Bermula Main Guru-Guruan, Ketua IGI Kota Bogor Kini Menjelma Jadi Penggerak Pendidikan

Muhamad Rifki Fauzan • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 13:51 WIB
Siti Amalia, Ketua IGI Kota Bogor.
Siti Amalia, Ketua IGI Kota Bogor.

RADAR BOGOR - Papan tulis dan buku catatan sudah tak asing bagi Siti Amalia. Sejak kecil, ia senang bermain guru-guruan bersama rekannya.

Pelataran rumah Siti, nyaris tak pernah sepi. Ia berdiri dihadapan teman-temannya. Sementara kapur berwarna putih terus digenggamannya.

Sesekali peran itu berganti. Siti duduk lesehan. Kepalanya mengangguk, matanya fokus, sedangkan telinganya bertugas untuk mendengarkan.

Masa-masa itu amat berarti bagi Siti. Permainan kanak-kanak tersebut, justru menghantarkannya pada profesi yang kini tengah dilakoni selama dua dekade. 

Namun, jadi seorang guru tak pernah masuk dalam daftar cita-cita. Pilihan itu datang justru dari bisikan kedua orang tuanya.

“Saat itu, profesi guru dianggap memiliki jam kerja yang memungkinkan pulang lebih cepat dan tetap dapat mengurus rumah tangga,” kata Siti pada Radar Bogor.

Baca Juga: Pesona Air Terjun Dua Tingkat di Curug Cikoneng Leuwiliang Bogor, Cocok Buat Ngadem

Sitipun mengamini pilihan tersebut. Setelah lulus SMA ia melanjutkan pendidikannya ke Universitas Negeri Surakarta (UNS) Program Studi (Prodi) Matematika.

Pilihan Prodi tersebut bukan tanpa dasar. Siti melihat Kota Bogor saat itu amat membutuhkan guru Matematika. Ia akhirnya merasa terpanggil.

Pada tahun 2006, pengabdian itu dimulai. Kapur yang saat itu hanya jadi properti permainan, kini jadi alat menyalurkan pengetahuan.

Situ menitih karir di SMPN 4 Kota Bogor dengan status guru honorer. Uang yang dikantonginya setiap bulan, jauh dari kata cukup.

“Saat itu, gajinya hanya sekitar Rp500 ribu per bulan.Tidak seperti sekarang ketika gaji umumnya ditransfer ke rekening, saat itu saya menerima gaji secara tunai,” ucapnya.

Tiap kali kertas putih digenggam Siti rutin menghitung isinya. Selain harus mengatur pengeluaran ia juga kerap merasa khawatir membawa uang saat perjalanan pulang. 

“Jadi kita harus benar-benar menghitung uang saat menerima gaji. Ada rasa khawatir juga karena membawa uang tunai saat pulang,” kenangnya.

Sebagai guru muda, Siti menjadi bagian dari tim teaching untuk kelas IX. Di sana ia banyak belajar dari orang-oramg yang sudah mengabdi lebih dulu. 

Bagi Siti, masa tersebut merupakan sekolah pertamanya dalam dunia pendidikan yang sesungguhnya. Banyak pengatahuan yang sebelumnya tak didapatkanZ 

“Saya belajar bagaimana mengajar, bagaimana menghadapi siswa, dan bagaimana menjadi seorang guru yang baik dan tulus,” tuturnya.

Baca Juga: Bansos Digital Perlinsos Desil 1-5: Simak Jenis Bantuan, Keunggulan dan Cara Daftarnya

Baru satu bulan menjadi guru honorer, kesempatan lain datang. Ia mendapat informasi adanya rekruitmen untuk menjadi seorang pegawai negeri.

Ia pun mencoba peruntungannya. Berkat kesungguhan, Siti lolos dalam sekali kesempatan. Ia kemudian ditugaskan unruk mengajar di SMPN 7 Kota Bogor.

Tujuh tahun di SMPN 7 Kota Bogor menjadi masa penting dalam pembentukan dirinya sebagai guru. Ia mengajar dan terus belajar dari pengalaman sehari-hari di kelas.

Namun, perjalanan menjadi guru pada masa itu tidak selalu mendapatkan dukungan dari semua orang. Cemoohan selalu mampir di telinganya. 

Apalagi pada saat Siti dan sang suami lolao sebagai pegawai negeri pada 2006 silam. Banyak yang berkomentar atas capaiannya itu. 

Yang paling membuatnya marah, Siti dituding menyogok penguji agat bisa lolos selesksi. Namun ia tak membalasnya dengan kemarahan. 

