RADAR BOGOR - Berawal dari keprihatinan terhadap kebiasaan anak mengonsumsi jajanan tinggi gula, siswa SMA Nuraida Islamic Boarding School menghadirkan sebuah inovasi pangan berbahan dasar talas Bogor.
Inovasi tersebut diberi nama BOGATARO (Talas Gummy Layers), sebuah permen jeli dua lapis yang dikembangkan sebagai alternatif camilan untuk anak usia 3–5 tahun.
Alf Farrassayu Shannyn menjadi inovator dalam pengembangan BOGATARO bersama anggota tim, yakni Aisya Afnia Asfahanny, Alima Khairunnisa Subroto, Hanania Nur Hidayaty, Haura Aina Mahya, Keisya Haniefah Ramadhani, dan Zahwa Radhifa.
Berangkat dari Masalah Jajanan Anak
Gagasan BOGATARO muncul dari persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak, yakni kebiasaan mengonsumsi makanan ringan dengan kandungan gula dan kalori yang tinggi.
Baca Juga: Korban Selamat KM Virgo Terima Bantuan Rp 7 Juta, Dedi Mulyadi: Rp1 Juta Buat Beli Baju
Di sisi lain, wilayah Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, memiliki potensi talas yang melimpah.
Selama ini, pemanfaatan komoditas tersebut masih banyak dilakukan secara konvensional.
Melihat dua kondisi tersebut, tim BOGATARO mencoba mempertemukan potensi pangan lokal dengan kebutuhan camilan yang lebih sehat bagi anak.
Hasilnya adalah permen jeli dengan konsep double-layer atau dua lapisan.
Produk ini, dirancang menggunakan bahan-bahan yang berasal dari sumber pangan nabati dan tidak memakai pewarna maupun pemanis sintetik.
Dua Lapisan dengan Bahan Pangan Lokal
Lapisan pertama BOGATARO dibuat dari sari pati talas yang dipadukan dengan gula singkong cair.
Komposisi tersebut menjadi dasar jeli dengan tekstur kenyal sekaligus memberikan kandungan karbohidrat kompleks dan serat pangan.
Sementara lapisan keduanya menggunakan susu kedelai.
Baca Juga: Jalan Raya Cilebut Masih Menggantung Usai Longsor, DPRD Bogor Minta Segera Ditangani
Selain menambah kandungan protein nabati, lapisan ini memberikan tampilan dua warna yang diharapkan mampu menarik perhatian anak.
Konsep tersebut membuat BOGATARO tidak hanya mengutamakan tampilan, tetapi juga mencoba menghadirkan nilai gizi melalui pemanfaatan bahan pangan lokal.
Tim pengembang juga merancang produk ini tanpa kandungan laktosa dan gluten sehingga dapat menjadi salah satu pilihan camilan berbasis nabati.
Talas Bogor Tak Sekadar Jadi Jajanan
Keunggulan lain yang ditawarkan BOGATARO terletak pada upaya menghubungkan inovasi pangan dengan potensi ekonomi masyarakat setempat.
Tim berencana membangun kemitraan dengan kelompok tani talas di Kecamatan Tamansari.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi petani lokal.
Tidak berhenti di sisi produksi, BOGATARO juga dirancang untuk menjangkau masyarakat melalui kolaborasi dengan Puskesmas dan kader Posyandu di Kota Bogor.
Melalui jalur tersebut, produk tidak hanya diperkenalkan sebagai camilan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari edukasi mengenai pilihan makanan dan gizi bagi orang tua.
Membawa Talas Lokal ke Inovasi Pangan Modern
BOGATARO menunjukkan, bagaimana bahan pangan yang selama ini identik dengan olahan tradisional dapat dikembangkan menjadi produk dengan bentuk yang lebih dekat dengan selera anak-anak.
Dengan menggabungkan talas Bogor, susu kedelai, serta konsep permen jeli dua lapis, inovasi karya siswa SMA Nuraida Islamic Boarding School ini mencoba menghadirkan alternatif camilan yang memanfaatkan kekayaan pangan lokal.
Baca Juga: 416 Mahasiswa IUQI Bogor Diwisuda, Meningkat dari Tahun Sebelumnya
Bagi tim pengembang, BOGATARO bukan sekadar produk makanan.
Inovasi ini juga membawa gagasan tentang pemanfaatan komoditas lokal, edukasi gizi, dan pemberdayaan petani dalam satu konsep pangan yang berkelanjutan. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti