RADAR BOGOR-Tangan Yuga nampak sibuk Minggu 29 Juni 2025 pagi. Kedua tangan barista muda itu saling bahu membahu, menggiling biji kopi dengan alat giling manual.
Selesai menggiling biji kopi, Yuga kemudian menyiapkan kertas filter dan cangkir kaca untuk meracik kopi v60. Kopi yang dipesan Radar Bogor Minggu Pagi itu.
Biji kopi yang digunakan Kopi Arabika. Proses pembuatan secangkir kopi itu sekitar 5 menit. Kopi yang sudah disajikan dituang kedalam gelas keramik berwarna putih.
Penyajian kopi itu bukan dilakukan di bar cafe, tapi dilakukan di pinggir jalan. Di atas motor Suzuki RC 100.
Motor bebek tua keluaran Suzuki itu pertama kali diproduksi dan diluncurkan di Indonesia pada 1986.
Motor yang merupakan penerus dari RC80 dan memiliki kapasitas mesin 100cc. Motor yang produksinya berlanjut hingga tahun 1994 dengan munculnya varian RC100 Bravo.
Di atas motor itu Yuga meracik kopi. Ada beragam varian racikan kopi yang dijual di atas motor tua itu.
Mulai dari kopi susu, Vietnam Drip hingga butterscoth. Lapak kopi itu berada di pinggir jalan GDC. Tidak jauh dari alun-alun Depok GDC. Namanya Asmaraloka Street Coffee.
"Untuk harga di kisaran Rp10 ribu hingga paling mahal Rp18 ribu," kata Yuga kepada Radar Bogor Minggu (29/6/2026).
Kedai kopi pinggir jalan GDC itu sudah dua tahun beroperasi. Untuk hari biasa, Senin hingga Sabtu buka mulai pukul 16.00 WIB. Khusus di hari Minggu, buka sejak pagi.
Pelanggan yang datang beragam. Mulai dari kalangan pelajar mahasiswa hingga para pekerja.
Untuk rasa kopi yang disajikan tidak kalah dengan sajian kopi di caffee. Hal itu yang membuat kopi pinggir jalan itu kerap ramai dikunjungi pecinta kopi.
Ferdian salah satunya. Ia mengaku kopi yang disajikan tidak kalah dengan kopi di kafe. Harganya juga terjangkau untuk segelas kopi yang ia pesan.
"Kalau di kafe biasanya saya harus bayar Rp30 ribu, di sini cuman Rp18 ribu. Seduhannya juga enak," tuturnya. (faj)
Editor : Yosep Awaludin