RADAR BOGOR - Berawal dari persoalan limbah rumah tangga dan ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD), sebuah inovasi dikembangkan untuk membantu mengendalikan jentik nyamuk di lingkungan masyarakat.
Inovasi tersebut bernama LARVATEA BAG, larvasida alami berbentuk kantong celup yang memanfaatkan limbah kulit jeruk manis (Citrus sinensis) dan ampas kelapa, dengan tambahan biji pepaya serta serai.
Gagasan ini, dikembangkan oleh Nazwa Hafidzah Nurfadilah, inovator dari SMK-SMAK Bogor, bersama anggota tim Helena Lutfi dan Putri Khoirozahrah Hermanto.
Baca Juga: Panduan Daftar Bansos Secara Mandiri 2026: Lewat Desa dan Aplikasi Ini
Nazwa mengatakan, LARVATEA BAG dirancang sebagai larvasida organik yang praktis digunakan masyarakat sekaligus memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
“LARVATEA BAG adalah inovasi larvasida organik dan ramah lingkungan yang dikemas dalam bentuk kantong teh celup sehingga mudah digunakan oleh masyarakat,” kata Nazwa dalam keterangannya kepada Bogor Innovation Award.
Berawal dari Ancaman Jentik Nyamuk di Rumah
DBD masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu diwaspadai.
Penyakit yang disebabkan virus dengue tersebut ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Salah satu tahapan penting dalam pengendalian nyamuk adalah memutus siklus perkembangbiakannya sejak masih berupa larva atau jentik.
Genangan air di sekitar rumah menjadi salah satu lokasi yang dapat dimanfaatkan nyamuk untuk berkembang biak.
Karena itu, pengendalian larva menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi populasi nyamuk pembawa virus dengue.
Kondisi tersebut kemudian mendorong Nazwa dan tim untuk mencari pendekatan yang tidak hanya efektif, tetapi juga mudah diterapkan oleh masyarakat.
Empat Bahan Alami dalam Satu Kantong
LARVATEA BAG dibuat menggunakan kombinasi ekstrak kulit jeruk manis, ampas kelapa kering, biji pepaya, dan serai.
Masing-masing bahan memiliki fungsi dalam formulasi yang dikembangkan tim.
Kulit jeruk mengandung flavonoid dan sejumlah senyawa aktif yang berpotensi mengganggu proses metabolisme serta perkembangan larva.
Baca Juga: Pria Keciduk Juru Parkir Curi Motor Pedagang di Taman Heulang Bogor
Biji pepaya juga digunakan, karena memiliki kandungan seperti papain dan senyawa alkaloid yang dalam formulasi larvasida dapat berperan dalam menghambat perkembangan larva nyamuk.
Sementara itu, serai mengandung minyak atsiri, termasuk sitronelal dan geraniol, yang dimanfaatkan dalam formulasi untuk membantu menghambat perkembangan larva.
Ampas kelapa kering memiliki fungsi berbeda.
Bahan tersebut, digunakan sebagai media pembawa (carrier) yang membantu pelepasan senyawa aktif secara bertahap ketika kantong celup berada di dalam air.
Tinggal Dicelupkan ke Genangan Air
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengembangan LARVATEA BAG adalah kemudahan penggunaan.
Jika produk larvasida pada umumnya membutuhkan proses aplikasi tertentu, inovasi ini dikemas menyerupai kantong teh celup.
Pengguna cukup menempatkan kantong berisi formulasi bahan alami tersebut pada wadah atau genangan air yang menjadi lokasi larva.
Senyawa aktif kemudian dilepaskan secara bertahap ke dalam air dan ditujukan untuk membantu mengendalikan keberadaan jentik Aedes aegypti.
Konsep sederhana ini diharapkan membuat penggunaan larvasida lebih mudah dipahami dan diterapkan, terutama untuk pengendalian jentik di lingkungan rumah.
Limbah Rumah Tangga Diubah Jadi Produk Bernilai
Tidak hanya berbicara mengenai pengendalian nyamuk, LARVATEA BAG juga membawa gagasan pemanfaatan limbah organik.
Kulit jeruk dan ampas kelapa yang selama ini dapat berakhir sebagai limbah dimanfaatkan sebagai bagian dari bahan inovasi.
Baca Juga: Gir Belakang Motor Goyang atau Oblak? Ini Penyebab dan Cara Memperbaikinya
Pendekatan tersebut membuka peluang agar bahan sisa dari aktivitas rumah tangga dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Di sisi lain, penggunaan bahan alami menjadi bagian dari upaya tim untuk menghadirkan alternatif larvasida yang lebih ramah terhadap lingkungan dibandingkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan.
Nazwa menjelaskan, inovasi ini diharapkan dapat menjadi pilihan yang praktis dan terjangkau untuk membantu masyarakat melakukan pengendalian larva nyamuk.
Bisa Jadi Alternatif Pengendalian Jentik
Dengan bentuk yang sederhana, LARVATEA BAG diarahkan untuk menjadi produk yang mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Inovasi ini, menggabungkan pemanfaatan bahan alami, pengolahan limbah, dan teknologi formulasi dalam satu produk.
Harapannya, masyarakat tidak hanya lebih mudah melakukan pengendalian jentik, tetapi juga semakin memperhatikan kebersihan tempat-tempat yang berpotensi menjadi genangan air.
Meski demikian, penggunaan larvasida tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya pengendalian nyamuk secara menyeluruh.
Pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan genangan air, dan menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi langkah penting untuk memutus siklus perkembangbiakan Aedes aegypti.
Baca Juga: Atlet Asal Bogor Sumbang Medali untuk Indonesia Pada Ajang Asian Games 2026
Melalui LARVATEA BAG, Nazwa dan tim menunjukkan bahwa bahan yang terlihat sederhana seperti kulit jeruk, ampas kelapa, biji pepaya, dan serai dapat dikembangkan menjadi sebuah gagasan inovatif.
“Diharapkan, LARVATEA BAG dapat menjadi solusi inovatif, murah, mudah diaplikasikan, dan berkelanjutan dalam upaya pengendalian vektor DBD di lingkungan rumah tangga,” ujar Nazwa. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti