Buah Simpur di Sempur Diubah Jadi Sirup, SMP Negeri 11 Bogor Ciptakan Sillenica

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 06:23 WIB
SMP Negeri 11 Bogor membuat Sillenica.
SMP Negeri 11 Bogor membuat Sillenica.

RADAR BOGOR - Buah simpur yang selama ini tumbuh melimpah di kawasan Taman Sempur dan lingkungan sekitar SMP Negeri 11 Kota Bogor, ternyata menyimpan peluang ekonomi. 

Buah simpur yang kerap luput dari perhatian itu, diolah menjadi minuman bernilai jual bernama Sillenica.

Inovasi tersebut digagas oleh Raden Ajeng Kiana Aristawidya bersama anggota timnya, Eva Ruftini. 

Sillenica merupakan singkatan dari Sirupus dan Dillenia indica, nama ilmiah buah simpur.

Baca Juga: Kapan Bansos Tahap 4 Cair? Ini Penjelasan Termin Penyaluran dan Prediksi Jadwalnya

Gagasan itu, berawal dari keresahan melihat buah simpur yang cukup mudah ditemukan, tetapi belum banyak dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Kiana kemudian melihat kondisi tersebut sebagai peluang. 

Alih-alih membiarkan buah simpur terbuang, ia mengolahnya menjadi sirup yang memiliki rasa khas sekaligus berpotensi menjadi produk usaha bagi pelajar.

Berawal dari Buah yang Kurang Dilirik

Proses pembuatan Sillenica terbilang sederhana. 

Buah simpur terlebih dahulu diambil sarinya, kemudian diolah dengan tambahan gula pasir untuk mengurangi rasa asam alami yang menjadi ciri khas buah tersebut.

Gula tidak hanya digunakan sebagai pemanis, tetapi juga membantu memperpanjang daya simpan produk. 

Dalam prosesnya, Sillenica tidak menggunakan pengawet buatan, pewarna maupun pemanis sintetis.

“Sillenica lahir dari keprihatinan terhadap buah simpur yang melimpah, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Kami ingin mengubahnya menjadi produk yang punya nilai ekonomi dan bisa menjadi peluang usaha bagi siswa,” ujar Raden Ajeng Kiana Aristawidya dalam keterangannya kepada Bogor Innovation Award (BIA).

Konsep tersebut, membuat Sillenica tidak sekadar menjadi produk minuman. 

Baca Juga: 5 Ciri KPM yang Bakal Didahulukan Cair di Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026

Inovasi ini juga membawa gagasan pemanfaatan bahan lokal dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.

Punya Potensi Ekonomi untuk Pelajar

Selain mengandalkan bahan baku lokal, SILLENICA dirancang agar dapat diproduksi dengan modal yang relatif terjangkau.

Dalam satu kali produksi, sebanyak 10 buah simpur dan seperempat kilogram gula membutuhkan modal sekitar Rp4.500. 

Bahan tersebut dapat menghasilkan dua botol sirup berukuran 250 mililiter.

Jika setiap botol dijual dengan harga Rp6.000, omzet kotor yang diperoleh mencapai Rp12.000. 

Setelah dikurangi modal produksi, keuntungan bersihnya sekitar Rp7.500.

Skala produksi pun masih dapat diperbesar. Dengan 50 buah simpur, keuntungan yang diperoleh diperkirakan bisa mencapai Rp37.500.

Perhitungan tersebut menunjukkan, buah yang sebelumnya kurang bernilai dapat diolah menjadi produk sederhana dengan peluang ekonomi, sekaligus menjadi sarana belajar kewirausahaan bagi siswa.

Tak Hanya Bernilai Jual, SILLENICA Kurangi Limbah

Manfaat SILLENICA tidak berhenti pada sisi ekonomi. 

Pemanfaatan buah simpur juga menjadi bagian dari upaya mengurangi limbah organik di lingkungan sekitar sekolah.

Buah yang sebelumnya berpotensi terbuang kini memiliki nilai tambah setelah diolah menjadi produk pangan. 

Gagasan tersebut sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal dan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati di lingkungan sekitar.

Baca Juga: Update DTSEN Triwulan 3.2 Tidak Ada Kaitannya dengan Pendaftaran Perlinsos, Ini Penjelasannya

“Kami ingin buah simpur tidak hanya dilihat sebagai buah yang tumbuh di sekitar sekolah, tetapi juga sebagai potensi lokal yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan oleh generasi muda,” kata Kiana.

Pendekatan itu membuat SILLENICA memiliki dua sisi manfaat sekaligus, yakni membuka peluang kewirausahaan pelajar dan mendorong pemanfaatan bahan lokal secara lebih bertanggung jawab.

Disiapkan untuk Dikembangkan

Ke depan, tim SILLENICA tidak ingin berhenti pada produk yang sudah ada. 

Mereka menyiapkan sejumlah pengembangan, mulai dari penambahan varian rasa hingga pembaruan desain kemasan agar lebih menarik bagi konsumen.

Tim juga berencana mengurus izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sebagai bagian dari persiapan agar produk dapat dipasarkan secara lebih luas, termasuk ke warung dan kantin sekolah.

Pengembangan SILLENICA juga diarahkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam proses produksi. 

Dengan begitu, inovasi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan sebuah produk, tetapi juga menjadi wadah pembelajaran kewirausahaan berbasis lingkungan.

Dengan dukungan sekolah dan pemerintah kelurahan, Sillenica diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu inovasi pelajar yang mengangkat potensi lokal Kota Bogor.

Baca Juga: Viral! DTSEN Cek Bansos Beda-beda, Ada yang Sudah Triwulan 4 Ada yang Masih 3, Ini Penjelasannya

Bagi Kiana dan timnya, buah simpur bukan lagi sekadar buah yang tumbuh di sekitar Sempur. 

Dari buah tersebut, muncul sebuah gagasan sederhana yakni memanfaatkan apa yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, sekaligus mengajak generasi muda lebih peduli terhadap potensi daerahnya. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
Buah simpur SMP Negeri 11 bogor