Siswa SMA Dian Harapan Bogor Ubah Kulit Bawang Jadi Bahan Fashion

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 10:24 WIB
Bio-leather setelah 4 hari di ruangan.
Bio-leather setelah 4 hari di ruangan.

RADAR BOGOR - Siapa sangka, kulit bawang merah yang biasanya berakhir di tempat sampah bisa disulap menjadi material untuk produk fashion? 

Gagasan tersebut diwujudkan melalui Allium-Leather, inovasi bio-leather ramah lingkungan karya siswa SMA Dian Harapan Bogor.

Inovasi ini, dikembangkan oleh Azkia Dahliantin Nugraha dan Zelda Evaprathya Pradana sebagai upaya mencari alternatif material kulit yang lebih ramah lingkungan sekaligus memanfaatkan limbah organik yang banyak ditemukan di Kota Bogor.

Baca Juga: Restorasi Suzuki Satria FU Bergaya Semi-CBU Thailand, Motor Ayam Jago Legendaris Era 2000-an

Kulit bawang merah yang selama ini dianggap tidak bernilai, dimanfaatkan sebagai bahan utama untuk menghasilkan lembaran material menyerupai kulit. 

Material tersebut, nantinya ditargetkan dapat digunakan untuk berbagai produk fashion, seperti tas dan dompet.

Berawal dari Limbah yang Kerap Terbuang

Ide Allium-Leather berangkat dari dua persoalan lingkungan yang saling berkaitan. 

Di satu sisi, industri fashion masih banyak menggunakan material kulit sintetis berbahan PVC dan PU yang sulit terurai.

Di sisi lain, limbah kulit bawang merah dari pasar tradisional maupun sejumlah usaha kuliner di Kota Bogor terus bertambah dan belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal.

Melihat kondisi tersebut, Azkia dan Zelda mencoba mengubah limbah tersebut menjadi material baru yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Kulit bawang merah dipilih bukan tanpa alasan. 

Bahan tersebut memiliki kandungan serat selulosa dan lignin yang dinilai dapat membantu membentuk material dengan karakter kuat. 

Kandungan senyawa alami seperti quercetin, polifenol, dan flavonoid juga menjadi bagian dari potensi bahan tersebut.

Warna Alami Tanpa Pewarna Sintetis

Salah satu hal yang menarik dari Allium-Leather adalah tampilan materialnya. 

Warna kecokelatan hingga kemerahan yang berasal dari kulit bawang merah memberikan karakter visual alami.

Dengan memanfaatkan pigmen bawaan tersebut, proses pembuatan material tidak bergantung pada tambahan pewarna sintetis.

Baca Juga: Korban Selamat KM Virgo Terima Bantuan Rp 7 Juta, Dedi Mulyadi: Rp1 Juta Buat Beli Baju

Dalam proses pengembangannya, kulit bawang merah terlebih dahulu melalui tahapan pengolahan dan ekstraksi. 

Serat yang diperoleh kemudian diformulasikan bersama gelatin sebagai bahan pengikat alami.

Campuran tersebut juga menggunakan gliserin sebagai pelembut dan cuka sebagai bagian dari bahan pengawet alami. 

Setelah formulasi terbentuk, material dicetak dan dikeringkan hingga menghasilkan lembaran bio-leather.

Dibuat untuk Fashion yang Lebih Berkelanjutan

Allium-Leather dirancang sebagai material yang dapat terurai secara hayati atau biodegradable. 

Konsep tersebut menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan bahan alternatif bagi industri fashion yang lebih memperhatikan persoalan lingkungan.

Penggunaan gliserin dalam formulasi juga diarahkan untuk membantu proses penguraian material. 

Dengan demikian, material yang sudah tidak digunakan diharapkan dapat kembali terurai dan tidak meninggalkan limbah seperti material kulit sintetis konvensional.

Meski demikian, pengembangan Allium-Leather masih terus dilakukan. 

Baca Juga: Jalan Raya Cilebut Masih Menggantung Usai Longsor, DPRD Bogor Minta Segera Ditangani

Salah satu tahapan yang direncanakan adalah pengujian karakteristik fisik, termasuk kekuatan tarik dan tingkat elastisitas material.

Pengujian tersebut penting untuk mengetahui sejauh mana bio-leather berbahan kulit bawang merah dapat memenuhi kebutuhan produk fashion.

Dari Sampah Pasar Menjadi Peluang Ekonomi

Tak hanya berbicara soal lingkungan, Allium-Leather juga membawa gagasan ekonomi sirkular. 

Limbah kulit bawang merah yang sebelumnya nyaris tidak memiliki nilai ekonomi diolah menjadi material yang berpotensi memiliki nilai jual lebih tinggi.

Pengembangannya ke depan direncanakan melibatkan masyarakat melalui kegiatan workshop dan pengembangan home industry. 

Kemitraan dengan UMKM lokal juga menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan untuk memastikan ketersediaan bahan baku sekaligus membuka peluang usaha baru.

Melalui konsep tersebut, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai pengguna produk, tetapi juga berpotensi terlibat dalam rantai produksi Allium-Leather.

Membuktikan Limbah Bisa Punya Nilai Baru

Allium-Leather menjadi contoh bagaimana persoalan sampah perkotaan dapat dipertemukan dengan kreativitas dan inovasi generasi muda.

Kulit bawang merah yang selama ini identik dengan limbah dapur kini dicoba diolah menjadi material untuk tas, dompet, dan berbagai kebutuhan fashion lainnya.

Bagi Azkia dan Zelda, pengembangan bio-leather ini bukan sekadar menciptakan material alternatif. 

Lebih jauh, inovasi tersebut membawa harapan agar limbah organik di Bogor dapat memiliki kehidupan baru sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis masyarakat.

Jika terus dikembangkan dan melalui serangkaian pengujian, Allium-Leather berpotensi menjadi salah satu contoh pemanfaatan limbah lokal untuk mendukung perkembangan sustainable fashion sekaligus mendorong ekonomi sirkular di Bogor. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
bawang SMA Dian Harapan Allium Leather bogor