RADAR BOGOR - Pembayaran parkir di Suryakencana Kota Bogor sudah menggunakan metode non tunai, pengendara hanya tinggal scan QRIS atau barcode yang diberikan.
Juru Parkir (Jukir) sudah dibekali aplikasi khusus yakni R-Parkir ia akan mengimput Nomor Polisi Kendaraan yang akan keluar dari lahannya.
Untuk kendaraan roda dua dibandrol dengan harga Rp3 ribu, mobil Rp4 ribu, kendaraan box kecil dan besar dikisaran tujuh hingga Rp10 ribu.
“Jadi uangnya langsung masuk ke kas daerah, kalau untuk aplikasinya dikasih sama Bapenda,” kata Salah seorang Jukir di Surken, Iwan.
Baca Juga: Indonesia vs Thailand di Final ASEAN Cup 2026, Ini Jadwal hingga Live Streaming-nya
Iwan pun mengapresiasi terobosan tersebut, baginya pembayaran parkir dengan metode QRIS dapat mempermudah kinerjanya.
“Jadi memudahkan tidak repot cari receh buat kembalian, tinggal scan aja langsung pengendaranya,” ucap Iwan saat ditemui Radar Bogor, Minggu, 4 Oktober 2026.
Namun Iwan mengakui metode pembayaran QRIS ini belum berjalan optimal, sebab masih ada pengendara yang lebih pilih bayar pakai uang cash.
“Pesentasenya 40 ke 60 lah, kalau yang 40 yang QRIS kalau yang 60 yang cash, jadi anak-anak muda yang biasanya pakai QRIS nah yang ribet ibu-ibu,” beber Iwan.
Pembayaran QRIS ini juga berlaku saat Iwan hendak setoran, uang tunai yang diterimanya ditukar menggunakan uang digital.
“Saya setorannya langsung pakai Q Ris saldonya langsung masuk, jadi dari aplikasi ini ketauan, punya saya sehari berapa dapatnya,” jelasnya.
Metode pembayaran QRIS ini diterapkan bukan tanpa alasan, Pemerintah Kota Bogor tengah meminimalisir potensi kebocoran retribusi parkir.
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin mengungkapkan dari 530 Jukir sebanyak 63 persennya sudah menggunakan skema pembayaran QRIS.
"QRIS ini buat siapa? Bisa buat si pelanggan bayar lewat QRIS, atau si petugas setor ke kas daerah pakai QRIS yang dia miliki sendiri," ungkapnya.
Masyarakat tetap diperbolehkan membayar secara tunai, pembayaran digital dinilai lebih mudah dipantau karena transaksi tercatat melalui sistem.
"Jadi cashless atau uang yang setor di bendahara, di Danru, dan di Kantor Dishub, itu kita harap tidak ada lagi uang cash, tapi semua masuk langsung by system," terangnya.
Pemkot Bogor menargetkan pendapatan retribusi parkir meningkat dari sekitar Rp4 miliar menjadi Rp11 miliar pada tahun depan. Penambahan titik parkir malam dan penerapan sistem digital menjadi bagian dari upaya mencapai target tersebut.
Jenal menambahkan, pihaknya juga akan membentuk satgas untuk mengawasi pengelolaan parkir di lapangan. Pengawasan itu termasuk mengantisipasi praktik pungutan liar yang dilakukan oknum.
"Kita ada Satgas yang akan kita bentuk. Kemarin saya ngobrol juga dengan Pak Wakapolres, beliau sangat respon, beliau sangat positif, dan tim SIGAP siap mendampingi apabila ada masyarakat merasa dan melihat ada praktik pungli," pungkasnya. (bay)
Editor : Eka Rahmawati