RADAR BOGOR - Becak menjadi bagian dari nafas panjang perjalanan Kota Bogor. Moda transportasi umum itu sempat ‘merajai’ ruas jalan di wilayah ini.
Kekuatan kaki, jadi hal yang utama untuk menghantarkan penumpang. Banyak warga yang juga menggantungkan hidupnya lewat kayuhan pedal becak.
Namun eksistensinya perlahan tergerus. Tanda tangan penguasa, membuat mobilitas sopir becak terganggu. Ruas jalan yang bisa dilalui dipersempit.
Lewat Perwali nomor 15 tahun 2006, becak dilarang melintas di 16 ruas jalan protokol. Hal ini membuat sopir hanya beraktivitas di jalan-jalan kampung saja
Belum lagi, moda transportasi umum lain terus bermunculan. Kondisi itu membuat persaingan kian terasa. Banyak juga sopir yang pilih untuk berhenti.
Perjalanan panjang tersebut dirasakan betul oleh Obet Purwanto. Pria berusia 69 itu sudah dari 1982 menjalani profesinya sebagai sopir becak.
Baca Juga: SDN Batulayang Cisarua Bogor Kelebihan Siswa, 815 Anak Belajar dalam Tiga Shift
Malam pergantian 1982 Obet mulai menapakkan kakinya pada pedal. Ia saat itu mendapat pinjaman becak dari rekan sejawatnta.
Tarikan pertama mengarahkan Obet menuju Jembatan Merah. Saat itu ia merasakan beratnya mencari nafkah dengan mengandalkan kekuatan kaki.
“Rasanya luar biasa. Beratnya, nafas jantung deg-degan. Apalagi belum makan dari pagi. Ini memang betul yang saya alami begitu,” tutur Obet.
Keringat yang terus mengucur tak menyulutkan semangatnya. Senyuman Obet bisa kembali terpancar saat bisa membawa pulang Rp50 ribu perhari.
Puluhan tahun mengayuh becak membuat Obet melihat berbagai perubahan. Kini uang Rp50 ribu jarang sekali singgah di dompetnya.
“Kalau sekarang paling Rp30 ribu paling besar itu juga harus dari pagi sampai sore. Ditambah kan aturan lalu lintasnya juga sudah ada,” ujar Obet.
Pelanggaran terhadap aturan tersebut juga bisa berujung penertiban. Becak yang nekat melintas di ruas jalur yang dilarang bisa diangkat oleh petugas.
Meski ruang geraknya semakin terbatas, Obet tetap bertahan. Hingga kini, ia masih mengandalkan becak sebagai salah satu sumber penghasilan.
Ia kebingungan mencari sumber penghasilan lain. Apalagi usianya tak lagi muda. Stamina Obet lebih cepat menyusut ketimbang masa jayanya saat itu.
Namun Obet mendapat nafas. Pada Selasa 6 Oktober 2026 namanya dipanggil untuk mendapat bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Kriteria KPM Prioritas Tahap 4, Aturan Penggunaan KKS hingga Cara Turun Desil
Obet menjadi satu dari 160 sopir becak yang mendapat bantuan tersebut. Senyumannya kembali terpancar seperti era 2000 an.
Becak yang menjadi saksi hidupnya kembali mendapat panggung di jalanan. Bedanya ia kini sudah tak mesti lagi mengayuh pedal berkilo-kilo meter.
Kehadiran becak listrik dinilai dapat meringankan beban sopir, khususnya mereka yang sudah memasuki usia lanjut seperti Obet.
Perbedaan tenaga langsung dirasakan Obet. Jika menggunakan becak biasa, membawa dua penumpang menuju kawasan menanjak bisa menguras fisik.
“Kalau seusia saya, sampai Korem saja kadang-kadang sudah capai. Terutama dari BNI, itu nanjaknya luar biasa. Ini setelah pakai, meringankan tenaga,” jelasnya.
Sebelum digunakan, penerima becak listrik terlebih dahulu mengikuti pengenalan teori dan teknik pada 27 September 2026 di Kelurahan Ciluar.
Mereka juga menjalani tes sebelum dinyatakan mampu mengoperasikan kendaraan tersebut.Setelah dinyatakan lolos, penerima membuat surat perjanjian.
Becak listrik itu juga memiliki perbedaan dari sisi ukuran. Obet menyebut kendaraan yang diterimanya lebih lebar dibandingkan becak yang biasa digunakan.
Karena baru satu hari mengoperasikannya, ia memilih untuk lebih berhati-hati. Terlebih, kendaraannya digunakan di tengah lalu lintas
“Namanya juga baru satu hari, pastinya ekstra hati-hati. Di jalan bukan kita sendiri. Kadang kita sudah teliti, orang lain kadang-kadang,” ujarnya.
Baca Juga: Banjir Informasi Makin Cepat, BPC Perhumas Bogor Soroti Pentingnya Kepercayaan Publik
Untuk urusan tarif, Obet masih berpatokan pada harga lama. Besaran ongkos didasari pada kesepakatan antara sopir dan penumpang.
Saat ini, ia juga masih menunggu arahan lebih lanjut sebelum bisa mengoperasikan becak listrik secara penuh. Ia belum bisa mengangkut penumpang leluasa.
Persoalan lain yang mulai diperhatikan adalah daya baterai. Obet harus mengecas becak listriknya secara mandiri di rumah, dengan daya 220 watt.
“Kalau saya si belum sempat mencoba ngeas dari kemarin, ini masih awet dari kemarin. Ngecas ya di rumah, cuma saya takut ga kuat listriknya,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin