RADAR BOGOR - RT 09 RW 06, Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, kembali mengikuti penilaian Bogorku Bersih kategori permukiman teratur. Warga memilih mempertahankan kebiasaan menjaga kebersihan yang sudah berjalan sehari-hari.
Ketua RT 09 RW 06, Panji Yudha Prakasa mengatakan, pihaknya tidak menyiapkan persiapan khusus untuk mengikuti penilaian. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah untuk menunjukkan budaya bersih yang sudah dilakukan warga.
“Kemenangan bukan menjadi tujuan utama. Kami ingin menunjukkan bahwa sebenarnya ada budaya dari warga kami. Kalau pagi, warga suka menyapu, bersih-bersih, dan memilah sampah,” kata Panji.
Baca Juga: Jalan Saleh Danasasmita Batutulis Bogor Ditarget Selesai Akhir Oktober 2026, Awal November Uji Coba
Kebiasaan tersebut terus didorong melalui kegiatan warga. Pengurus RT rutin mengajak warga mengikuti kerja bakti. Warga dari berbagai usia ikut membersihkan lingkungan tanpa membedakan usia.
Panji mengatakan, sosialisasi juga dilakukan melalui forum arisan ibu-ibu dan kegiatan PKK tingkat RW. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi cara untuk menjaga motivasi warga agar kebiasaan baik tetap berjalan.
Dalam pengelolaan sampah, setiap rumah melakukan pemilahan. Sampah organik diolah menjadi kompos dan sebagian dimanfaatkan untuk budidaya magot.
“Kita punya magot. Sampah-sampah organik tadi jadi makanan magot. Alhamdulillah kita sudah pilot project tahun ini yang fokus ekonominya nanti untuk pakan ternak,” ujarnya.
Sementara sampah anorganik, khususnya plastik, dikumpulkan melalui bank sampah. Sebagian warga juga mengolah sampah plastik menjadi berbagai kerajinan, seperti bunga dan vas untuk hiasan rumah.
RT 09 memiliki sekitar 42 kepala keluarga. Untuk menangani sampah organik, setiap rumah didorong memiliki lubang biopori. Warga yang memiliki keterbatasan lahan mendapat fasilitas biopori komunal.
Biopori juga tersedia di sejumlah titik sempadan Sungai Ciliwung dan di bawah pepohonan. Selain biopori, warga mengolah sampah daun yang berasal dari kawasan sempadan sungai menjadi kompos.
Panji menyebut wilayah RT 09 memiliki panjang sekitar 500 meter. Di sepanjang sempadan sungai terdapat lebih dari 30 pohon yang menghasilkan banyak sampah daun.
Untuk pengomposan, warga memiliki tiga lubang kompos dengan ukuran sekitar 1,5 meter kubik setiap lubang. Pengurus RT kemudian mengevaluasi proses pengomposan yang dilakukan sebelumnya.
“Daun di sini besar-besar, jadi butuh waktu yang lebih lama lagi untuk bisa jadi kompos. Akhirnya kita mengadakan mesin pencacah daun, jadi bisa kita memperkecil ukuran daun sehingga proses pengomposan jadi lebih cepat,” jelas Panji.
RT 09 sebelumnya mencatat prestasi dalam ajang serupa. Pada 2024, lingkungan tersebut masuk lima besar. Setahun kemudian, RT 09 berhasil meraih juara tiga.
Tahun ini, Panji berharap hasilnya bisa meningkat. Namun, ia menegaskan bahwa capaian dalam perlombaan bukan tujuan utama.
“Harapannya kita meningkat. Tapi tadi sebenarnya juara itu bukan tujuan utama kita. Tujuan utama kita adalah memotivasi warga agar budaya yang selama ini sudah baik tetap dipertahankan,” tandasnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati