Tak Sekadar Edukasi, Eco-Technopark UIKA Bogor Targetkan Sampah Kampus Tak Keluar Lingkungan

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 11:36 WIB
Pelaksanaan Science Day 2026 di Eco-Technopark UIKA Bogor. (Foto: Fikri/Radar Bogor)
Pelaksanaan Science Day 2026 di Eco-Technopark UIKA Bogor. (Foto: Fikri/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Universitas Ibn Khaldun atau UIKA Bogor terus mengembangkan pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui Eco-Technopark.

Fasilitas di UIKA Bogor itu ditargetkan mampu mengelola sampah yang dihasilkan dari lingkungan kampus agar tidak lagi keluar dari area kampus.

Upaya tersebut diperkuat melalui pelaksanaan Science Day 2026 di Eco-Technopark dan Aula UIKA Bogor, Rabu 30 September 2026.

Kegiatan ini diisi dengan workshop pengelolaan sampah, pameran teknologi ramah lingkungan, open house Eco-Technopark, serta games edukatif pengelolaan sampah.

Penggagas Eco-Technopark UIKA Bogor, Budi Susetyo mengatakan, fasilitas tersebut dibangun sebagai model pengelolaan sampah berbasis komunitas, khususnya di lingkungan kampus.

Model itu diharapkan dapat direplikasi oleh komunitas lain sesuai dengan kondisi masing-masing.

Baca Juga: Awas Cedera, Ini Rahasia Taklukkan 5 Materi Tes Kesamaptaan Poltekpin 2026

“Eco-Technopark adalah model pengelolaan sampah berbasis komunitas, setidaknya untuk komunitas kampus,” kata Budi.

Menurut dia, pengelolaan sampah di Eco-Technopark menggunakan konsep TPS 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle.

Ketiga fungsi tersebut ditargetkan berjalan secara penuh sehingga sampah yang dihasilkan dari aktivitas kampus dapat ditangani di lingkungan kampus.

“Pengelolaan sampah kampus dikelola dan diselesaikan di tingkat kampus, dengan target tidak ada lagi sampah yang keluar dari lingkungan kampus,” ujarnya.

Eco-Technopark juga dikembangkan sebagai instalasi pendidikan untuk memperkuat literasi pengelolaan sampah.

UIKA Bogor melibatkan pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA agar mengenal pengelolaan sampah melalui teknologi dan pendekatan STEM.

Budi menjelaskan, pengembangan Eco-Technopark juga diarahkan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.

Salah satunya melalui pengolahan limbah batok kelapa muda menjadi cocopeat yang dapat digunakan sebagai media tanam campuran kompos.

“Dulu pedagang harus membayar Rp5.000 per karung untuk membuang limbah tersebut. Dengan teknologi yang ada di sini, batok kelapa diproses menjadi cocopeat yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai media tanam campuran kompos,” jelasnya.

Selain pengolahan sampah, Eco-Technopark juga mengembangkan pengolahan gaharu menjadi minyak wangi.

Baca Juga: Bangga Kencana di Kabupaten Bogor, BKKBN Dorong Keluarga Berkualitas dan Cegah Stunting

Saat ini UIKA bekerja sama dengan petani gaharu di Kabupaten Belitung dengan dukungan mahasiswa asal Belitung yang menempuh pendidikan di UIKA.

Budi berharap produk olahan gaharu tersebut dapat menghasilkan produk yang teruji dan memiliki potensi untuk menembus pasar ekspor.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono mengapresiasi pengembangan Eco-Technopark UIKA Bogor.

Menurut dia, pelibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam penyelesaian persoalan sampah dari hulu.

“Penyelesaian permasalahan sampah tidak akan selesai tanpa adanya pelibatan dari masyarakat,” kata Diaz.

Diaz menilai berbagai teknologi pengolahan sampah tidak akan berjalan optimal tanpa pemilahan yang baik sejak dari sumbernya.

Karena itu, dia mendorong UIKA dan komunitas yang terlibat untuk memperkuat pemilahan sampah dari hulu.

Dia juga mengapresiasi mesin pemilah sampah yang dikembangkan UIKA. Menurutnya, pemilahan dapat meningkatkan nilai ekonomi material yang masih bisa dimanfaatkan.

Dia mencontohkan botol PET. Material tersebut memiliki nilai jual lebih tinggi setelah melalui proses pemilahan, pencucian, dan pencacahan dengan baik.

Rektor UIKA Bogor, Prof. Mujahidin mengatakan, penanganan sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak.

Baca Juga: Garitan Kalong Liud Bogor Antar ANTAM UBPE Pongkor Raih Gold CSR & PDB Awards 2026

Menurut dia, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri jika masyarakat belum membiasakan pemilahan sampah dari rumah.

“Penekanan utama kita adalah penanganan sampah dari rumah. Kita berharap semua keluarga dan rumah tangga bisa lebih peduli lagi,” katanya.

Melalui Science Day 2026, UIKA juga mendorong terbentuknya jejaring pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan pakta integritas, workshop, dan Focus Group Discussion (FGD) untuk memperkuat kemitraan pengelolaan sampah. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
Eco-Technopark pengelolaan sampah uika bogor