BIOFILTERA, Filter Udara Buatan Siswa Bogor Berbahan Limbah

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 07:45 WIB
Inovasi filter udara ciptaan siswa SMA Negeri 2 Kota Bogor berbahan limbah bernama BIOFILTERA.
Inovasi filter udara ciptaan siswa SMA Negeri 2 Kota Bogor berbahan limbah bernama BIOFILTERA.

RADAR BOGOR - Udara yang terlihat bersih, belum tentu benar-benar bebas dari pencemar. 

Terlebih di dalam ruangan yang menggunakan pendingin udara, sirkulasi yang terbatas dapat membuat partikel seperti PM2.5 dan PM10 lebih mudah terakumulasi.

Kondisi tersebut mendorong Muhammad Irash Rausyan, siswa SMA Negeri 2 Kota Bogor, mengembangkan BIOFILTERA atau Biodegradable Integrated Organic Filter for Portable Air Cooler.

Baca Juga: Kr4batKompos SMKN 4 Bogor, Mesin IoT Ubah Sisa MBG Jadi Kompos

Inovasi ini menawarkan, konsep berbeda dalam penyaringan udara. 

Bukan hanya mengandalkan material sintetis seperti filter konvensional, BIOFILTERA memanfaatkan biomassa yang mudah ditemukan di sekitar, yakni pelepah pisang dan tempurung kelapa.

Pelepah Pisang dan Tempurung Kelapa Jadi Filter

Gagasan BIOFILTERA berangkat dari dua persoalan sekaligus, yakni kualitas udara dalam ruangan dan pemanfaatan limbah biomassa.

Pelepah pisang diolah menjadi sumber selulosa sebagai salah satu material media filtrasi. 

Sementara itu, tempurung kelapa dimanfaatkan untuk menghasilkan karbon aktif yang kemudian dipadukan dalam sistem penyaringan.

Pemilihan kedua bahan tersebut membuat BIOFILTERA tidak hanya diarahkan untuk membantu meningkatkan kualitas udara, tetapi juga menjadi alternatif pemanfaatan limbah biomassa lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Konsep tersebut kemudian dipadukan dengan teknologi Internet of Things (IoT) sehingga pengguna tidak hanya mendapatkan fungsi penyaringan, tetapi juga dapat mengetahui kondisi udara secara langsung.

Kualitas Udara Bisa Dipantau Lewat Internet

Di balik BIOFILTERA terdapat sejumlah sensor yang bekerja untuk membaca kondisi lingkungan. 

Sistem ini menggunakan SDS011, MQ-135, DHT11, dan ESP32 sebagai bagian dari perangkat pemantauan.

Sensor-sensor tersebut digunakan untuk mengukur sejumlah parameter, termasuk konsentrasi PM2.5 dan PM10, suhu, serta kelembapan udara.

Baca Juga: 4 Bantuan Sosial Cair Minggu Ini: PKH, BPNT, PIP, dan Bantuan Pangan Beras

Data yang dikumpulkan kemudian ditampilkan melalui aplikasi berbasis web. 

Dengan begitu, pengguna dapat melihat perubahan kualitas udara secara real-time tanpa harus melakukan pengukuran secara manual.

Teknologi tersebut, menjadi salah satu daya tarik BIOFILTERA karena fungsi filter dan sistem pemantauan kualitas udara berjalan dalam satu inovasi.

AQI Turun dari 103 Menjadi 50

Pengujian BIOFILTERA dilakukan sebanyak tiga kali dengan membandingkan kondisi udara sebelum dan sesudah menggunakan filter.

Hasil pengujian menunjukkan adanya penurunan sejumlah parameter kualitas udara. 

Nilai Air Quality Index (AQI) yang sebelumnya berada di angka 103 turun menjadi 50. 

Berdasarkan perhitungan pengembangan, penurunan tersebut memiliki efektivitas sebesar 51,5 persen.

Perubahan juga terlihat pada konsentrasi PM2.5. 

Sebelum menggunakan BIOFILTERA, konsentrasinya tercatat sebesar 49,1 µg/m³. 

Setelah melewati proses filtrasi, angka tersebut turun menjadi 22,2 µg/m³, dengan efektivitas filtrasi sebesar 54,8 persen.

Baca Juga: Kawasaki KLX 150 XPL Explorer, Motor Karbu Bergaya Rally di Tengah Gempuran Motor Injeksi dan Listri

Sementara itu, konsentrasi PM10 berkurang dari 56,7 µg/m³ menjadi 35,2 µg/m³. 

Penurunan tersebut menghasilkan efektivitas sebesar 37,9 persen.

Angka-angka tersebut, menjadi gambaran awal bahwa kombinasi material biomassa dengan sistem filtrasi yang dikembangkan memiliki potensi untuk membantu memperbaiki kualitas udara dalam ruangan.

Dari Limbah Menjadi Teknologi Berkelanjutan

Bagi Muhammad Irash Rausyan, BIOFILTERA bukan sekadar perangkat penyaring udara. 

Inovasi ini membawa gagasan bahwa material yang selama ini dianggap limbah masih dapat memiliki nilai guna ketika dipadukan dengan teknologi yang tepat.

Pemanfaatan pelepah pisang dan tempurung kelapa juga membuka peluang penerapan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengolah kembali sumber daya yang tersedia agar memiliki manfaat baru dan tidak langsung berakhir sebagai limbah.

Ditambah dengan sistem IoT, BIOFILTERA memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi perangkat pemantauan kualitas udara yang lebih praktis dan terjangkau.

Inovasi dari SMA Negeri 2 Kota Bogor tersebut pun sejalan dengan kebutuhan akan teknologi berkelanjutan. 

Selain berpotensi membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan, BIOFILTERA dapat mendorong pemanfaatan biomassa lokal sekaligus memperkenalkan penerapan teknologi pintar di lingkungan masyarakat.

Baca Juga: Resep Ayam Asam Manis, Krispi di Luar Lembut di Dalam ala Restoran Chinese Food

Pada akhirnya, inovasi ini memperlihatkan, solusi untuk persoalan lingkungan tidak selalu harus datang dari teknologi yang rumit. 

Dari pelepah pisang dan tempurung kelapa yang sederhana, sebuah sistem penyaring udara dapat dikembangkan dan dipadukan dengan teknologi IoT untuk menjawab kebutuhan masa kini. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
BIOFILTERA SMA Negeri 2 bogor