RADAR BOGOR - Di era digital saat ini, masyarakat sudah familiar dengan penggunaan uang digital, begitupun dengan generasi milenial termasuk Gen Z dan Gen Alpha.
Tak sedikit di antara mereka sudah mulai terbiasa mengelola uang jajan berbentuk dompet digital atau bertransaksi secara digital seperti jajan dengan QRIS, belanja online atau naik transportasi dengan transaksi non cash lewat dompet digital.
Namun, maraknya penggunaan uang digital ternyata juga tak sedikit mengalami aksi-aksi penipuan digital. Mulai dari penawaran menggiurkan, yang ternyata merugikan hingga berujung kehilangan isi dompet.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 dari OJK, LPS, dan BPS, indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun mencapai 56,04 persen, sementara indeks inklusi keuangannya mencapai 89,13 persen.
Baca Juga: BRI Peduli Bangun Jembatan Gantung di Cianjur, Akses Sekolah dan Ekonomi Warga Semakin Mudah
“Kesenjangan tersebut menunjukkan pentingnya membekali remaja dengan pemahaman keuangan yang memadai seiring semakin dekatnya layanan keuangan digital dengan keseharian mereka," ujar Direktur Teknologi Bank Permata, Ahmad Mikail Madjid di lokasi yang menjadi tempat Permata berbagi CERITA, SMPN 11 Kota Bogor, Jumat, 16 Oktober 2026.
Menurut Mikail, pengelolaan keuangan banyak dibantu dengan alat-alat digital tetapi banyak risikonya sehingga harus diketahui anak-anak usia sekolah menengah dan diedukasi sejak dini.
Selain pengamanan yang dilakukan secara teknologi, kata Mikail, penting juga edukasi keamanan terhadap transaksi digital ini pada nasabah dan calon nasabah.
“Para siswa belajar mengenai pengelolaan uang saku, mengenal pembayaran digital melalui QRIS, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan melalui metode 3A (Amati, Awasi, Adukan), apabila menemukan atau mengalami hal tersebut,” jelasnya.
A pertama adalah Amati. Perhatikan tanda-tanda mencurigakan, seperti tawaran yang terlalu murah, nomor tidak dikenal, tautan (link) asing, atau permintaan data pribadi seperti kode OTP dan kata sandi.
Lalu, A kedua Awasi yakni jaga keamanan akun dan perangkat Anda. Jangan memberikan data rahasia kepada siapa pun, aktifkan verifikasi ganda, serta waspadai modus penipuan baru seperti tautan phishing atau suara tiruan berbasis AI.
A terakhir atau ketiga, adalah Adukan. Segera laporkan nomor telepon, akun media sosial, tautan, atau transaksi mencurigakan ke pihak berwenang, layanan pengaduan resmi, atau pusat layanan anti-penipuan (scam center) agar segera ditindaklanjuti. Termasuk menghubungi call center untuk memblokir jika pin rekening yang kena.
Fokus tahun ini, Permata CERITA membidik sekolah menengah karena melihat sebagian besar siswa sudah menggunakan alat-alat digital tersebut. “Anak-anak diedukasi dalam bentuk video, simulasi permainan, dan kuis interaktif,” tambahnya.
Hal tersebut menegaskan bahwa melalui CSER Permata Hati dengan program Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) dilakukan di 24 kota di Indonesia, salah satunya digelar di SMPN 11 Kota Bogor, Jumat, 16 Oktober 2026.
“Kami berharap bisa melanjutkan program seperti ini sebagai bagian dari tanggung jawab kami di dunia literasi di tahun-tahun mendatang,” tukasnya.(pia)
Editor : Eka Rahmawati