Pasca Diselimuti Debu Abu Vulkanik, Kualitas Udara di Kota Bogor Mulai Membaik

Muhamad Rifki Fauzan • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 10:08 WIB
Ilustrasi lingkungan dan kualitas udara di Kota Bogor. (Foto : Fauzan/Radar Bogor)
Ilustrasi lingkungan dan kualitas udara di Kota Bogor. (Foto : Fauzan/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Kualitas udara di Kota Bogor kini berangsur membaik, pasca diselimuti debu abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rudi Mashudi mengatakan Particulate Mater (PM) udara di Kota Bogor saat ini berada di angka 28.

“Ini pemantauan tadi sekira pukul 07.00 WIB di angka 28 dan masuk kategori baik,” ungkap Rudi dikonfirmasi Radar Bogor, Selasa 9 September 2026 pagi.

Pemantauan tersebut menggunakan alat Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) milik Kementerian Lingkungan Hidup (Kemen LH).

Meski begitu Rudi mengimbau kepada masyarakat, khsusunya kelompok rentan untuk mengurangi berbagai aktivitas di luar ruangan.

“Terutama pada sore hari pukul 16.00 hingga 18.00 saat konsentrasi PM2.5 tinggi, serta menggunakan masker jika harus keluar rumah,” ungkap.

Baca Juga: Kebakaran TPAS Galuga Bogor Berhasil Dikendalikan, 5 Hektare Area Luar TPA Terbakar

Warga juga diminta untuk rutin membuka jendela pada pukul 05.00 hingga 07.00 WIB. Direntan waktu tersebut sirkulasi udara jauh lebih.

“Karena kadar polutab lebih rendah, kemudian kurangi penggunaan kendaraan pribadi, hindari pembakaran sampah dan jaga kebersihan lingkungan,” ucapnya.

Sebelumnya udara di Kota Bogor sempat berada diangka 83 dan masuk dalam kategori sedang. Kondisi itu terjadi pada Minggu 6 September 2026.

Saat itu, debu abu vulkanik hampir menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Bogor.  Tidak sedikit warga yang mengeluh karena terganggu penglihatannya.

Pemkot Bogor sendiri sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan resiko tersebut. Salah satunya dengan menyemprot fasilitas publik.

Penyemprotan sudah dilakukan sejak Minggu 6 September 2026 malam. Beberapa titik yang disasar yakni ruas jalan protokol, tumbuhan hingga fasilitas publik lainnya.

“Penyemprotan jalan-jalan protokol, fasilitas publik, trotoar-trotoar, dan tanaman yang ada di Kota Bogor dengan kapasitas kendaraan yang kami miliki,” ujar Jenal.

Penyemprotan sengaja dilakukan saat malam hari, sebab setelah tahapan itu dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) baru bisa membersihkan partikel debunya.

“Jadi butuh treatment yang membuat basah udara itu atau si debu itu menjadi mengendap dan tidak tersebar, maka ada mekanisme secara teknisnya,” ujar Jenal.

Langkah serupa juga dilakukan di tiap-tiap sekolah. Petugas kebersihan ditugaskan untuk menyemprot seluruh ruangan yang ada.

Baca Juga: Mau Upgrade Suspensi Motor Matic? Ini 10 Pilihan Shockbreaker dan Harganya

“Metodenya disemprot dengan air, disiram dengan air, atau menggunakan lap basah juga bisa ya. Yang pasti tidak disapu karena debunya pasti akan berterbangan,” ucap Jenal.

Jenal mengimbau kepada seluruh warga Kota Bogor untuk tidak panik menyikapi situasi saat ini. Namun ia meminta agar meningkatkan kewaspadaan.

Warga diharap unruk tidak banyak melakukan aktivitas di luar ruangan. Pihaknya pun kini, memberlakukan PJJ untuk sekolah di semua jenjang pendidikan

“Dimulai dari PAUD, TK, SD, MA, SMP MTS sampai PKBM, sementara itu PJJ berlangsung selama dua hari mengikuti edaran Gubernur,” pungkasnya. (bay)

Editor : Yosep Awaludin
kota bogor abu vulkanik kualitas udara