RADAR BOGOR - Persoalan sampah di kawasan permukiman, sering kali bermula dari hal sederhana yakni sampah rumah tangga yang langsung dibuang tanpa dipilah.
Namun, kondisi tersebut justru mendorong warga RW 09 Taman Yasmin Sektor 6, Kota Bogor, untuk mencari cara berbeda dalam mengelola lingkungan di sekitar mereka.
Dari kepedulian itu lahir YES atau Yasmin Eco Sirkular, sebuah inovasi sosial yang digagas Richard Napitupulu, Abdurrahman, dan Budi Widodo bersama masyarakat setempat.
YES bukan sekadar program pengelolaan sampah.
Baca Juga: Pemerintah Naikkan Tukin bagi Guru 3T hingga Finalisasi Pengangkatan PPPK Paruh Waktu
Warga membangun sebuah sistem yang menghubungkan pengolahan sampah, penghijauan, edukasi lingkungan, hingga pengembangan habitat lebah trigona dalam satu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan.
Berawal dari Sampah Rumah Tangga
Gagasan tersebut, tumbuh dari persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Volume sampah rumah tangga yang menuju Tempat Penampungan Sementara (TPS) terus menjadi perhatian, sementara kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah belum berjalan secara optimal.
Di sisi lain, sejumlah kegiatan lingkungan sebenarnya sudah dilakukan warga.
Tantangannya, bagaimana berbagai kegiatan tersebut dapat berjalan lebih terarah dan saling mendukung.
Warga kemudian, memilih pendekatan sederhana dengan memanfaatkan fasilitas dan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka.
Untuk sampah organik, misalnya, warga mengembangkan sejumlah metode pengolahan seperti gentong biopori, buis komposter biopori komunal, komposter komunal, hingga pembuatan pupuk organik cair.
Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna, perlahan diubah menjadi sesuatu yang dapat kembali dimanfaatkan untuk lingkungan.
Sampah Organik hingga Bank Sampah
Pengelolaan kemudian diperluas ke sampah non-organik.
Warga membentuk Bank Sampah Unit (BSU) Laras yang mulai beroperasi pada Desember 2025.
Kehadiran BSU Laras, memberikan ruang bagi warga untuk memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomi sebelum disalurkan melalui mekanisme bank sampah.
Baca Juga: Mitsubishi Pajero 2026 Terbaru Muncul, SUV Legendaris Kembali dengan Gaya Makin Gagah
Perkembangannya cukup terlihat.
Hingga Juni 2026, BSU Laras tercatat memiliki 57 nasabah aktif yang berasal dari sejumlah RT di lingkungan RW 09.
Dalam periode tersebut, sekitar 2,5 ton sampah telah berhasil dipilah.
Artinya, sampah yang berpotensi menambah beban TPS dapat dialihkan untuk dikelola kembali.
Angka tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan dapat dimulai dari lingkungan terkecil, ketika warga memiliki sistem yang mudah diikuti.
Penghijauan Terhubung dengan Lebah Trigona
YES kemudian berkembang lebih jauh. Pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pemilahan dan pengolahan.
Kompos serta pupuk organik yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung penghijauan di lingkungan dan tanaman milik warga.
Dari sinilah terbentuk hubungan antara pengelolaan sampah dengan upaya memperbaiki kualitas lingkungan.
Penghijauan yang semakin berkembang juga membuka peluang bagi pengembangan habitat lebah trigona.
Lebah tersebut memiliki peran sebagai penyerbuk alami.
Keberadaannya turut mendukung keanekaragaman hayati sekaligus melengkapi ekosistem lingkungan yang sedang dibangun warga.
Dengan demikian, setiap kegiatan tidak berdiri sendiri.
Sampah organik menghasilkan kompos dan pupuk, hasilnya digunakan untuk penghijauan, sementara lingkungan yang semakin hijau mendukung habitat lebah trigona.
Gotong Royong Jadi Kekuatan Utama
Hal yang membuat YES menarik bukan hanya fasilitas pengolahan sampah yang dimiliki, tetapi cara warga mengembangkan inovasi tersebut.
Program ini tumbuh melalui partisipasi masyarakat dan kolaborasi lintas RT.
Edukasi juga menjadi bagian penting agar pengelolaan lingkungan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.
Pendekatan tersebut membuat YES dapat dikembangkan secara bertahap tanpa membutuhkan biaya besar.
Warga memanfaatkan apa yang sudah tersedia dan menyesuaikannya dengan kebutuhan lingkungan.
Baca Juga: Aturan Baru TKG Khusus Wilayah 3T, Penyebab Tunjangan Hilang dan Skema ASN
Hingga Juni 2026, selain BSU Laras, telah tersedia berbagai fasilitas pengolahan sampah organik, kegiatan edukasi bagi warga, serta koloni trigona yang terus dikembangkan.
Bukan Sekadar Mengurangi Sampah
YES pada akhirnya menawarkan cara pandang yang berbeda terhadap persoalan lingkungan.
Sampah tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai bagian dari sebuah siklus yang masih dapat dimanfaatkan.
Sampah organik kembali ke tanah melalui kompos dan pupuk, sedangkan sampah non-organik dipilah agar memiliki nilai ekonomi.
Di saat yang sama, penghijauan dan keberadaan lebah trigona memberikan manfaat ekologis bagi kawasan permukiman.
Model inilah yang menjadi kekuatan Yasmin Eco Sirkular.
Inovasi yang dibangun warga RW 09 Taman Yasmin tidak hanya berorientasi pada kebersihan, tetapi juga menciptakan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan secara bersamaan.
Lebih dari itu, YES menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari program besar.
Dari lingkungan tempat tinggal, kebiasaan memilah sampah, mengolah limbah organik, menanam tanaman, hingga menjaga ekosistem penyerbuk dapat disatukan menjadi sebuah gerakan bersama.
Baca Juga: Perkuat Ekonomi Umat, LAZ Rabbani Ajarkan 10 Penerima Manfaat di Tenjolaya Menyusun Business Plan
Dengan konsep yang sederhana, biaya relatif rendah, dan mengandalkan gotong royong, YES memiliki peluang untuk diterapkan di kawasan permukiman lain, baik di Kota Bogor maupun daerah lainnya.
Pada akhirnya, perjalanan YES di Taman Yasmin memperlihatkan satu hal penting yakni ketika warga mau bergerak bersama, persoalan sampah yang selama ini dianggap sebagai beban justru bisa menjadi awal terciptanya lingkungan yang lebih hijau dan bernilai. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti