ICMI Bogor Dorong Grand Design Kaderisasi Menuju Muktamar VIII, Siapkan Cendekiawan Berintegritas

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 19:07 WIB
Podcast Cendekia Bogor (PCB) yang digelar ICMI Orwilsus Bogor melalui Kalam TV.
Podcast Cendekia Bogor (PCB) yang digelar ICMI Orwilsus Bogor melalui Kalam TV.

RADAR BOGOR – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia atau ICMI Orwilsus Bogor mendorong penguatan sistem kaderisasi sebagai salah satu agenda strategis menjelang pelaksanaan Muktamar VIII ICMI di Ambon, Maluku.

Bagi ICMI Orwilsus Bogor, kaderisasi tidak semata-mata berkaitan dengan regenerasi kepengurusan.

Lebih dari itu, kaderisasi harus menjadi sebuah sistem yang mampu membentuk cendekiawan Muslim berintegritas, memiliki kompetensi, mampu berinovasi, serta memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Podcast Cendekia Bogor (PCB) yang digelar ICMI Orwilsus Bogor melalui Kalam TV.

Diskusi tersebut dipandu Dr. Dewi Anggrayni dengan menghadirkan Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, M.Si. dan Dr. Warcito, S.P., M.M.

Apendi diketahui merupakan salah seorang pendiri ICMI pada 1990 di Universitas Brawijaya Malang.

Baca Juga: PKH dan BPNT Tahap 3 Cair, Ini Cara Daftar Bansos Hanya Bermodalkan HP

Ia juga menjadi pemrakarsa sekaligus Ketua Dewan Penasihat MPW ICMI Orwilsus Bogor serta Wakil Sekretaris Dewan Pakar MPP ICMI periode 2021–2026.

Sementara itu, Warcito menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Pengkaderan ICMI Orwilsus Bogor.

Ia juga merupakan Wakil Kepala Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif Bidang Pendidikan Eksekutif dan Pengembangan Talenta, IPB University.

Dalam diskusi tersebut, Apendi menekankan bahwa proses kaderisasi ICMI harus tetap berlandaskan khittah organisasi, nilai-nilai keislaman, semangat kecendekiawanan, serta komitmen terhadap kebangsaan.

Menurut Apendi, regenerasi dalam tubuh ICMI tidak seharusnya dipahami hanya sebagai proses menyerahkan kepengurusan dari generasi senior kepada generasi yang lebih muda.

“Kita tidak hanya membutuhkan regenerasi usia, tetapi juga regenerasi pemikiran, kepemimpinan, dan pengabdian. Generasi baru ICMI harus memahami sejarah organisasinya sekaligus mampu menjawab persoalan pada zamannya,” ujar Apendi.

Di sisi lain, Warcito menilai perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru yang harus diantisipasi melalui sistem kaderisasi ICMI yang lebih adaptif.

Perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI), dinamika geopolitik, pertumbuhan ekonomi digital, perubahan iklim, persoalan pangan dan energi.

Hingga kesenjangan kualitas sumber daya manusia menjadi sejumlah tantangan yang membutuhkan kapasitas cendekiawan Muslim yang semakin relevan.

“Kalau tantangan zaman berubah, cara kita menyiapkan kader juga harus berubah. Kaderisasi tidak cukup berhenti pada kegiatan, kehadiran peserta, dan sertifikat, tetapi harus menghasilkan kompetensi, karya, kontribusi, dan dampak,” kata Warcito.

Baca Juga: Jika Jadi Juara ASEAN Cup 2026, Ini Perkiraan Ranking FIFA Timnas Indonesia

Konsep 5K dan Profil Kader 5I

Warcito menjelaskan, penguatan kaderisasi ICMI dapat dikembangkan dengan menghubungkan konsep 5K dalam Wawasan Pengabdian ICMI dengan profil kader yang dirumuskan melalui konsep 5I.

Lima K tersebut mencakup kualitas iman dan takwa, kualitas pikir, kualitas karya, kualitas kerja, serta kualitas hidup.

Sementara profil kader 5I meliputi Iman, Ilmu, Inovasi, Impact, dan Indonesia.

Dalam konsep tersebut, Iman menjadi landasan moral bagi kader, Ilmu menjadi dasar dalam membangun cara berpikir, sementara Inovasi diarahkan untuk melahirkan berbagai solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Selanjutnya, Impact menekankan pentingnya menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan secara nyata.

Adapun Indonesia menjadi ruang pengabdian bagi kader dalam mengimplementasikan ilmu, gagasan, dan kompetensinya.

“Lima I bukan menggantikan 5K. Lima K merupakan akar nilai ICMI, sedangkan 5I menjadi DNA kader untuk menghadapi tantangan masa depan,” jelas Warcito.

Ia menambahkan, sistem kaderisasi ICMI juga perlu dibangun sebagai sebuah ekosistem yang berlangsung secara berkelanjutan.

Proses tersebut dapat dimulai dari pencarian talenta, orientasi nilai, pengembangan kompetensi, pembentukan klaster kepakaran, penyelesaian persoalan nyata, mentoring lintas generasi, hingga penempatan kader di berbagai ruang pengabdian.

Dalam sistem tersebut, ICMI Orwilsus Bogor mengusung prinsip “No graduation without contribution.”

Baca Juga: CCTV Viral, Komplotan Bobol Rumah di Bogor Dibekuk Bareskrim Polri

Artinya, keberhasilan seorang kader tidak hanya ditentukan oleh keikutsertaannya dalam kegiatan pelatihan atau program kaderisasi.

Lebih jauh, capaian kader perlu dilihat dari integritas, kompetensi, karya, kemampuan berkolaborasi, serta dampak yang berhasil diberikan.

Usulan Grand Design Kaderisasi ICMI 2026–2035

Sebagai masukan menuju Muktamar VIII ICMI, ICMI Orwilsus Bogor mendorong penyusunan Grand Design Kaderisasi ICMI 2026–2035.

Selain itu, sejumlah gagasan turut didorong, di antaranya penguatan ICMI Orientation, penyusunan kamus kompetensi kader 5I, pembangunan National Talent Pool, serta pembentukan klaster kepakaran dan Innovation Lab.

Langkah tersebut diharapkan dapat membuat kaderisasi ICMI lebih terarah dan mampu menjawab kebutuhan organisasi sekaligus tantangan masyarakat yang terus berkembang.

“Muktamar VIII harus menjadi momentum untuk menjaga nilai dasar ICMI sekaligus memperbarui strategi kaderisasi dan pengabdiannya,” ujar Apendi.

Warcito menegaskan bahwa pembahasan mengenai kaderisasi ICMI ke depan tidak semestinya hanya berfokus pada siapa yang akan menduduki posisi kepemimpinan organisasi.

Menurutnya, perhatian yang lebih penting adalah bagaimana ICMI menyiapkan sosok cendekiawan Muslim yang mampu menjawab berbagai persoalan bangsa dan memberikan kontribusi bagi masa depan Indonesia.

Baca Juga: Usai Viral Truk Sampah Rusak, DLH Kota Bogor Kini Tarik Armadanya

“Pertanyaan kaderisasi ke depan bukan hanya siapa yang akan memimpin ICMI, tetapi cendekiawan Muslim seperti apa yang disiapkan dan kontribusi apa yang akan diberikan untuk Indonesia 2045,” tegas Warcito.

Ia menambahkan, proses kaderisasi seharusnya ditempatkan sebagai perjalanan panjang untuk membangun kapasitas sekaligus memperluas ruang pengabdian.

“Kaderisasi bukan tangga menuju jabatan. Kaderisasi adalah perjalanan menuju kontribusi,” pungkas Warcito. (***)

Editor : Yosep Awaludin
ICMI Orwilsus Bogor maluku muktamar