RADAR BOGOR – Sebanyak 50 bibit tanaman obat mulai ditanam di Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB University.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program Dosen Pulang Kampung Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University yang kini memasuki tahap penanaman.
Penanaman dilakukan oleh tim dosen SKHB bersama mahasiswa dan petani penggarap lahan di ATP IPB University. Sebanyak 10 jenis tanaman obat dipilih untuk ditanam di lahan koleksi tersebut.
Jenis tanaman yang dibudidayakan meliputi binahong, kumis kucing, bunga telang, sirih, kunyit, temulawak, jahe, sambiloto, lidah buaya, dan kelor.
Kebun Tanaman Obat Dibagi dalam Beberapa Zona
Untuk memudahkan proses pembelajaran dan pengenalan tanaman, kebun tersebut ditata berdasarkan karakteristik masing-masing jenis tanaman.
Zona pertama diperuntukkan bagi tanaman merambat. Binahong, sirih, dan bunga telang ditempatkan pada area yang dilengkapi tiang serta para-para sebagai media rambatan.
Baca Juga: Avengers : Endgame Geser Avatar, Kembali Jadi Film Terlaris Sepanjang Masa
Selanjutnya terdapat zona herba dan perdu yang diisi kumis kucing, sambiloto, serta lidah buaya.
Sementara itu, kunyit, temulawak, dan jahe ditempatkan dalam zona khusus tanaman rimpang.
Adapun tanaman kelor ditanam di bagian tepi kebun dan difungsikan sebagai tanaman pembatas.
Setiap jenis tanaman juga dilengkapi papan identitas. Informasi pada papan tersebut mencantumkan nama lokal, nama ilmiah, bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan, hingga khasiatnya bagi manusia maupun ternak.
Mahasiswa Terlibat Langsung dalam Penanaman
Kegiatan budidaya tanaman obat ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari dosen, mahasiswa hingga petani yang menggarap lahan ATP IPB University.
Keterlibatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman secara langsung mengenai proses budidaya tanaman di lapangan.
"Kami ikut dari penyiapan bedengan sampai penanaman. Kami juga mencatat pertumbuhan setiap tanaman. Ternyata bunga telang dan binahong cepat sekali merambat kalau rambatannya sudah siap," tutur Daffa' Rizal Dzulfaqaar Alauddin.
Selain melakukan penanaman, mahasiswa juga turut mengamati perkembangan tanaman yang dibudidayakan.
Catatan tersebut nantinya menjadi bagian dari data pertumbuhan tanaman selama berada di lahan ATP IPB University.
Gunakan Budidaya Organik untuk Jaga Mutu Tanaman Obat
Dr. Rini Madyastuti Purwono, S.Si., Apt., M.Si. menjelaskan bahwa kualitas bibit dan proses penanganannya menjadi faktor penting dalam menentukan mutu bahan obat yang dihasilkan dari tanaman.
Baca Juga: BRT Bogor Raya Segera Dibahas, 2 Koridor Disiapkan Hubungkan Cisarua-Kota Bogor-Depok
Menurutnya, kandungan zat aktif pada tanaman dapat dipengaruhi oleh metode budidaya maupun waktu pemanenan. Karena itu, pencatatan dilakukan sejak tanaman mulai dibudidayakan.
"Kandungan zat aktif tanaman dipengaruhi cara budidaya dan waktu panennya. Daun kumis kucing dan binahong, misalnya, sebaiknya dipanen pada umur dan bagian yang tepat agar khasiatnya optimal. Hal-hal seperti ini yang kami catat sejak awal penanaman," jelasnya.
Dalam proses persiapan lahan, tim menggunakan pupuk kompos. Pemanfaatan pupuk organik tersebut dilakukan untuk membantu mempertahankan kesuburan tanah sekaligus menjaga agar bahan tanaman obat yang dihasilkan tidak mengandung residu pupuk kimia.
Perawatan tanaman selanjutnya dilakukan secara rutin. Kegiatan tersebut meliputi penyiraman, penyiangan, serta pengendalian hama menggunakan metode organik.
Tim juga mengumpulkan data pertumbuhan masing-masing tanaman. Data tersebut digunakan untuk mengetahui kesesuaian setiap jenis tanaman dengan kondisi lahan di ATP IPB University.
Hasil pengamatan tersebut nantinya menjadi bahan pendukung untuk kegiatan pelatihan pengolahan tanaman obat yang direncanakan berlangsung pada bulan berikutnya. (***)
Editor : Yosep Awaludin