastikan, disertai edukasi dan komunikasi risiko kepada masyarakat.
Di sisi lain, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mendistribusikan 190.150 masker medis kepada masyarakat.
Masker disalurkan melalui kantor kecamatan, kelurahan, puskesmas hingga posyandu.
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin mengatakan distribusi masker harus tepat sasaran.
Kelompok yang menjadi prioritas antara lain lansia, pekerja lapangan, serta warga yang rentan atau memiliki riwayat penyakit saluran pernapasan.
“Yang sudah jelas itu lansia, pekerja di lapangan, dan warga yang rentan atau memiliki riwayat penyakit saluran pernapasan. Sehingga harus langsung menyentuh masyarakat tersebut,” kata Jenal usai memimpin rapat teknis distribusi masker di Balai Kota Bogor, Senin 7 September 2026.
Pemkot juga mengimbau warga mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak. Warga yang harus beraktivitas di luar diminta menggunakan masker dan pelindung mata.
Selain distribusi masker, Pemkot Bogor melakukan penyemprotan menggunakan metode water mist untuk mengurangi sebaran abu di sejumlah ruas jalan dan fasilitas publik.
Baca Juga: 15 Jam Kebakaran TPAS Galuga Bogor Belum Padam, Lanud ATS Kerahkan Helikopter Water Bombing
Penanganan tersebut dilakukan BPBD bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta melibatkan unsur TNI dan Polri.
Pemkot juga memantau kualitas udara dan berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup melalui Air Quality Monitoring System (AQMS).
Sebelumnya, Pemkot berkoordinasi dengan IPB University untuk memantau kualitas udara Kota Bogor.
Masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan, mata merah atau perih, maupun iritasi kulit. Untuk kondisi gawat darurat, warga dapat menghubungi layanan 119. (uma)
Editor : Yosep Awaludin