“Karena saya tahu saya lolos atas kemampuan sendiri, doa orang tua dan pertolongan Tuhan,” ujar Siti, Jumat 25 September 2026 siang. 

Tidak cukup sampai disitu, jadi seorang guru dianggap sebelah mata. Apalagi gaji seorang guru identik kecil dan jauh dari kata cukup. 

Tapi niat mengabdi sudah melekat. Cemoohan tersebut justru menjadi doping untuk terus mengukir prestasi lewat jalan yang diyakini. 

Pada tahun 2013 Siti meraih juara satu OSN Guru Matematika. Di tahun yang sama iapun terpilih untuk mengikuti Teacher Training ke Australia. 

Baca Juga: Kampung Alpukat Garuda Yaksa Diresmikan di Cibinong Bogor, Karang Taruna Bidik 40 Kecamatan

Tak berselang lama Siti harus meninggalkan sekolah tersebut. Ia mengajukan perpindahan tugas untuk mengajar di SMPN 17 Kota Bogor.

Di sekolah tersebut, kariernya berkembang. Selain mengajar Matematika, ia dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum.

Lebih dari satu dekade ia mengabdi di sana. Kerja kerasnya kembali berbuah pada 2017. Siti meraih Juara 1 Guru Berprestasi tingkat SMP Kota Bogor.

Di tengah kesibukan mengajar, ia juga melanjutkan pendidikan magister di Universitas Pelita Harapan (UPH) dengan mengambil bidang Teknologi Pendidikan.

“Pendidikan itu dinamis. Guru harus terus mengikuti perkembangan ilmu. Kalau kita berhenti belajar, kita akan tertinggal,” katanya.

Tahun 2023 menjadi pengalaman baru bagi Siti. Ia terpilih mengikuti Indonesia Korea Teacher Exchange (IKTE) dan mendapat kesempatan mengajar di Korea Selatan. 

Namun, sepulang dari Korea, ia justru dipindahkan ke SMPN 6 Kota Bogor.
Perpindahan itu membuatnya harus meninggalkan posisi pentingnya. 

“Saya sempat sedih. Saya sudah 10,5 tahun di SMPN 17. Sudah beradaptasi, sudah nyaman, Kemudian saya pindah dan kembali menjadi guru biasa,” ungkapnya.

Meski begitu, Siti mencoba melihat perpindahan tersebut dari sisi lain. Ia kembali fokus di ruang kelas dan membawa pengalaman dari Korea ke dalam pembelajaran.

“Saya justru menemukan potensi terbaik saya ketika kembali menjadi guru biasa. Saya bisa lebih fokus pada pembelajaran dan bagaimana membuat siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna,” katanya.

Baca Juga: Donor Darah PGRI Wilayah VI Bogor Tembus Target, Diikuti 75 Orang

Dari ruang kelas, kiprah Siti kemudian semakin luas. Ia aktif berbagi praktik baik dengan guru lain dan menjadi narasumber berbagai forum pendidikan.

Pada 2024 dan 2025, ia menjadi narasumber Show & Tell di Edutech Asia Singapore.

Ia juga mendapat Dewi Sartika Award pada 2024 serta Juara 3 Best Practice Alumni IKTE.

Di luar sekolah, Siti dipercaya memimpin organisasi guru. Pada 2021, ia menjadi Ketua IGI Kota Bogor dan kembali dipercaya untuk periode kedua pada 2026.

Tahun yang sama, ia juga dipercaya unruk menjabat sebagi Ketua Ikatan Guru Mata Pelajaran Matematika tingkat Provinsi Jawa Barat.

Kini, ia tengah mengikuti seleksi Wakil Kepala Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Di sisi lain, masih ada satu mimpi yang ingin diwujudkannya, yakni melanjutkan pendidikan doktoral di luar negeri.

Pada 2024, Siti sempat mendapatkan LoA dari Curtin University Perth, Australia. Namun, rencana tersebut belum terwujud karena belum memperoleh beasiswa.

Baca Juga: Berani Coba? Canyoning Sentul Bogor Tawarkan Rappelling di Air Terjun Setinggi 17 Meter

Bagi Siti, perjalanan sebagai guru masih panjang. Sebab, profesi yang dulu bukan cita-citanya itu kini justru menjadi ruang untuk terus belajar dan memberi manfaat.

“Menjadi guru bukan tentang seberapa lama kita berdiri di depan kelas, tetapi tentang seberapa besar kemauan terus belajar, berani mencoba hal baru, dan memberikan manfaat,” pungkasnya. (bay)

Editor : Yosep Awaludin
Siti amalia papan tulis guru