Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Donat Kampung Teh Milah, Kuliner Bogor yang Tak Kalah Booming dengan Donat Pingkan Mambo

Fransisca Susanti Wiryawan • Minggu, 12 Oktober 2025 | 14:15 WIB
Donat Kampung Teh Milah Bogor yang viral kaya Pinkan Mambo.
Donat Kampung Teh Milah Bogor yang viral kaya Pinkan Mambo.

RADAR BOGOR – Donat kampung Teh Milah yang ada di Kabupaten Bogor punya pamor yang tidak kalah dengan punya donat viral Pingkan Mambo.

Donat kampung Teh Milah tidak terdampak pada penurunan tingkat konsumsi masyarakat Bogor. Produknya selalu habis tak bersisa. Harganya memang terjangkau. Konsumen hanya mengeluarkan Rp 5 ribu untuk memperoleh 3 buah donat harum bertaburkan gula halus.

Satu gigitan langsung membuat jatuh cinta pada cemilan viral tersebut. Donat kampung jadul ini teksturnya padat, tapi empuk berkat penggunaan kuning telur dan susu kental manis. Harum margarin Blue Band memanjakan hidung. Rasa manisnya pas. Pantas saja donat jadul ini begitu populer di antara warga setempat.

Nasum, sang pemilik donat kampung Teh Milah, berharap adanya bantuan sosial dari Pemerintah agar usaha mikronya bisa berkembang.

Pria setengah baya tersebut memerlukan mixer roti untuk meningkatkan kapasitas produksi. Selama ini pengulenan dilakukan secara manual karena mixer biasa skala rumah tangga tak akan kuat mencampur adonan donat.

Pada akhir pekan banyak warga Kabupaten Bogor yang jogging. Tua muda tumpah ruah memenuhi jalan-jalan perumahan dan perkampungan.

Mentari pun tersenyum lebar. Sengatannya yang terik tidak menghalangi niat warga untuk jogging dan kemudian singgah ke etalase donat Kampung Teh Milah di Jalan Kampung Setu Sela No. 25, Sukaraja, Kabupaten Bogor.

Etalase donat kampung Teh Milah dipenuhi dengan donat berlapiskan tepung gula tersebut mulai jam setengah 6 pagi. Jam tujuh pagi sudah terjual habis.

Usaha kuliner Bogor ini sudah berjalan sejak tahun 2025. Setiap harinya Nasum memproduksi dan berhasil menjual 360 donat kampung.

Pria berusia 57 tahun tersebut tidak melakukan diversifikasi produk karena produk yang paling diminati masyarakat hanya donat kampung. Donat cokelat, keju, selai, dan lain-lain kurang diminati warga setempat.

Kemasan donat jadul ini masih menggunakan kantung plastik. Belum dilakukan branding ramah lingkungan, misalnya menggunakan kemasan boks yang bahannya ramah lingkungan. Masalah branding ramah lingkungan ialah tambahan biaya kemasan ramah lingkungan yang lebih mahal dari kemasan biasa.

Dengan pandangan menerawang, Nasum berharap suatu saat seluruh warga Jawa Barat bisa mencoba kenikmatan donat jadulnya yang selalu membuat rindu.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#bogor #pinkan mambo #donat kampung