100 Sepuh Sunda Berkumpul di Museum Pajajaran Bogor, Ini yang Dibahas

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 16:21 WIB
Para sepuh pelestari budaya, budayawan, serta pelaku seni dari Bogor, Sukabumi, Depok, dan Cianjur berkumpul di Museum Pajajaran, Kota Bogor.
Para sepuh pelestari budaya, budayawan, serta pelaku seni dari Bogor, Sukabumi, Depok, dan Cianjur berkumpul di Museum Pajajaran, Kota Bogor.

RADAR BOGOR - Upaya menjaga warisan leluhur Sunda terus dilakukan, melalui ruang dialog dan pertemuan antargenerasi. 

Sekitar 100 sepuh pelestari budaya, budayawan, serta pelaku seni dari Bogor, Sukabumi, Depok, dan Cianjur berkumpul dalam Gotra Sawala Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa di Museum Pajajaran, Kota Bogor.

Pertemuan tersebut, menjadi wadah bagi para sesepuh untuk bertukar pandangan, berdiskusi, sekaligus memperkuat komitmen dalam merawat kebudayaan Sunda. 

Baca Juga: Mobil Tidak Bisa Distarter? Warga Bogor Wajib Cek 2 Bagian Ini

Berbagai persoalan terkait pelestarian tradisi hingga masa depan Museum Pajajaran, menjadi bagian dari pembahasan.

Gotra Sawala tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi. 

Forum ini, membuka ruang bagi para pelaku budaya untuk menyampaikan gagasan dan merumuskan langkah bersama agar warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Perjuangan Golok Menuju Pengakuan UNESCO Jadi Sorotan

Salah satu pembahasan yang menarik perhatian peserta, perjuangan Gatut Susanta dalam mengusung Golok Road to UNESCO. 

Upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar memperkenalkan sekaligus memperjuangkan pengakuan terhadap warisan budaya golok.

Dalam kesempatan itu, Gatut meminta, dukungan dan doa dari para sesepuh Bogor agar perjalanan panjang tersebut dapat terus berlanjut.

“Mohon doanya untuk sesepuh Bogor dalam ikut serta perjalanan panjang Golok Road to UNESCO,” ujar Gatut dalam keterangannya kepada Radar Bogor, Jumat 9 Oktober 2026.

Ia juga mengangkat nilai historis dan budaya golok, sebagai bagian dari warisan masyarakat Sunda. 

Dalam pemaparannya, Gatut menyebut, golok sebagai gagaman sang Prabu yang dikaitkan dengan kitab Sanghyang Siksa Kandang Karesian.

Pembahasan ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menyangkut benda peninggalan masa lalu, tetapi juga upaya menjaga pengetahuan, nilai, dan makna yang melekat di dalamnya.

Wangsit Siliwangi hingga Tritangtu Dibahas Bersama

Diskusi Gotra Sawala dipandu Ketua Sunda Langgeng Wisesa, Ki Karyawan Fathurahman. 

Sejumlah topik yang diangkat meliputi Wangsit Siliwangi, uga, dan Tritangtu.

Pembahasan tersebut menjadi ruang bagi para sepuh untuk saling bertukar pemahaman mengenai nilai-nilai tradisi dan pemikiran Sunda. 

Baca Juga: Range Rover Sport Electric Resmi Meluncur, SUV Mewah yang Tak Takut Main Air

Dialog antarpeserta diharapkan, dapat memperkuat pemahaman bersama sekaligus membuka jalan bagi perumusan gagasan yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Melalui forum seperti ini, pengetahuan budaya yang diwariskan secara turun-temurun memiliki kesempatan untuk terus dibicarakan, dipahami, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Sepuh Dorong Gotra Sawala Digelar Secara Rutin

Para sepuh yang hadir menyambut positif penyelenggaraan Gotra Sawala. 

Mereka menilai, pertemuan semacam ini perlu dilaksanakan secara rutin agar berbagai persoalan kebudayaan dapat dibahas secara berkelanjutan.

Sejumlah hal yang menjadi perhatian antara lain masa depan Museum Pajajaran, keberlangsungan kehidupan para budayawan, serta kondisi para pelaku seni yang turut menjaga tradisi Sunda.

Forum tersebut diharapkan, tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi juga menjadi ruang untuk merumuskan langkah konkret dalam mendukung ekosistem kebudayaan.

Baca Juga: Piaggio Liberty S 125 Dibanderol Rp39 Jutaan, Berkendara Nyaman di Jalan Rusak

Dengan mempertemukan para sesepuh, budayawan, dan pelaku seni dari sejumlah daerah, Gotra Sawala Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa membuka peluang bagi tumbuhnya kerja sama yang lebih kuat dalam pelestarian budaya.

Di tengah perubahan zaman, keberadaan ruang dialog seperti ini menjadi penting agar warisan leluhur tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi tetap dipahami dan dirawat sebagai bagian dari identitas masyarakat Sunda. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor gatut susanta Museum Pajajaran golok