Nggak Enakan di Tempat Kerja Bisa Jadi Masalah, Psikiater Ungkap Cara Membatasi Diri

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 14:31 WIB
Psikiater RS Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ. (Foto: Dok Pribadi for Radar Bogor)
Psikiater RS Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ. (Foto: Dok Pribadi for Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Rasa 'nggak enakan' di tempat kerja sering membuat seseorang sulit menolak permintaan orang lain.

Jika terus dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat membuat beban bertambah hingga memicu kelelahan berkepanjangan.

Psikiater RS Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ mengatakan, rasa tidak enak untuk menolak dapat muncul ketika seseorang terlalu sering mengorbankan diri agar orang lain tidak kecewa.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan pola people pleasing. Seseorang cenderung mengutamakan kebutuhan orang lain karena takut ditolak, dianggap tidak kooperatif, menghindari konflik, atau merasa bersalah ketika mengatakan “tidak”.

“Diminta, nggak enak menolak, bilang iya, beban bertambah, capek atau kesal, tetapi tetap diam,” kata Lahargo.

Pola tersebut dapat membuat seseorang terus menerima pekerjaan atau permintaan meski kapasitasnya sudah terbatas.

Baca Juga: Tak Disangka, Pemilah Sampah Ini Menang Pilkades Mekarwangi dengan 4.107 Suara

Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat mengganggu keseimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat.

Lahargo menyarankan agar seseorang tidak langsung memberikan jawaban ketika mendapat permintaan tambahan.

Beri waktu untuk mempertimbangkan kapasitas dan tanggung jawab yang sedang dijalankan.

“Saya cek dulu ya, nanti saya kabari,” menjadi salah satu kalimat yang dapat digunakan sebelum memberikan jawaban.

Menurutnya, membantu orang lain juga tidak harus dilakukan dengan mengorbankan kondisi diri sendiri. Seseorang tetap dapat bersikap baik sekaligus memiliki batas yang jelas.

Ketika memang tidak mampu membantu, penolakan dapat disampaikan secara asertif.

Misalnya dengan mengatakan, “Saya ingin membantu, tetapi saat ini pekerjaan saya sedang penuh.”

Alternatif juga dapat diberikan jika memungkinkan. Contohnya, pekerjaan yang belum dapat dibantu hari ini bisa ditawarkan untuk dikerjakan pada waktu lain.

Selain itu, batasan perlu diterapkan terhadap jam kerja, beban pekerjaan, tanggung jawab, hingga waktu istirahat.

Batas tersebut membantu seseorang mengetahui kapan harus menerima dan kapan perlu menolak permintaan.

Baca Juga: Pedagang Nasi Kuning Dijambret di Mekarwangi Kota Bogor, Uang Hasil Jualan Sampai HP Raib

Lahargo juga mengingatkan bahwa rasa bersalah setelah mengatakan “tidak” tidak selalu berarti seseorang melakukan kesalahan.

Rasa tidak nyaman tersebut perlu ditoleransi agar seseorang tidak kembali mengiyakan sesuatu hanya karena merasa bersalah.

Sebelum mengatakan “iya”, ada tiga hal yang dapat dipertimbangkan. Pertama, apakah permintaan tersebut memang menjadi tanggung jawabnya.

Kedua, apakah dirinya memiliki kapasitas. Ketiga, apa yang harus dikorbankan jika permintaan tersebut diterima.

“Jangan sampai karena nggak enakan sama orang lain, akhirnya kita nggak enak badan sendiri,” ujarnya.

Menurut Lahargo, tujuan menetapkan batas bukan membuat seseorang menjadi cuek atau egois.

Batas yang sehat diperlukan agar seseorang tetap dapat membantu orang lain tanpa mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.

Jika pola tersebut sudah menyebabkan kecemasan berat, sulit tidur, kelelahan berkepanjangan, atau sangat mengganggu pekerjaan dan hubungan dengan orang lain, ia menyarankan untuk membicarakannya dengan profesional kesehatan mental. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
RS Marzoeki Mahdi kebiasaan tempat kerja