RADAR BOGOR — Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN memperkuat pengembangan produk enzim lokal melalui kolaborasi dengan perusahaan Jepang, Amano Enzyme Inc.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari The 3rd Asia Pacific–Japan Enzyme Technology Symposium yang digelar di Hotel Novotel Bogor Golf Resort and Convention Center, Kota Bogor, Sabtu 26 September 2026.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, pengembangan teknologi enzim memiliki posisi strategis karena berkaitan dengan kebutuhan pangan, kesehatan, energi, dan berbagai sektor industri.
Menurutnya, Indonesia masih menghadapi ketergantungan terhadap produk enzim dari luar negeri. Sekitar 90 persen kebutuhan enzim Indonesia saat ini masih berasal dari impor.
“Riset kami berada pada discovery, menemukan enzim-enzim lokal. Saya kira 90 persen enzim Indonesia masih impor. Karena itu, kami berupaya memperkuat riset terkait discovery lalu pengembangan lebih lanjut,” kata Arif.
BRIN, lanjut Arif, tidak ingin pengembangan enzim berhenti pada tahap penelitian.
Baca Juga: RSUD R Moh Noh Nur Leuwiliang Kumpulkan 49 Kantong Darah dari Aksi Donor
Lembaga tersebut mulai menyiapkan platform bioproses agar hasil riset dapat dikembangkan menjadi produk yang bisa dimanfaatkan langsung oleh industri.
“Kami berencana mulai tahun ini dan tahun depan mendapatkan platform bioproses bagaimana untuk mendapatkan langsung produk enzim yang bisa dimanfaatkan langsung oleh industri. Sehingga bisa berdampak langsung bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Arif menyebut pengembangan teknologi enzim juga semakin berkembang seiring pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI).
Teknologi tersebut dapat mendukung proses penemuan dan pengembangan enzim baru.
“Teknologi enzim tidak bisa berdiri sendiri. Kita sekarang sudah berada di era di mana AI sudah menjadi bagian penting. Teknologi berbasis AI ini menjadi sesuatu yang baru,” jelasnya.
Menurut Arif, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan enzim lokal melalui kekayaan biodiversitas.
Mikroorganisme dari lingkungan tropis, laut, hingga lingkungan ekstrem berpotensi menjadi sumber enzim dengan karakteristik yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan industri.
Karena itu, kolaborasi dengan industri dan mitra internasional dinilai penting untuk mempercepat proses dari penemuan enzim hingga menghasilkan produk.
Kerja sama dengan Amano Enzyme Inc. menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan kapasitas riset Indonesia dengan pengalaman industri Jepang dalam pengembangan teknologi enzim.
Presiden Amano Enzyme Japan, Motoyuki Amano, mengatakan perusahaan yang memiliki sejarah sekitar 80 tahun tersebut kini mulai meningkatkan perhatian terhadap pasar Asia.
Baca Juga: 3 Angkringan di Bogor dengan Rating Tinggi, Cocok Buat Malam Mingguan
Sekitar 70 persen penjualan Amano saat ini berasal dari luar Jepang. Selama ini, penjualan perusahaan banyak berpusat di Amerika dan Eropa.
“Namun, yang paling kami perhatikan sekarang adalah Asia. Mulai sekarang, fokus kami akan bergeser ke Asia,” kata Amano.
Indonesia menjadi salah satu perhatian perusahaan karena memiliki jumlah penduduk yang besar.
Menurut Amano, kerja sama dengan BRIN menjadi awal untuk memperkuat kolaborasi di Indonesia.
“Kira-kira ini adalah awalnya. Hari ini menjadi awal dimulainya kerja sama tersebut,” ujarnya.
The 3rd Asia Pacific–Japan Enzyme Technology Symposium sendiri merupakan edisi ketiga setelah sebelumnya digelar di Bangkok dan Hanoi.
Forum tersebut mempertemukan ilmuwan, peneliti, akademisi, dan profesional dari kawasan Asia-Pasifik dan Jepang untuk membahas perkembangan teknologi enzim dan peluang pemanfaatannya bagi industri. (uma)
Editor : Yosep Awaludin