RADAR BOGOR - Kemiringan jalan yang terlalu curam dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai pengendara, terutama ketika melintasi wilayah berbukit atau jalur dengan kontur ekstrem.
Berangkat dari persoalan tersebut, SMA Negeri 1 Bogor menghadirkan inovasi bernama KLOTERAL, alat digital yang dirancang untuk mengukur tingkat kemiringan jalan sekaligus mencatat lokasi titik tersebut.
KLOTERAL dikembangkan oleh Mirza Ahmad Firman sebagai inovator bersama tim yang terdiri dari Yuli Ratnasari, Mirza Ahmad Firman, Khadijah Talita Sakhi, dan Satrio Nugroho.
Alat ini menggunakan teknologi mikrokontroler Arduino UNO R3 yang dipadukan dengan sejumlah komponen dalam satu perangkat berukuran ringkas.
Baca Juga: Cari Kuliner Jepang di Bogor? Kotei Restaurant Hadirkan Ramen, Udon hingga Sushi
Tidak hanya mengukur sudut kemiringan, KLOTERAL juga mampu mencatat koordinat lokasi dan menampilkan hasil pengukuran secara langsung.
Satu Alat untuk Ukur Kemiringan dan Lokasi
Cara kerja KLOTERAL mengandalkan sensor MPU6050 untuk membaca sudut kemiringan jalan.
Data tersebut kemudian dipadukan dengan informasi posisi dari modul GPS NEO-6M V2.
Hasil pengukuran dapat dilihat melalui layar OLED SSD1306 secara real-time.
Dengan begitu, pengguna dapat mengetahui besaran kemiringan sekaligus lokasi titik yang sedang diperiksa tanpa harus menggunakan beberapa perangkat secara terpisah.
KLOTERAL juga dilengkapi enam indikator LED berwarna yang berfungsi memberikan informasi visual mengenai tingkat kemiringan.
Warna indikator dibuat untuk memudahkan pengguna memahami kondisi jalan dengan cepat.
Hijau menunjukkan kondisi yang relatif aman, kuning menjadi tanda kewaspadaan, sedangkan warna merah menunjukkan tingkat kemiringan yang lebih ekstrem.
“KLOTERAL dirancang untuk menyatukan pengukuran kemiringan dan pencatatan lokasi dalam satu perangkat, sehingga proses pengambilan data bisa dilakukan dengan lebih praktis,” ujar Mirza Ahmad Firman dalam keterangannya kepada Bogor Innovation Award.
Mengurangi Ketergantungan pada Pengukuran Manual
Sebelum adanya perangkat terintegrasi seperti KLOTERAL, pengukuran kemiringan dan pencatatan lokasi dapat dilakukan menggunakan perangkat yang berbeda.
Kondisi tersebut membuat proses pengumpulan data menjadi kurang praktis dan membuka peluang terjadinya kesalahan pencatatan.
Baca Juga: Game Edukasi Unik KRABAT ISYARAT Ciptaan SMKN 4 Bogor, Cara Seru Belajar Bahasa Isyarat
KLOTERAL mencoba menyederhanakan proses tersebut dengan menggabungkan fungsi pengukuran sudut, penentuan lokasi, tampilan data, serta indikator peringatan dalam satu perangkat.
Bagi pengendara, informasi mengenai tingkat kemiringan dapat menjadi gambaran awal ketika melewati jalur tertentu.
Sementara bagi pihak yang melakukan pemetaan jalan, data koordinat dan sudut kemiringan dapat membantu mengidentifikasi lokasi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Data Bisa Membantu Pemetaan Jalan Rawan
KLOTERAL juga memiliki potensi digunakan dalam proses pemetaan kondisi jalan.
Data mengenai lokasi dan tingkat kemiringan dapat menjadi informasi pendukung bagi instansi terkait dalam menentukan titik yang perlu diberi perhatian.
Informasi tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pemasangan rambu peringatan maupun penentuan prioritas penanganan infrastruktur.
Dengan pengumpulan data yang lebih terstruktur, proses pemetaan diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan terarah.
Menariknya, prototipe KLOTERAL dikembangkan dengan biaya sekitar Rp342.000.
Biaya tersebut menunjukkan bahwa perangkat pengukuran berbasis mikrokontroler dapat dikembangkan dengan konsep yang relatif sederhana tanpa mengabaikan fungsi utama yang dibutuhkan.
Disiapkan Terhubung ke Aplikasi
Pengembangan KLOTERAL tidak berhenti pada prototipe.
Ke depan, perangkat ini direncanakan mendapatkan konektivitas nirkabel seperti Bluetooth atau Wi-Fi.
Baca Juga: Padi Resort Bogor, Tempat Staycation dengan Pemandangan Pegunungan dan Terasering Sawah
Konektivitas tersebut dapat membuka peluang agar data hasil pengukuran dikirim langsung ke aplikasi pada perangkat seluler.
Dengan demikian, proses pemetaan titik kemiringan dapat dilakukan secara digital dan lebih mudah dipantau.
Dalam pengembangan jangka panjang, KLOTERAL juga diarahkan untuk dapat diproduksi secara lebih luas dan dimanfaatkan dalam pemetaan jalan, khususnya di wilayah dengan kondisi geografis berbukit.
Pengembang bahkan membuka peluang penambahan sensor cuaca serta integrasi dengan platform navigasi digital.
Namun, pengembangan tersebut masih menjadi bagian dari rencana lanjutan yang membutuhkan proses pengujian dan penyempurnaan.
“Pengembangan KLOTERAL ke depan diarahkan agar data kemiringan jalan tidak hanya tersimpan di perangkat, tetapi dapat terhubung dengan sistem digital sehingga pemetaan menjadi lebih mudah dan informatif,” kata Mirza.
Baca Juga: Ayam Darmawangsa di Bogor: Pilihan Kuliner Ayam dan Bebek, Harga Mulai Rp25 Ribu
Melalui KLOTERAL, tim SMA Negeri 1 Bogor mencoba menghadirkan solusi teknologi yang berangkat dari persoalan nyata di lapangan.
Perpaduan Arduino, sensor kemiringan, GPS, layar digital, dan indikator visual membuat perangkat ini tidak sekadar menjadi alat ukur, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan data untuk mendukung pemetaan kondisi jalan dan meningkatkan perhatian terhadap keselamatan pengguna jalan. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti