RADAR BOGOR – Aroma mentega dan aroma kue yang baru matang memenuhi seluruh dapur kecil Sisuka Cookies.
Sisuka Cookies merupakan toko kue yang dibangun seorang perempuan bernama Siti Sukaesih dengan penuh perjuangan.
Siti Sukaesih tumbuh dari kehidupan yang sederhana, namun ia dapat membuat usaha rumahan yang perlahan kini menjadi cemilan premium lokal.
Usaha Sisuka Cookies ini berawal dari alat sederhana, sebuah mimpi, dan doa sang ibu. Siti ingin membuat kue yang bukan hanya lezat, namun dapat memberikan kebahagiaan bagi siapapun yang mencicipi produknya.
Berdasarkan postingan instagramnya, siti memiliki berbagai varian snack dan kue. Toko kue yang terletak di Jl Raden Khanafiah, Cimahpar Bogor ini memiliki karakter rasa dan tekstur yang memanjakan lidah.
Florentine cookies dengan lapisan almond dan karamel tipis menghadirkan sensasi renyah sekaligus manis gurih yang elegan, sementara fudgy brownies lembap dengan bagian luar sedikit garing menyuguhkan cita rasa cokelat pekat yang langsung lumer di mulut.
Untuk pecinta camilan gurih, keripik basreng menawarkan kerenyahan dan rasa pedas gurih yang menggoda, cocok dinikmati kapan saja.
Tekstur bolu ketan hitam keju terasa lembut namun padat, berpadu dengan keju parut yang menambah gurih dan aroma panggangan yang menggugah selera.
Sedangkan almond crispy memiliki tekstur tipis yang rapuh dan ringan, dengan rasa manis gurih yang pas, meninggalkan sensasi renyah di setiap gigitan.
Seluruh produk ini mencerminkan kehangatan buatan rumahan yang khas, membawa cita rasa Bogor yang bisa dinikmati dan dibawa pulang sebagai oleh-oleh penuh kenangan.
Toko kue ini selain menghadirkan produk yang premium dengan citarasa belgia, menghadirkan kisah perjuangan siti sebagai pemilik toko kue.
Berdasarkan Postingannya di akun @sisuka.cookies, siti menceritakan perjalanannya yang penuh dengan perjuangan.
“Aku lahir di Bogor dan menjadi yatim sejak balita, ayahku supir angkot dan ibuku tukang kue. Sejak kecil jarang punya uang dan terbiasa makan dengan tutug uyah alias nasi dan garam,” ujarnya.
Siti menambahkan dari SD sampai Kuliah jualan keliling pakai tampah di atas kepala. Kalau mau beli bakso harus puasa 1x24 jam supaya bisa beli bakso.
Setelah kuliah, lanjut kerja di sebuah klinik 24 jam selama 8 tahun, berjualan kue tetap dilanjutkan dengan menitipkan kue ke warung, lalu mengambil sampingan mengajar di playgroup.
"Dari pagi berangkat ngajar, pulangnya ke klinik Cimahpar, malamnya membuat kue buat dititipkan ke warung,” ujarnya.
Perjuangannya dalam mewujudkan mimpinya tak berhenti sampai disana, siti mendapatkan kesempatan untuk pergi bekerja ke Belgia.
Siti berhasil menambah penghasilan dengan berjualan kue basah maupun kue kering, sehingga resep yang dipertahankan sampai saat ini merupakan resep yang umumnya digunakan waktu di Belgia.
Kini, nama Sisuka bukan hanya sekedar Toko Kue semata. Namun, menjadi sebuah simbol ketekunan dan keberanian siti dalam mengejar mimpinya dan menjadi pengusaha yang sukses.
Melalui platform digital, kue-kue buatan tangannya kini dapat dicicipi oleh seluruh orang yang ada di berbagai daerah, bahkan toko ini menjadi langganan di shopee dan grabfood.
Kisah Siti Sukaesih adalah cerminan dari banyak perempuan Indonesia yang berjuang di tengah keterbatasan, menjahit mimpi dari kesederhanaan, dan menebar inspirasi lewat setiap langkah kecil.
Perjalanan Siti adalah bukti bahwa manisnya kesuksesan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tak pernah berhenti berusaha. (Yumna/SV IPB)
Editor : Yosep Awaludin