RADAR BOGOR - Bagi para pecinta kuliner tradisional, Dawet Siembah di kawasan Bangbarung, Kota Bogor adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan.
Berdiri sejak tahun 2000, kedai dawet ini telah menjadi ikon minuman khas Jawa yang melegenda dengan rasa yang otentik dan penyajian unik dari gentong tradisional.
Yang membuat Dawet Siembah begitu istimewa adalah pilihan topping-nya, terutama dawet durian yang menggoda.
Satu porsi dawet dengan durian dibanderol seharga Rp20.000, sementara versi original tanpa durian hanya Rp15.000. Promo menarik sedang berlangsung yakni Buy 2 Get 1 Free.
Meskipun gratisannya hanya untuk varian tanpa durian, tetap saja ini penawaran yang sayang dilewatkan.
Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 Cair Mei 2025, Ini Jadwal Lengkap dan Mekanismenya
Dawet ini terdiri dari perpaduan es batu, cendol, bubur mutiara, cincau, santan, dan gula merah. Versi duriannya menyuguhkan empat potong daging durian asli yang melimpah dan harum.
Rasanya? Manis dan gurih, dengan tekstur yang kaya dan menyegarkan. Cocok dinikmati saat cuaca panas atau sebagai pelepas dahaga setelah beraktivitas.
Yang membedakan Dawet Siembah dari kebanyakan dawet lainnya adalah penyajiannya menggunakan mangkuk besar, bukan gelas plastik.
Ini bukan hanya soal estetika, tapi juga membuat porsi terasa lebih banyak dan mengenyangkan.
Selain es dawet, tempat ini juga menyediakan menu pelengkap seperti soto, sehingga cocok untuk bersantai sambil makan bersama teman atau keluarga.
Area makannya nyaman, tersedia kursi dan satu meja untuk empat orang, juga area lesehan untuk suasana yang lebih santai.
Dawet Siembah buka setiap hari mulai pukul 10 pagi hingga habis, biasanya sekitar jam 2 atau 3 siang dan pastikan datang lebih awal agar tidak kehabisan.
Lokasinya berada di sebelah outlet Jus Kode, cukup mudah ditemukan dan sudah ramai dikenal warga sekitar, tak heran bila tempat ini selalu ramai dikunjungi.
Dawet Siembah bukan sekadar minuman, melainkan pengalaman menikmati cita rasa tradisional yang terus berkembang seiring waktu—persis seperti makna kata “legendaris” yang sesungguhnya.***
Editor : Eka Rahmawati