RADAR BOGOR – Dulu, Pasar Santa di Jakarta Selatan hanyalah pasar tradisional dengan lorong-lorong becek dan deretan kios sederhana.
Namun, dalam dua dekade terakhir, Pasar Santa ini berevolusi menjadi salah satu pusat kreativitas dan kuliner paling hits di Ibu Kota.
Perubahannya begitu drastis hingga kini dikenal sebagai Santa Modern Market, sebuah ruang kota yang menyatukan atmosfer pasar tradisional dengan energi komunitas kreatif.
Pasar ini berdiri sejak 1971 dan sempat mengalami renovasi besar pada awal 2000-an. Sekarang, gedung tiga lantai itu menawarkan pengalaman yang kaya dan beragam.
Di basement, suasana pasar tradisional tetap terasa dengan pedagang sayur, daging, dan sembako.
Di lantai pertama, deretan kios menjual berbagai pakaian, perlengkapan rumah tangga, hingga menyediakan layanan penjahit.
Sementara itu, lantai atas berdenyut sebagai pusat aktivitas kreatif, mulai dari kedai kopi, toko buku independen, lapak thrifting, hingga gerai makanan inovatif yang selalu menjadi sorotan.
Kebangkitan Pasar Santa dimulai pada dekade 2010-an, ketika para pelaku industri kreatif mulai mengubah kios kosong menjadi ruang ekspresi.
Sejak saat itu, lantai atas tampil dengan suasana baru. Dindingnya bercat cerah, deretan meja kayu tertata rapi, aroma kopi memenuhi udara, sementara para pengunjung muda lalu lalang sambil menenteng kamera atau laptop.
Di sinilah, misalnya, Toko Kopi Tuku menghidangkan kopi khas, Senior Coffee Stall hadir dengan pesona barista lansia, dan Warung Si Hoodie Kuning memanjakan lidah dengan menu 3M (Murah, Meriah, Mantul).
Selain itu, ada pula Kemenkan Bakes yang menawarkan kue bebas gluten serta Bakmie Asta yang selalu menggoda dengan topping melimpah.
Di setiap sudut, ada kisah yang berbeda, mulai dari obrolan akrab di kedai kopi kecil, deretan piring bakmie yang menumpuk saat jam makan siang, hingga perburuan tekun para penggemar barang vintage di lapak-lapak thrift.
Yang unik, jam buka tiap kios tidak seragam. Ada yang baru mengangkat rolling door setelah pukul 11.00, dan ada pula yang menutup dagangan lebih cepat ketika stok habis.
Hal ini justru menambah karakter Pasar Santa: selalu hidup, tetapi tak pernah benar-benar bisa diprediksi.
Kini, Pasar Santa bukan lagi sekadar tempat berbelanja, melainkan titik temu komunitas, tempat berburu rasa, dan ruang inspirasi kreatif.
Kalau ingin merasakan denyut energi Jakarta Selatan yang santai namun penuh ide, datanglah ke sini dan biarkan diri Anda terserap dalam atmosfernya.***
Editor : Eli Kustiyawati