RADAR BOGOR – Di tengah keramaian Glodok, Jakarta Barat, terdapat sebuah kios kecil yang selalu dipadati pembeli sejak pagi hari. Kios itu dikenal dengan nama Donat Ellie.
Donat Ellie lebih dari sekadar jajanan pinggir jalan, donat kentang ini sudah menjadi bagian dari selera masyarakat selama lebih dari 20 tahun.
Berlokasi di Gedung Chandra, kawasan Petak 6, kedai sederhana milik sepasang suami istri lanjut usia ini tidak terlalu mencolok.
Harumnya donat kentang sering kali membuat orang yang melintas tak bisa menolak untuk berhenti.
Teksturnya renyah di luar, lembut di dalam, manisnya pas, dan menghadirkan rasa nostalgia.
Taburan gula bubuk maupun meses cokelat yang sederhana justru menjadi daya tarik utama.
Harga per potong donat dibanderol Rp10 ribu–Rp12 ribu. Meski tak lagi semurah dulu, banyak pelanggan merasa setiap gigitannya sepadan dengan usaha menemukan kios yang lokasinya agak tersembunyi.
Rasanya kerap disebut “klasik nan ngangenin,” dan tak jarang ada yang menempuh jarak cukup jauh hanya untuk membawa pulang beberapa kotak bagi keluarga.
Popularitas Donat Ellie kembali meluas berkat unggahan di media sosial.
Aksi penjual dengan tangan keriput menaburkan gula di atas donat dalam sebuah video singkat berhasil viral dan mencuri perhatian di media sosial.
Sejak itu, antrean pembeli hampir tak pernah putus.
Baca Juga: Alhamdulillah, Lumiere by Ashanty Kembali Buka Lewat Grand Opening di PIM 3 dan Radio Dalam
Meski begitu, ada hal-hal kecil yang perlu diperhatikan ketika membeli. Pembayaran hanya dilayani dengan uang tunai, sebaiknya pas.
Meski servisnya simpel dan terkadang dianggap kurang hangat, banyak pelanggan melihat hal tersebut sebagai pesona tersendiri dari jajanan klasik.
Donat Ellie bukan hanya soal cita rasa. Di dalamnya tersimpan cerita tentang keteguhan, loyalitas pada resep lama, dan nuansa kuliner Jakarta di masa lampau.
Di setiap potongannya, tersimpan kenangan jajanan rumahan yang dibuat dengan ketulusan, tanpa polesan modern, namun tetap dicintai lintas generasi.***
Editor : Eli Kustiyawati