RADAR BOGOR – Tak disangka, dari sebuah kedai mungil di sudut Cipete, Toko Kopi Tuku kini menjejakkan langkah di salah satu pusat kopi dunia: Amsterdam.
Kopi Tuku hadir bukan sekadar ekspansi, tetapi membawa misi mengenalkan rasa lokal sambil menjaga filosofi: jadi tetangga yang ramah, bukan sekadar penjual kopi.
Kopi Susu Gula Aren: Rasa Lokal, Sambutan Global
Di tengah udara dingin dan kanal khas Belanda, kopi susu gula aren justru mencuri perhatian dan memikat rasa penasaran para pengunjung festival.
Sejak dua tahun terakhir, Tuku aktif meramaikan Amsterdam Coffee Festival, menyajikan racikan kopi lokal yang digandrungi di Indonesia dengan pendekatan sederhana tetapi penuh makna.
Racikan kopi ini menggabungkan espresso, susu, dan manis alami gula aren—memberi sensasi yang melampaui kopi biasa.
Di tengah gelombang tren third wave coffee, Tuku datang sebagai angin segar: otentik, membumi, dan punya cerita.
Bukan Sekadar Ekspansi, tetapi Ekspresi Budaya
Tahun 2025 menjadi tonggak penting. Tuku segera membuka gerai tetap di Amsterdam, langkah berani yang telah diperhitungkan matang.
Tuku hadir bukan sekadar membuka cabang, tetapi membaur lewat kolaborasi dengan mitra lokal.
Tuku datang ke Amsterdam dengan semangat menjadi bagian dari lingkungan, bukan sekadar membawa rasa dari jauh.
Tak hanya menjual kopi, tetapi juga menjual rasa rindu tentang rumah, tentang pasar tradisional, tentang gula aren yang dituang perlahan ke gelas kopi hangat.
Menyematkan Nilai Lokal di Panggung Global
Tuku bukan raksasa waralaba. Namun, justru itulah kekuatannya. Tuku merintis ekspansi global dengan pijakan kuat—berangkat dari nilai-nilai keberlanjutan dan keterlibatan komunitas sejak awal.
Mereka bermitra dengan lebih dari 900 petani kopi dan ratusan petani gula aren yang membawa hasil bumi Indonesia ke meja orang Belanda, bukan hanya sebagai bahan baku, tetapi sebagai cerita.
Lewat agroforestri, panen beretika, dan pendekatan berbasis komunitas, Tuku membuktikan bahwa kopi bisa dinikmati tanpa meninggalkan keadilan, dari petani hingga konsumen.
Tuku Amsterdam: Bukan Cabang, tetapi Jembatan
Alih-alih mengejar keuntungan semata, Tuku Amsterdam ingin menjadi cultural lab yang menjadi tempat dialog antara Indonesia dan Belanda lewat kopi.
Desain, interior, bahkan suvenir akan dirancang menyesuaikan nilai-nilai lokal Amsterdam, namun tetap membawa rasa Indonesia.
Sebagaimana Tuku hadir di Cipete dulu untuk menyapa warga sekitar, kini mereka ingin menyapa Eropa dengan cara yang sama, yaitu sederhana, rendah hati, dan jujur.
Secangkir Kopi, Sebuah Diplomasi Rasa
Kopi Tuku telah membuktikan bahwa brand lokal bisa melangkah jauh tanpa kehilangan akarnya.
Dengan pendekatan yang jujur dan narasi yang kuat, mereka bukan hanya mengekspor produk, tetapi juga pengalaman, nilai, dan identitas.
Dari Jakarta ke Amsterdam, dari gerobak kopi ke festival internasional, Tuku terus menyeduh mimpi besar dalam cangkir-cangkir kecil.
Dan siapa tahu, tak lama lagi, kamu bisa menyeruput Es Kopi Tuku sambil melihat daun-daun musim gugur berguguran di pinggir kanal Amsterdam.***
Editor : Eli Kustiyawati