RADAR BOGOR – Stockholm Syndrome, cafe bernuansa Swedia yang cukup dikenal di Bogor memiliki kisah yang cukup menginspirasi, mengajarkan tentang keberanian, kegigihan, dan cinta lintas budaya.
Perjalanan awal mula dibentuknya cafe Stockholm Syndrome ini bukan lahir dari sokongan investor besar, melainkan berawal dari dua apron milik dua pasangan berbeda negara yang memutuskan untuk membuka cafe tersebut.
Berlokasi di Jl Pulo Armin No.15, Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Stockholm Syndrome memperkenalkan cita rasa Swedia ke warga Indonesia.
Ide awal untuk mendirikan cafe Stockholm Syndrome datang dari ingin memperkenalkan cita rasa khas swedia kepada masyarakat Bogor.
Pasangan lintas budaya dan negara ini bertekad untuk membangun usaha dari nol, tanpa ada jaminan sukses.
Namun mereka percaya bahwa kerja keras dan keberanian untuk mencoba tidak akan mengkhianati hasil, justru menjadi fondasi utama dalam membangun usaha.
Namun, ujian yang lebih besar datang menghampiri pasangan ini. Tahun 2019 menjadi awal untuk mereka membuka cafe, sampai pandemi Covid-19 datang menghampiri.
Banyak usaha yang kena dampak dari pandemi Covid-19, salah satunya cafe ini yang baru saja memulai usahanya.
Penjualan menurun drastis hingga drop 19%, karena penjualan melalui ojek online tidak berjalan dengan baik.
Dua bulan berjalan tanpa adanya pemasukan yang berarti, sementara kewajiban tetap harus dipenuhi.
Kewajiban itu pembayaran THR kepada karyawan. Kondisi seperti ini sempat membuat pemiliki cafe ingin menyerah dan kembali ke kampung halaman yaitu swedia.
Siapa sangka justru dalam keterpurukan itulah titik balik muncul, dengan kreativitas mereka mencoba untuk membuka sistem PO di Jakarta.
Langkah tersebut mendapatkan respon yang positif. Sehingga, perlahan cafe Stockholm syndrome Bogor mulai dikenal lebih luas.
Menu-menu khas swedia yang unik dan tidak ditemui di indonesia membuat banyak orang penasaran.
Dukungan pelanggan kian bertambah, memberi napas untuk cafe yang sempat hampir gulung tikar.
Kini, Stockholm Syndrome BGR bukan sekadar kafe. Ia adalah simbol tentang bagaimana sebuah mimpi bisa bertahan meski diterpa badai.
Dari dua apron sederhana, lahirlah sebuah tempat yang menghubungkan cerita Swedia dan Indonesia, dua budaya yang berbeda tetapi bersatu dalam secangkir kopi dan sepiring makanan hangat.
Kisah ini menyadarkan kita bahwa membangun usaha kecil tidak selalu bergantung pada modal besar ataupun dukungan investor.
Kadang, yang paling penting adalah keberanian untuk memulai, kesabaran untuk bertahan, dan keyakinan bahwa badai pasti akan berlalu.
Stockholm Syndrome BGR berdiri hari ini bukan hanya sebagai kafe, tetapi juga sebagai saksi bagaimana cinta, kerja keras, dan ketulusan bisa menghidupkan kembali harapan—bahkan ketika hampir padam. (***)
Penulis: Yumna Siti Nur ‘Aini | PKL-SV IPB
Sumber: tiktok stockhomsydromebgr