RADAR BOGOR - Di tengah kemajuan teknologi, kamera analog kembali naik daun. Banyak anak muda yang kini justru gemar memotret lewat kamera retro itu.
Penggunaan kamera analog bahkan menjadi tren dikalangan kaula muda. Mereka rela menyishkan modal besar demi sebuah kepuasan.
Hal itulah yang dilakukan oleh Salsabil Adhim. Sejak 2017 kamera analog jadi barang yang selalu menemani setiap langkah asal Sindangbarang Bogor itu.
“Kamera analog pertama saya Nikon FM2. Waktu itu saya beli dengan harga Rp1,5 juta,” kata pria yang akrab disapa Abil itu, Jumat 25 September 2026.
Ketertarikan Abil, bermula dari sang kakak ipar yang lebih dulu menggunakan kamera analog. Rasa penasaran atas hasil foto dan proses di baliknya membuat ia mencoba.
“Dulu tuh kakak ipar udah motret pakai analog duluan. Terus penasaran tuh sama hasilnya gimana, terus ngikutin prosesnya, ternyata seru juga,” kata Abil, Jumat 25 September 2026.
Baca Juga: Bappisus Investigasi Temuan Ombudsman di Lapas Cibinong Bogor, Ditargetkan Rampung Sepekan
Salah satu hal yang membuat kamera analog menarik adalah hasil warna dari setiap roll film yang bisa berbeda. Hal itu membuatnya semakin penasaran untuk terus mencoba.
“Dari roll film, hasil tone-tone warnanya bisa berubah banyak, gitu-gitu, variatif. Jadi makin penasaran aja sih, waktu itu awal mulanya,” tuturnya.
Bagi Abil, memotret menggunakan kamera analog bukan sekadar menghasilkan gambar.
Proses yang lebih panjang dibanding kamera digital justru membuat setiap jepretan terasa memiliki makna tersendiri.
“Kalau pakai analog suka prosesnya aja sih. Kan prosesnya agak lama tuh ya, jadi ribet. Nah, di situ motonya tuh jadi kayak... maknanya kayaknya motonya tuh jadinya dapet banget gitu,” katanya.
Biasanya, Abil menggunakan kamera analognya ketika sedang bepergian sendiri. Pasar menjadi salah satu tempat yang kerap didatanginya untuk mencari objek foto sekaligus berinteraksi dengan orang-orang.
“Biasanya kalau lagi iseng sendiri, biasa ke pasar-pasar, biasa motret orang-orang. Orang-orang pasar, sama sembari ngobrol-ngobrol juga kan sama orang,” ujarnya.
Jika ada teman yang ikut, ia terkadang mengabadikan aktivitas mereka dengan suasana santai. Tidak ada momen khusus yang harus dicari untuk menggunakan kamera analog.
“Kadang kalau ada teman mau ikut, baru motretin teman, tapi sambil nyantai, nyore, gitu-gitu aja sih biasanya,” tambahnya.
Meski menyukai kamera analog, Abil kini harus lebih selektif memotret. Harga roll film yang terus meningkat membuat frekuensi penggunaannya tidak sesering dulu.
Baca Juga: Nasi Goreng Kumis Indraprasta Bogor, Porsi Melimpah dengan 6 Topping Cuma Rp25 Ribu
Pada 2017, satu roll film masih bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp50 ribu. Kini, harga untuk roll film yang biasa digunakan sudah berada di kisaran Rp140 ribu.
“Kalau dulu tuh Rp50 ribu udah dapet yang lumayan bagus. Sekarang yang dulu 2017 harganya Rp50 ribu sekarang harganya Rp140 ribu,” ungkapnya.
Biaya mencuci film juga perlu dikeluarkan setelah proses pemotretan. Sekali mencuci film, ia biasanya menghabiskan sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu.
Dengan harga roll film dan biaya pencucian tersebut, sekali proses memotret menggunakan kamera analog kini bisa menghabiskan hampir Rp200 ribu.
Karena itu, Abil kini hanya membeli roll film sekitar dua bulan sekali. Meski begitu, ia tetap menyimpan hasil jepretannya, baik dalam bentuk foto maupun klise.
Sebagian foto disimpannya sendiri. Namun, jika hasilnya dianggap menarik atau disukai teman yang menjadi objek foto, ia terkadang mengunggahnya ke media sosial.
“Kadang fotonya saya simpen sendiri ya sama klise-klisenya. Tapi kadang kalau misalnya bagus nih, kayak motretin teman gitu kalau yang kenal-kenal atau ada yang suka banget sama hasilnya baru di-upload ke IG,” tuturnya.
Bagi Abil, menyimpan klise juga menjadi bagian penting dari penggunaan kamera analog.
Baca Juga: Kapolda Jabar Kunjungi Polres Bogor, Soroti Kamtibmas hingga Pembinaan Generasi Muda
Sebab, hasil foto tidak hanya tersimpan dalam bentuk digital, tetapi memiliki bentuk fisik yang dapat dilihat kembali kapan saja.
“Ikut merawat sejarah lewat gambar, bisa juga sih. Soalnya kan kita pasti habis motret, klisenya kita simpen kan ya. Jadi enggak bakal hilang juga walaupun folder fotonya hilang, nanti kita bisa scan lagi, bisa lihat lagi,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin