RADAR BOGOR - Belajar bahasa isyarat, tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau melalui buku.
SMKN 4 Bogor menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda melalui KRABAT ISYARAT, sebuah aplikasi game edukasi yang dirancang untuk mengenalkan bahasa isyarat dengan cara interaktif dan menyenangkan.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Novita Wandasari selaku inovator SMKN 4 Bogor, bersama tim yang terdiri dari Raka Mahendra, Abdilah Wildandi, Muhamad Fauziansyah, dan Azalia Izzati Wulan.
Gagasan pengembangan KRABAT ISYARAT, berangkat dari masih perlunya pemahaman masyarakat terhadap bahasa isyarat sebagai salah satu sarana komunikasi bagi penyandang tunarungu.
Baca Juga: Sering Disepelekan! Ini Pentingnya Mengganti Filter Udara dan Filter Kabin Mobil Secara Berkala
Melalui media digital yang dikemas dalam bentuk permainan, pengguna diajak mengenal bahasa isyarat secara bertahap sekaligus memahami pentingnya komunikasi yang dapat menjangkau lebih banyak orang.
Belajar Bahasa Isyarat Sambil Bermain
KRABAT ISYARAT dirancang agar proses belajar tidak terasa monoton.
Pengguna dapat mempelajari berbagai materi dasar bahasa isyarat, mulai dari huruf, angka, kata, hingga gerakan tertentu melalui tampilan visual.
Materi pembelajaran disajikan menggunakan gambar, animasi, dan petunjuk yang dibuat agar lebih mudah dipahami.
Setelah menyelesaikan materi, pengguna dapat menguji pemahamannya melalui kuis dan berbagai tantangan permainan.
Sistem level turut diterapkan sehingga tingkat kesulitan dapat meningkat secara bertahap.
Pengguna pun memiliki kesempatan untuk belajar sesuai kemampuan sebelum melanjutkan ke tantangan berikutnya.
Menurut Novita Wandasari, pendekatan berbasis permainan dipilih agar pembelajaran bahasa isyarat dapat terasa lebih menarik dan mendorong pengguna untuk terus mencoba.
“KRABAT ISYARAT dirancang sebagai media pembelajaran yang tidak hanya memberikan pengetahuan tentang bahasa isyarat, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif melalui permainan,” ujar Novita Wandasari dalam keterangannya kepada Bogor Innovation Award.
Membuka Ruang Komunikasi yang Lebih Inklusif
Kehadiran KRABAT ISYARAT tidak hanya menyasar pelajar.
Aplikasi ini juga dapat dimanfaatkan masyarakat umum yang ingin mulai mengenal bahasa isyarat.
Baca Juga: Padi Resort Bogor, Tempat Staycation dengan Pemandangan Pegunungan dan Terasering Sawah
Semakin banyak orang yang memahami bahasa isyarat, semakin terbuka pula peluang terciptanya komunikasi yang lebih mudah antara masyarakat dengan penyandang tunarungu.
Bagi siswa, aplikasi tersebut sekaligus menjadi sarana untuk mengembangkan pengetahuan dan kreativitas melalui metode pembelajaran berbasis teknologi.
Sementara dari sisi pengembangan, proyek KRABAT ISYARAT menjadi ruang bagi tim untuk mengasah kemampuan dalam pemrograman, desain antarmuka, pengembangan game, hingga penyelesaian masalah menggunakan teknologi.
Dengan konsep tersebut, teknologi tidak hanya digunakan untuk menghadirkan permainan, tetapi juga diarahkan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memiliki manfaat sosial.
Tantangan Pengembangan Masih Ada
Meski menawarkan pendekatan pembelajaran yang menarik, KRABAT ISYARAT masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangannya.
Aplikasi membutuhkan perangkat yang mendukung agar seluruh fitur dapat digunakan dengan baik.
Selain itu, keberagaman bahasa isyarat yang digunakan di berbagai wilayah menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika materi pembelajaran dikembangkan.
Pengayaan animasi dan konten juga membutuhkan waktu serta sumber daya.
Baca Juga: Ayam Darmawangsa di Bogor: Pilihan Kuliner Ayam dan Bebek, Harga Mulai Rp25 Ribu
Karena itu, pembaruan dan evaluasi secara berkala menjadi bagian penting agar materi yang tersedia tetap relevan dan kualitas pengalaman belajar dapat dipertahankan.
Disiapkan untuk Teknologi yang Lebih Canggih
Pengembangan KRABAT ISYARAT masih dapat diperluas dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Salah satu gagasan pengembangannya adalah menghadirkan fitur yang mampu mengenali gerakan tangan pengguna melalui kamera.
Dengan teknologi tersebut, pengguna nantinya dapat memperoleh umpan balik secara langsung mengenai ketepatan gerakan bahasa isyarat yang dilakukan.
Fitur lain yang berpotensi dikembangkan mencakup integrasi dengan pembelajaran daring, papan peringkat, hingga mode permainan multipemain.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat membuat proses belajar bahasa isyarat semakin interaktif sekaligus memperluas jangkauan pengguna.
“Pengembangan ke depan diarahkan agar KRABAT ISYARAT tidak berhenti sebagai permainan edukasi, tetapi dapat terus berkembang menjadi media belajar digital yang membantu memperluas pemahaman bahasa isyarat di masyarakat,” kata Novita.
Melalui KRABAT ISYARAT, SMKN 4 Bogor menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis teknologi dapat dikembangkan tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan digital, tetapi juga untuk membangun kesadaran tentang pentingnya komunikasi yang inklusif.
Baca Juga: Review Alpha Entry Next Gen, Motor Listrik Rp16,5 Juta dengan Ekosistem Aplikasi Canggih
Dari sebuah permainan, pengguna diajak mengenal bahasa isyarat. Dari pengetahuan tersebut, diharapkan semakin banyak orang memiliki bekal untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan lebih terbuka di tengah keberagaman. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti