RADAR BOGOR - Batik perlahan meninggalkan kesan kunonya. Akhir-akhir ini banyak anak muda yang justru gemar menggunakan kain trasional itu.
Motif dan model batik yang dibuat kian beragam. Hal itu, membuat pakaian ini tidak hanya digunakan pada acara formal, tapi juga jadi tren fashion kekinian.
Kota Bogor sebetulnya tak asing dengan batik. Di wilayah ini terdapat satu lokasi yang dikenal dengan nama Kampung Batik Cibuluh.
Kampung tersebut berlokasi di Jalan Neglasari, Kecamatan Bogor Utara. Begitu masuk ke lokasi ini, pandangan langsung dimanjakan dengan beragam mural batik.
Di Kampung Batik Cibuluh sedikitnya ada 24 pengrajin dan tujuh gerai. Masing-masing menawarkan beragam motif dan produk yang siap dipasarkan.
Salah satunya Batik Melinda. Gerai ini sudah berdiri sejak sembilan tahun silam. Ini adalah bisnis keluarga yang kini semakin berkembang.
Baca Juga: P2MW 2026 Universitas Pakuan: Enam Tim Mahasiswa Bersiap Menuju KMI Expo 2026
Di depan sebuah rumah berwarna putih, deretan kain batik dipajang. Warna,model dan motif batik yang dipamerkan juga beragam.
Sementara masuk pada bagian belakang rumah, aroma malam tercium menyengat. Di lokasi inilah Corneliawati Melinda meluapkan ide pada hamparan kain putih.
Saban hari, tangannya tak pernah lepas menggenggan canting. Alat tersebut sudah menjadi teman setianya, baik dikala senang ataupun susah.
“Ya setiap hari aja kaya gini. Gerai kami ini bisnis keluarga, pertama kali berdiri waktu 10 September 2017 lalu,” jelas Pemilik Batik Melinda itu.
Batik Melinda punya motif khas yang kini menjadi identitasnya. Motif tersebut terinspirasi dari buah pala yang dikenal sebagai salah satu komoditas khas Bogor.
“Tapi waktu itu bu Yanti Rachim datang, dia mengusulkan agar memadukan dengan Kujang. Jadi sekarang ada Pala dan Kujang yang jadi ciri khas Batik Melinda,” ujarnya.
Produksi Batik Melinda bukan ‘kaleng-kaleng’. Bagaimana tidak, semua teknik membatik mereka gunakan. Mulai dari tulis, hingga cap.
“Kalau cap gitu lebih muda karena kaya sudah tercetak. Tapi kalau batik tulis kita harus buat sketsanya baru abis itu dicanting,” beber Melinda.
Perbedaan proses tersebut membuat waktu produksinya cukup jauh. Untuk batik cap bisa diselesaikan dalam waktu satu hari saja.
“Biasanya aku sama bapa itu bisa buat 15 pcs seharu kalau untuk batik cap, dengan panjang lebih kurang dua meter,” terang Melinda.
Baca Juga: UMKM Tak Bisa Lagi Abaikan AI, IBI Kesatuan Bekali Pelaku Usaha Strategi Naik Kelas
Sementara batik tulis, Melinda butuh waktu satu pekan untuk menyelesaikannya. Tak heran batik jenis ini dijual dengan harga lebih tinggi.
“Batik cap itu biasanya 200 sampai Rp250 ribu. Kalau untuk batik tulis, Rp500 ribu sampai satu juta,” ungkap Melinda saat ditemui Radar Bogor.
Melinda meyakini batik tidak pernah lekang oleh waktu. Namun kondisi ini perlu disesuaikan dengan motif dan warna pada setiap diproduksinya.
“Kalau dulu batik itu kesannya kuno, tapi sekarang kita harus bisa pintar memainkan warna, terus model modelnya juga yang kekinian, jadi tidak terlalu tua,” terangnya.
Oleh karenanya Melinda terus berkreasi. Produk batik yang dihasilkannya saat ini bukan hanya kain saja. Tapi barang-barang yang memang banyak dicari.
“Kita ada baju cewe atau cowo, terus baju anak juga ada, sel batik, terus ada tooth bag, totopong dan aksesoris, seperti ikat rambut, gantungan kunci,” ucapnya
Produk yang paling banyak diburu oleh anak-anak muda adalah auter. Bisanya mereka menggunakan ini untuk mix and match melengkapi outfitnya.
Baca Juga: Little Bom-Bom Bogor, Kafe Unik Dekat Suryakencana yang Bisa Cake Painting Sambil Kulineran
Bagi Melinda membatik bukan hanya soal uang dan pekerjaan. Aktivitas ini jadi salah satu upayanya untuk merawat dan melestarikan budaya.
“Kita harus semakin bangga dengan batik. Sekarang batik juga bisa digunakan untuk fashion, kita harus melestarikan budaya yang sudah ada,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin