RADAR BOGOR - Tak banyak yang tahu, 18 September diperingati sebagai Hari Pemantauan Air Sedunia.
Nah, air kerap baru kita ingat ketika debitnya menyusut, sumur mulai mengering, atau keran tak lagi mengalir seperti biasa.
Karena itu, peringatan ini semestinya tak berhenti sebagai catatan.
Di tengah musim kemarau yang mulai menguji ketersediaan air, momentum ini harus menjadi pengingat bahwa menjaga air berarti menjaga kehidupan.
Baca Juga: Sambut Hari Lalu Lintas Bhayangkara, Polisi di Kota Bogor Bersih-Bersih Masjid
Ya, air sering kali baru terasa begitu penting ketika keran mulai mengecil, sumur mengering, sungai menyusut, atau warga harus mencari sumber air ke tempat lain.
Padahal, persoalan air tidak muncul secara tiba-tiba.
Masalah bisa berawal dari kebiasaan sederhana yang diabaikan.
Kadang membuang sampah ke sungai, membiarkan limbah masuk ke saluran air, menutup daerah resapan dengan bangunan, hingga mengambil air tanah tanpa memperhitungkan kemampuan alam untuk mengisinya kembali.
Karena itu, Hari Pemantauan Air Sedunia yang diperingati tiap 18 September harus dimaknai lebih jauh.
Bukan hanya mengajak masyarakat memeriksa kualitas air, tetapi juga mengingatkan semua pihak bahwa sumber daya air harus dijaga, dipantau, dan dikelola bersama.
Kemarau Menguji Ketahanan Air Bogor
Bogor selama ini dikenal sebagai wilayah dengan curah hujan tinggi.
Predikat itu, jangan sampai membuat kita merasa aman dan menganggap persoalan air tidak akan menjadi masalah.
Kemarau, justru menjadi momentum untuk melihat seberapa siap pemerintah dan masyarakat menghadapi perubahan kondisi tersebut.
Baca Juga: Ketua DPRD Ungkap Dampak Positif Pengolahan Sampah PSEL dan Pirolisis di Cibungbulang Bogor
Ketika hujan berkurang, kebutuhan terhadap sumber air bersih tetap berjalan.
Rumah tangga membutuhkan air untuk minum, memasak, mandi dan mencuci.
Dunia usaha membutuhkan air untuk kegiatan ekonomi.
Pertanian juga bergantung pada ketersediaan air.
Pada saat yang sama, kualitas sumber air tidak boleh luput dari perhatian.
Sungai yang terlihat masih mengalir belum tentu memiliki kualitas air yang baik.
Sumur yang tidak mengering belum tentu bebas dari pencemaran.
Mata air yang masih mengeluarkan air hari ini belum tentu memiliki debit yang sama pada tahun-tahun mendatang.
Di sinilah pemantauan menjadi penting.
Pemeriksaan kualitas air secara berkala dapat membantu mendeteksi persoalan lebih dini.
Baca Juga: Dari Lapangan Kecamatan Jadi Alun-Alun, Wajah Baru Gunung Putri Bogor Segera Terwujud
Parameter seperti kejernihan, suhu, tingkat keasaman, hingga kandungan oksigen terlarut dapat menjadi bagian dari upaya memahami kondisi sumber air.
Pemerintah Jangan Hanya Bergerak Saat Krisis
Pemerintah daerah, memiliki pekerjaan besar dalam memastikan masyarakat tidak menghadapi persoalan air seorang diri ketika kemarau semakin panjang.
Pemantauan sumber air harus dilakukan secara rutin dan hasilnya semestinya menjadi dasar pengambilan kebijakan.
Pemerintah juga perlu memiliki peta sumber air yang jelas, termasuk kondisi mata air, sungai, situ, embung, sumur dan kawasan resapan.
Jika terdapat sumber air yang kualitasnya menurun, penanganan jangan menunggu sampai masyarakat mengeluh.
Begitu pula dengan wilayah yang rawan kekurangan air.
Distribusi air bersih memang penting sebagai langkah darurat, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya solusi.
Yang lebih penting adalah membangun ketahanan air dalam jangka panjang.
Perlindungan kawasan resapan, rehabilitasi daerah aliran sungai, pengawasan terhadap pencemaran, pemeliharaan situ dan embung, serta penertiban aktivitas yang berpotensi merusak sumber air harus berjalan beriringan.
Pemerintah juga perlu memperkuat koordinasi.
Baca Juga: Rudy Susmanto Sebut Keberadaan PSEL di Galuga Bogor Beri Dampak Jangka Panjang
Air tidak mengenal batas administrasi.
Sungai yang melewati beberapa wilayah membutuhkan pengelolaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Masyarakat Jangan Menjadi Penonton
Namun, menjaga air tidak bisa seluruhnya dibebankan kepada pemerintah.
Masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya.
Menjaga sungai dari sampah, tidak membuang limbah rumah tangga sembarangan, menghemat penggunaan air, membuat lubang atau sumur resapan sesuai kondisi lingkungan, serta mempertahankan ruang terbuka hijau merupakan langkah sederhana yang dampaknya tidak sederhana.
Masyarakat juga perlu berani melaporkan jika menemukan pencemaran sumber air.
Sebab, persoalan lingkungan sering kali membesar karena gejala awalnya dianggap biasa.
Air sungai berubah warna.
Bau mulai muncul. Sampah menumpuk.
Debit mata air berkurang.
Baca Juga: Bupati Bogor Ajak Anak Istimewa Nonton Film Bareng, Ungkap Pesan Haru
Sumur warga mulai menyusut.
Jika semua itu dibiarkan, masalahnya bisa menjadi jauh lebih sulit dan mahal untuk diselesaikan.
Industri dan Dunia Usaha Juga Punya Tanggung Jawab
Pengelolaan air juga harus menjadi perhatian dunia usaha.
Aktivitas ekonomi membutuhkan air, tetapi penggunaan sumber daya tersebut harus berjalan bersama tanggung jawab menjaga lingkungan.
Pengelolaan limbah, efisiensi penggunaan air dan kepatuhan terhadap aturan lingkungan tidak boleh dipandang sebagai beban tambahan.
Itu merupakan bagian dari keberlanjutan usaha itu sendiri.
Begitu pula dengan pengembang kawasan.
Setiap pembangunan harus memperhitungkan kemampuan lingkungan dalam menyerap dan menyimpan air.
Jangan sampai pembangunan hari ini, justru mengurangi kemampuan wilayah menghadapi kemarau dan memperbesar persoalan ketika musim hujan datang.
Dari Hari Peringatan Menjadi Gerakan
Hari Pemantauan Air Sedunia mengajarkan satu hal penting, air harus diketahui kondisinya agar bisa dijaga.
Maka, momentum 18 September ini seharusnya mendorong langkah yang lebih konkret di Bogor.
Baca Juga: Bansos Rapelan BPNT Terpantau Cair Hari Ini, Saldo KKS Tembus Rp1,2 Juta
Pertama, pemerintah perlu memperkuat pemantauan kualitas dan kuantitas sumber air secara berkala.
Tak hanya itu, membuka informasi yang dapat diketahui publik.
Termasuk, memperluas perlindungan kawasan resapan dan sumber mata air, serta menyiapkan skenario menghadapi kemarau yang lebih panjang.
Sekolah dan komunitas juga dapat dilibatkan, untuk mengenalkan pentingnya menjaga sungai dan sumber air sejak dini.
Sementara, masyarakat dapat memulai dari rumah, menggunakan air secukupnya dan tidak memperlakukan sungai maupun saluran air sebagai tempat pembuangan.
Sebab, air bukan sekadar persoalan hari ini.
Air adalah cadangan kehidupan untuk hari esok.
Bogor boleh dikenal sebagai daerah hujan.
Tetapi sebutan itu bukan alasan untuk lengah.
Baca Juga: Cuma 2 Telur, Ini Resep Bolu Susu Vanilla Choco Lembut Anti Gagal untuk Pemula
Justru karena Bogor memiliki banyak sumber air, tanggung jawab untuk menjaganya menjadi semakin besar.
Jangan tunggu sumur mengering untuk sadar pentingnya air.
Jangan tunggu sungai tercemar untuk mulai peduli.
Dan, jangan menunggu krisis datang untuk membangun ketahanan air.
Eloknya, tak ada kata "kumaha engke wae (gimana nanti saja)". (*)
** Catatan kecil Lucky Lukman Nul Hakim, Pemimpin Redaksi radarbogor.jawapos.com
Editor : Siti Dewi Yanti