RADAR BOGOR - Kunjungan pasien di sejumlah rumah sakit di Kota Bogor mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi melonjaknya kunjungan pasien itu kini tengah dipantau oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor di 22 rumah sakit yang berada di wilayah ini.
Berdasarkan data Satu Sehat RME, sepanjang Agustus 2026 tercatat 131.100 kunjungan rawat jalan. Angka itu setara dengan rata-rata 4.370 pasien per hari.
Sementara pada periode 1-10 September 2026, tercatat 46.790 kunjungan rawat jalan. Jika dirata-ratakan, jumlahnya mencapai 4.679 pasien per hari.
Artinya, terjadi peningkatan rata-rata kunjungan harian sebanyak 309 pasien atau sekitar 7 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan aktivitas pelayanan juga terlihat pada layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Baca Juga: Kepala BPN Kabupaten Bogor I Jadi Tersangka KPK, Bagaimana Pelayanan di Kantornya?
Sejumlah rumah sakit mencatat peningkatan kunjungan IGD pada periode Agustus hingga September 2026.
Peningkatan tertinggi tercatat di RS Bhayangkara sebesar 73 persen. Disusul RS UMMI 65 persen, RS PMI 65 persen, RS Hermina 63 persen, dan RS Mayapada 63 persen.
Kondisi serupa terlihat dari tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR). Pada periode Juli-Agustus 2026, sejumlah rumah sakit mengalami peningkatan BOR.
Diantaranya RS Salak sebesar 21 persen, RS Hermina 11 persen, RS Pasutri 10 persen, RS Nuraida 8 persen, dan RS Melania 5 persen.
Dari sisi penyakit, peningkatan juga terlihat dalam laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) rumah sakit se-Kota Bogor.
Pada Minggu Epidemiologi ke-36, periode 6 sampai dengan 12 September 2026, ISPA menjadi kasus yang paling banyak dilaporkan.
Tercatat sebanyak 1.181 kasus ISPA pada periode tersebut. Jumlah itu meningkat dari 1.019 kasus pada Minggu Epidemiologi ke-35 atau naik sekitar 15,9 persen.
Selain ISPA, kasus pneumonia juga mengalami peningkatan. Pada periode yang sama tercatat 251 kasus, naik dari 204 kasus atau sekitar 23 persen.
Peningkatan juga terjadi pada sejumlah penyakit lainnya. Suspek demam tifoid tercatat 112 kasus, suspek dengue 144 kasus, suspek campak 39 kasus, dan sindrom jaundice akut sebanyak 15 kasus.
Kepala Dinkes Kota Bogor Erna Nuraena mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap kunjungan pasien, keterisian layanan, hingga perkembangan penyakit di rumah sakit.
Baca Juga: Simak 3 Bansos Cair Massal Minggu Ini hingga Penyaluran Bantuan untuk Usia 17 Tahun
"Pemantauan terus kami lakukan bersama seluruh rumah sakit, baik terhadap kunjungan pasien, keterisian layanan maupun perkembangan penyakit," ujar Erna.
Menurutnya, peningkatan kunjungan pasien tidak serta-merta berarti seluruh pasien harus menjalani rawat inap.
Pasien yang datang melalui IGD terlebih dahulu mendapatkan penilaian dan penanganan sesuai tingkat kegawatdaruratannya.
Pada kondisi gawat darurat, prioritas utama adalah memberikan pertolongan dan stabilisasi pasien.
Setelah dilakukan asesmen, pasien dapat diarahkan untuk rawat jalan, menjalani rawat inap, maupun dirujuk sesuai kondisi medis dan kebutuhan pelayanan.
Sementara bagi pasien yang membutuhkan layanan yang tidak tersedia di rumah sakit tersebut, proses rujukan dilakukan melalui SISRUTE atau e-SISRUTE.
Rumah sakit perujuk akan berkomunikasi dan melakukan konfirmasi dengan rumah sakit tujuan untuk memastikan pasien dapat dilayani.
Setelah itu, dilakukan tata laksana pra-rujukan dan memastikan kondisi pasien tetap stabil hingga tiba di rumah sakit tujuan.
Baca Juga: Kerak Oli di Mesin Motor Membandel? Ini Cara Membersihkannya dengan 3 Bahan Sederhana
Erna menambahkan, Dinkes bersama rumah sakit juga terus melakukan koordinasi untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan di tengah peningkatan kunjungan pasien.
"Koordinasi terus dilakukan dalam penyelenggaraan pelayanan dan sistem rujukan, agar masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kondisi medis dan kapasitas pelayanan yang tersedia," pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin