Bukan Dibuang, Minyak Jelantah Diubah Siswa SMK-SMAK Bogor Jadi Sabun Kertas

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 09:10 WIB
Proses pembuatan Green Travel Paper Soap ciptaan siswa SMK-SMAK Bogor.
Proses pembuatan Green Travel Paper Soap ciptaan siswa SMK-SMAK Bogor.

RADAR BOGOR - Minyak goreng bekas biasanya berakhir sebagai limbah yang dibuang begitu saja.

Namun, di tangan Najma Sakyatunida, limbah tersebut justru diolah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.

Siswa dari SMK-SMAK Bogor itu, menghadirkan inovasi bernama Green Travel Paper Soap (GTPS), sabun kertas praktis yang memanfaatkan minyak jelantah dan limbah organik sebagai bahan utama.

Ide tersebut muncul dari persoalan limbah rumah tangga yang hingga kini masih menjadi tantangan lingkungan.

Baca Juga: Resep Ayam Goreng Bawang Putih Tanpa Ungkep, Krispi dan Juicy dengan Nasi Daun Jeruk

Minyak goreng bekas yang dibuang ke saluran air dapat mencemari lingkungan, sementara limbah makanan seperti daun kemangi dan kulit jeruk juga belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal.

Melalui GTPS, berbagai jenis limbah tersebut coba diubah menjadi produk yang lebih berguna sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Minyak Jelantah Disulap Jadi Sabun Travel

Minyak goreng bekas, ternyata masih memiliki kandungan asam lemak yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sabun.

Pemanfaatan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan GTPS.

Alih-alih dibuang, minyak jelantah diolah menjadi sabun dalam bentuk lembaran tipis yang praktis dibawa ke mana saja.

Konsep paper soap dipilih karena memiliki bentuk yang ringan, tidak memakan banyak tempat, serta mudah digunakan saat bepergian.

Pengguna cukup membawa beberapa lembar sabun tanpa harus membawa botol atau wadah sabun berukuran besar.

Bentuk tersebut juga membuat GTPS relevan dengan kebutuhan wisatawan atau orang yang memiliki mobilitas tinggi.

Bukan hanya praktis, penggunaan sabun dalam bentuk lembaran sekali pakai juga menawarkan aspek kebersihan karena setiap lembar dapat digunakan secara individual.

Daun Kemangi dan Kulit Jeruk Ikut Dimanfaatkan

Inovasi Najma tidak berhenti pada pemanfaatan minyak jelantah.

GTPS juga memanfaatkan limbah organik seperti daun kemangi dan kulit jeruk.

Baca Juga: FFKB 2026 Bidik Bogor Jadi Kota Film dari Cerita Sederhana

Kedua bahan tersebut dipilih karena memiliki kandungan alami yang berpotensi mendukung fungsi sabun.

Daun kemangi diketahui mengandung flavonoid, saponin, dan minyak atsiri yang memiliki aktivitas antibakteri.

Sementara itu, kulit jeruk mengandung limonene dan senyawa fenolik yang dikenal memiliki sifat antimikroba.

Kandungan tersebut sekaligus memberikan karakter tersendiri pada produk, mulai dari potensi fungsi perawatan hingga aroma alami yang menyegarkan.

Pemanfaatan bahan-bahan tersebut membuat GTPS tidak sekadar menjadi produk kebersihan, tetapi juga membawa konsep pemanfaatan kembali bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.

Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai Jual

Di balik pengembangan Green Travel Paper Soap, terdapat gagasan yang lebih besar, yakni bagaimana limbah rumah tangga dapat masuk kembali ke dalam siklus pemanfaatan.

Minyak jelantah dan limbah organik yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan diolah menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi.

Baca Juga: BTS Tutup Tur ARIRANG di Amerika Utara, 31 Konser Ditonton 1,92 Juta Penggemar

Konsep ini sejalan dengan prinsip circular economy dan zero waste, yaitu mengurangi pembuangan limbah sekaligus mencari cara agar material yang masih memiliki potensi dapat dimanfaatkan kembali.

Bagi Najma, pendekatan tersebut juga membuka peluang menghadirkan produk yang ekonomis, praktis, ramah lingkungan, dan dapat terurai secara alami.

Menjawab Kebutuhan Traveler Sekaligus Peduli Lingkungan

Keunggulan GTPS terletak pada perpaduan antara fungsi, kepraktisan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Sabun berbentuk kertas membuat produk mudah dimasukkan ke dalam tas ketika bepergian.

Sementara pemanfaatan minyak jelantah serta limbah organik memberikan nilai tambah pada bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Inovasi tersebut menunjukkan, persoalan lingkungan tidak selalu harus dijawab dengan solusi yang rumit. Dari bahan yang sering dianggap tidak berguna, dapat lahir produk sederhana yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari.

Melalui Green Travel Paper Soap, Najma Sakyatunida dari SMK-SMAK Bogor mencoba menunjukkan, inovasi ramah lingkungan bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, praktis, sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
sabun Green Travel Paper Soap GTPS Najma Sakyatunida bogor