Smart Tirta, Inovasi Meteran Air Token Buatan SMKN 4 Bogor

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 17:47 WIB
Inovasi meteran air token buatan SMKN 4 Bogor bernama Smart Tirta.
Inovasi meteran air token buatan SMKN 4 Bogor bernama Smart Tirta.

RADAR BOGOR - Pemanfaatan teknologi, untuk mengelola kebutuhan air bersih terus berkembang. 

Salah satunya melalui Smart Tirta, sistem meteran air digital berbasis token prabayar yang dikembangkan Akhmad Akhir, inovator dari SMKN 4 Bogor, bersama timnya.

Inovasi tersebut, dirancang untuk membuat penggunaan air lebih terukur sekaligus memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengembangkan teknologi yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.

Dalam pengembangannya, Akhmad Akhir melibatkan sejumlah anggota tim, yakni Leonardus Arga, LuLu Navisa, Innaya Agistya Wardhani, dan Neng Irma.

Berawal dari Persoalan Pencatatan Pemakaian Air

Gagasan Smart Tirta muncul dari kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan air bersih. 

Selama ini, pencatatan pemakaian air pada sistem distribusi yang dikelola perusahaan air minum atau PAM masih dapat dilakukan secara manual.

Baca Juga: Kepala SPPG di Tamansari Bogor Lapor Polisi, Diduga Jadi Korban Penganiayaan

Cara tersebut dinilai membutuhkan biaya operasional dan memiliki risiko terjadinya kesalahan dalam pencatatan penggunaan air.

Akhmad Akhir menjelaskan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan dikembangkannya sistem meteran air digital berbasis Arduino.

“Pada sistem distribusi air yang dikelola oleh perusahaan air minum atau PAM, pencatatan pemakaian air masih sering dilakukan secara manual sehingga memerlukan biaya operasional yang cukup besar dan berpotensi menimbulkan kesalahan pencatatan,” jelas Akhmad Akhir dalam keterangannya kepada Bogor Innovation Award.

Melalui Smart Tirta, penggunaan air diharapkan dapat dipantau secara lebih praktis karena sistem bekerja dengan konsep pembayaran prabayar.

Cara Kerja Smart Tirta Berbasis Token

Secara sederhana, pengguna terlebih dahulu memasukkan kode token yang memiliki nilai atau kuota volume air tertentu. 

Kode tersebut kemudian diproses oleh Arduino sebagai pusat kendali sistem.

Setelah token diterima, sistem akan mengaktifkan solenoid valve atau katup elektrik untuk mengalirkan air sesuai dengan volume yang telah dibeli.

Baca Juga: Spesifikasi Kawasaki W230 2026, Motor Klasik 233 CC dengan Tenaga 18 PS

Sementara itu, water flow sensor bertugas menghitung volume air yang telah digunakan. 

Data pemakaian kemudian ditampilkan melalui layar LCD sehingga pengguna dapat mengetahui sisa kuota air secara langsung.

Ketika kuota yang dimiliki telah habis, sistem secara otomatis menghentikan aliran air. 

Pengguna baru dapat kembali memperoleh pasokan setelah memasukkan token berikutnya.

Konsep tersebut membuat pemakaian air menjadi lebih terukur. 

Pengguna juga dapat mengetahui seberapa banyak air yang telah digunakan tanpa harus menunggu proses pencatatan secara manual.

Jadi Media Belajar Teknologi bagi Siswa

Selain ditujukan untuk membantu pengelolaan air, Smart Tirta juga menjadi sarana pembelajaran bagi siswa SMKN 4 Bogor.

Melalui proyek ini, siswa dapat mempraktikkan berbagai materi yang selama ini dipelajari, mulai dari elektronika, pemrograman mikrokontroler, hingga penggunaan sensor dan aktuator.

Proses pengembangan alat juga mendorong siswa untuk terbiasa mengidentifikasi persoalan, mencari solusi, melakukan pengujian, serta merancang produk teknologi berdasarkan kebutuhan di lingkungan sekitar.

Dengan demikian, proyek tersebut tidak hanya menghasilkan sebuah perangkat, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Pembayaran Prabayar Bisa Tekan Risiko Tunggakan

Bagi pengelola layanan air, konsep meteran berbasis token menawarkan sejumlah manfaat. 

Salah satunya adalah sistem pembayaran dilakukan di awal sehingga risiko pelanggan memiliki tunggakan dapat ditekan.

Baca Juga: Andre Taulany dan Amanda Rigby Resmi Menikah, Warganet Malah Komentar Begini

Di sisi pelanggan, sistem ini memberikan kendali lebih besar terhadap penggunaan air. 

Kuota yang tersedia dapat menjadi batas konsumsi sekaligus membantu pengguna mengetahui pola pemakaian sehari-hari.

Penggunaan sistem tersebut juga berpotensi mendorong masyarakat lebih sadar terhadap pentingnya menghemat air. 

Ketika sisa kuota dapat dipantau secara langsung, pengguna memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai konsumsi air mereka.

Masih Ada Tantangan yang Perlu Diperbaiki

Meski menawarkan konsep yang lebih modern, Smart Tirta masih memiliki sejumlah keterbatasan.

Sistem berbasis Arduino membutuhkan pasokan listrik agar dapat bekerja. 

Ketika terjadi pemadaman, operasional alat berpotensi terganggu apabila belum dilengkapi sumber daya cadangan.

Akurasi pembacaan water flow sensor juga menjadi perhatian. 

Kondisi instalasi pipa serta kualitas sensor dapat memengaruhi hasil pengukuran volume air.

Baca Juga: Rumah di Gang Sempit, Anak-Anak Belajar Komputer Murah Meriah di Kencana Kota Bogor

Selain itu, kapasitas penyimpanan data pada Arduino relatif terbatas. 

Jika sistem nantinya diterapkan dalam skala yang lebih besar, diperlukan teknologi tambahan untuk menyimpan dan mengelola data penggunaan pelanggan.

Smart Tirta Bisa Dikembangkan ke Sistem Online

Pengembangan berikutnya dapat diarahkan agar Smart Tirta tidak hanya bekerja secara lokal, tetapi juga mampu mengirimkan data penggunaan air secara jarak jauh.

Akhmad Akhir dan tim dapat mengembangkan sistem dengan menambahkan teknologi komunikasi seperti LoRa, Wi-Fi, atau GSM. 

Dengan dukungan tersebut, data pemakaian air berpotensi dipantau dari jarak jauh oleh pengelola PAM.

Integrasi dengan aplikasi Android juga dapat menjadi langkah lanjutan. 

Melalui aplikasi, pelanggan nantinya dapat melihat sisa kuota, membeli token secara daring, hingga memperoleh pemberitahuan ketika persediaan air mulai menipis.

“Dengan berbagai pengembangan tersebut, alat Token Air berbasis Arduino diharapkan dapat menjadi solusi modern dalam pengelolaan air bersih yang lebih efisien, transparan, dan mendukung transformasi digital pada layanan PAM di masa depan,” kata Akhmad Akhir.

Baca Juga: MG ZS Hybrid Plus Punya Spesifikasi Menarik: Tenaga 192 PS dan Bagasi 1.400 Liter

Smart Tirta pada akhirnya menunjukkan bagaimana pembelajaran teknologi di sekolah dapat diarahkan untuk menjawab persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Dari sebuah proyek berbasis Arduino, muncul gagasan untuk membuat penggunaan air lebih terukur sekaligus membuka peluang pengembangan layanan air bersih menuju sistem yang semakin digital. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
Smart Tirta bogor SMKN 4