IPB University Siapkan Konsorsium Gambut Sirkuler, Riset Ditargetkan Jadi Solusi Nyata

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 12:58 WIB
Dialog Gambut Sirkuler yang digelar Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) bersama Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University. Foto: Dok Panitia for Radar Bogor
Dialog Gambut Sirkuler yang digelar Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) bersama Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University. Foto: Dok Panitia for Radar Bogor

RADAR BOGOR – IPB University mendorong hasil penelitian tentang gambut agar tidak berhenti di atas kertas, tetapi dapat diterapkan langsung untuk mendukung pemulihan ekosistem sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.

Upaya tersebut diwujudkan IPB University melalui gagasan pembentukan Peatland Circularity Consortium (PCC), sebuah platform kolaborasi yang mempertemukan akademisi, lembaga riset, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mengembangkan pengelolaan gambut berkelanjutan.

Gagasan ini dibahas dalam Dialog Gambut Sirkuler yang diselenggarakan Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) bersama Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Senin, 5 Oktober 2026.

Baca Juga: Sinkronisasi Data TPG 9 Oktober 2026, Cek Verifikasi Dapodik dan Info GTK

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Kampus IPB Dramaga tersebut merupakan bagian dari Program Diaspora Berdampak Kemdiktisaintek.

Kepala CTSS IPB University, Prof. Husin Alatas, mengatakan gambut selama ini kerap dikaitkan dengan persoalan kebakaran hutan dan lahan. Padahal, ekosistem tersebut juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui pendekatan ekonomi sirkuler tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya.

Melalui PCC, berbagai penelitian dan inisiatif pengelolaan gambut diharapkan dapat terhubung sehingga lebih mudah diterapkan di lapangan.

IPB Soroti Kesenjangan antara Riset dan Penerapan di Lapangan

Baca Juga: Mahasiswi Unida Bogor Juara 1 Pencak Silat Nasional, Sebriana Bidik Level Internasional

Chief of Fellow CTSS IPB University, Prof. Damayanti Buchori, menilai salah satu tantangan pengelolaan gambut adalah masih terbatasnya penerapan hasil penelitian dalam kegiatan nyata.

Menurutnya, PCC dirancang untuk menjembatani kebutuhan tersebut sekaligus mempercepat proses restorasi dan pengembangan pendekatan regeneratif pada ekosistem gambut.

“PCC itu memang diharapkan untuk bisa menjadi implementor dari riset-riset yang sudah ada, tapi juga menjadi katalisator untuk mempercepat proses-proses restorasi, regeneratif, dan sebagainya,” ujarnya.

Damayanti menjelaskan, pengelolaan gambut tidak dapat dilakukan hanya dari satu sudut pandang. Persoalan ini melibatkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi sehingga membutuhkan pendekatan transdisiplin serta kolaborasi lintas sektor.

Baca Juga: Kopi Nako Puri Jakarta Barat: Cabang ke-81, Lokasi dan Menunya

Selain kerja sama antarorganisasi, pengembangan pengelolaan gambut juga membutuhkan alternatif pendanaan, model bisnis yang jelas bagi industri, serta keterlibatan pengetahuan lokal dalam proses pengambilan keputusan.

Dengan pendekatan tersebut, upaya menjaga ekosistem gambut diharapkan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Sagu hingga Ekowisata Jadi Peluang Ekonomi Gambut

Dalam dialog tersebut, diaspora Indonesia dari Wageningen University & Research (WUR), Belanda, Dr. Aritta Suwarno, menekankan pentingnya menciptakan nilai ekonomi jangka panjang dari pemanfaatan sumber daya gambut.

Baca Juga: Inovasi Tak Biasa Jadi Andalan, Desa Gunung Putri Bogor Bidik Juara 1 Nasional 2026

Namun, pengembangan ekonomi harus tetap mempertahankan, bahkan memperkuat, fungsi ekologis ekosistem tersebut.

Salah satu peluang yang dibahas adalah pengembangan komoditas yang sesuai dengan karakteristik lahan gambut. Direktur Utama PT Bangka Asindo Agri, Fidrianto, memaparkan pengalaman pengembangan industri sagu dengan pendekatan zero waste atau minim limbah.

Sagu dinilai berpotensi menghubungkan kegiatan ekonomi dengan pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan. Meski demikian, pemilihan komoditas dan pengelolaan lahan tetap harus mempertimbangkan kondisi hidrologi agar tidak mengganggu keseimbangan ekosistem gambut.

Selain komoditas, ekowisata berbasis ekosistem gambut juga dibahas sebagai peluang untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan.

Pilihan lainnya adalah pengembangan lokasi percontohan di Riau. Lokasi tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk menguji pendekatan pengelolaan gambut sirkuler sekaligus memperkuat kerja sama antara akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.

Baca Juga: Pencairan PPSE Rp5 Juta, Fakta PKH Cair Ganda dan Pemutakhiran Perlinsos

IPB University Perkuat Kolaborasi dengan Kampus Belanda

Sebagai bagian dari upaya memperluas kolaborasi, CTSS dan Departemen Silvikultur IPB University menandatangani letter of intent (LoI) bersama Wageningen University & Research.

Penandatanganan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kerja sama dalam pengembangan gagasan dan penerapan pengelolaan gambut berkelanjutan.

Melalui Peatland Circularity Consortium, IPB University berharap hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi program yang relevan dengan kondisi ekosistem dan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: 6 Bansos Cair Oktober 2026: Cek Syarat, Jenis dan Mekanisme Penyalurannya

Kolaborasi ini juga diarahkan untuk mempertemukan kepentingan ekonomi dengan upaya restorasi serta perlindungan lingkungan. Dengan demikian, pengelolaan gambut diharapkan tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem dalam jangka panjang.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
gambut riset ipb university