Rumah di Gang Sempit, Anak-Anak Belajar Komputer Murah Meriah di Kencana Kota Bogor

Muhamad Rifki Fauzan • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 16:33 WIB
Anak-anak yang tengah belajar komputer di sebuah rumah di Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.(Dzikry/Radar Bogor)
Anak-anak yang tengah belajar komputer di sebuah rumah di Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.(Dzikry/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Tak butuh gedung besar untuk buka akses pendidikan. Di balik gang sempit, terdapat rumah sederhana yang setiap pekan ramai dikunjungi anak-anak.

Rumahnya terletak di Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Di lokasi itulah, anak-anak terlihat fokus menatap layak komputer.

Bukan bermain game atau buka media sosial seperti era 2000 an. Mereka datang untuk belajar dan mengenal ruang digital dengan bijak.

Baca Juga: RS PMI Bogor Perkuat Layanan Brain Center dan Code Stroke, Pasien Tak Perlu Jauh ke Jakarta

Anak-anak hanya duduk dengan beralas tikar. Tidak ada ruangan khususus. Mereka ditempatkan di sebuah ruangan yang ada di rumah tersebut.

Dibalik punggung anak-anak itu, terdapat sesosok pria. Perawakannya terlihat tegap dan sedikit gemuk. Rambutnya tampak klimis dan mengkilap.

Dialah Dwiki Maulana. Seorang guru madrasah yang menjadi alasan anak-anak tersebut berkumpul setiap pekan di depan layar komputer.

Dwiki sengaja menyukap rumahnya untuk jadi tempat belajar komputer anak-anak. Gerakan ini lahir dari keresahan yang sudah dipendam sejak lama.

“Sekarang kan sekolah kalau ujian sudah berbasis komputer. Tapi anak-anak di kelas lima atau enam punya masalah yang sama, tidak bisa ngetik,” ujarnya.

Sebagai seorang tenaga pendidik jiwanya merasa terpanggil. Akhirnya Pada Februari 2026 silam, Dwiki bersama adik iparnya inisiatif buka les komputer.

“Kami memang sengaja ambil konsep belajar rumahan karena sasarannya anak-anak kampung sini, biar lebih santai juga,” ucap Dwiki.

Diawal, Dwiki merelakan tiga laptop pribadinya untuk diotak-atik oleh anak-anak. Namun, seirinh perjalanannya banyak pihak yang ikut mendukung.

“Sementara anak-anaknya ada 10. Jadi mau tidak mau kami pinjem ke rekan, terus ada yang memberi kami laptop dua, tapi itu rusak dan harus kami perbaiki,” terangnya.

Namun kondisi itu tak membuatnya menyerah. Ia terus menjalankan pengadiannya sebagai seorang tenaga pendidik di lingkungan masyarakat.

Kini sudah hampir lima puluh anak rutin datang ke rumah Dwiki setiap Sabtu dan Minggu. Karena keterbatasan perangkat, ia terpaksa membagi beberapa sesi.

“Jadi kami mulai buka dari jam 10, satu sesinya satu jam, terus giliran sampai jam empat, sekarang alhamdulillah sudah ada 49 anak,” ungkap Dwiki.

Materi ajar yang diajarkan Dwiki sederhana. Ia mendorong anak-anak untuk bisa mengetik dengan 10 jari, seperti kebutuhan dunia digital saat ini.

"Dasarnya sudah kuat, baru ditingkatkan ke Microsoft Office seperti Word, Excel, hingga PowerPoint. Untuk touch typing saya pakai platform gratis,” beber Dwiki.

Tidak hanya itu, Dwiki juga turut mengajarkan materi design. Platform yang digunakannya menggunakan aplikasi edit seperti canva.

“Karena modal kita juga kan sederhana, jadi pakai aplikasi yang gratis ditambah laptopnya juga masih sederhana jadi belum kuat,” ujar Dwiki.

Untuk bisa mendapat materi-materi tersebut anak-anak tidak dipungut biaya besar. Bagi warga lokal hanya perlu mengeluarkan uang Rp10 ribu.

“Tapi kalau bukan warga sini Rp20 ribu, karena sekarang yang datang sudah dari mana-mana, ada Depok, Gunung Putri bahkan Jakarta juga ada,” ungkapnya.

Biaya tersebut tidak sepenuhnya masuk ke kantong Dwiki. Pria berusia 32 tahun itu perlu menyisihkan untuk operasional, seperti bayar listrik hingga akses internet.

"Makanya saya berinisiatif memfasilitasi. Kalau tidak bisa memberikan gratis, ya saya berikan harga murah untuk masyarakat,” kata Dwiki, Minggu, 20 September 2026.

Les kompoter Dwiki perlahan mulai berkembang. Kini anak-anak juga bisa ikut belajar Mapel inti seperti Matematika hingga Bahasa Inggris.

“Kalau Matematika sama adik ipar, kalau Bahasa Inggris sama adik yang kebetulan lagi kuliah juga. Ya kita keluarga aja, nah kalau komputer baru dengan saya,” ujarnya.

Dukungan moril dari para orang tua buat Dwiki kian semangat. Ia bersyukur niat baiknya disambut baik. Ia berharap langkah kecilnya bisa bernilai manfaat.

“Apalagi banyak anak kelas akhir yang mau menghadapi TKA, orang tua sangat bersyukur dan menaruh harapan kepada kita di sini,” pungkasnya (bay)

Editor : Eka Rahmawati
komputer bogor belajar