Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Cerita Talas Lokal yang Menjelma Jadi Ikon Oleh-Oleh Kota Hujan Bogor

Yosep Awaludin • Rabu, 14 Januari 2026 | 12:20 WIB
Olahan Talas khas Bogor dalam bentuk Lapis Bogor Sangkuriang.
Olahan Talas khas Bogor dalam bentuk Lapis Bogor Sangkuriang.

RADAR BOGOR – Bogor selalu punya cara untuk meninggalkan kesan. Kota yang lekat dengan julukan Kota Hujan ini, tidak hanya menghadirkan panorama hijau dan udara sejuk, tetapi juga cerita rasa yang tumbuh dari kekayaan lokalnya.

Salah satu cerita itu hadir lewat Lapis Bogor Sangkuriang, kue lapis berbahan dasar talas yang kini dikenal sebagai ikon oleh-oleh khas Bogor.

Di balik popularitasnya, Lapis Bogor Sangkuriang lahir dari gagasan untuk mengangkat potensi agrikultur lokal berupa talas.

Mengutip dari situs resmi LapisBogor.Co.Id, ide tersebut dicetuskan oleh pasangan suami istri Anggara Kasih Nugroho Jati dan Rizka Wahyu Romadhona yang melihat talas komoditas khas Bogor sebagai bahan pangan yang memiliki nilai lebih jika diolah secara inovatif.

Dari pemikiran inilah Lapis Bogor Sangkuriang pertama kali diperkenalkan sebagai produk olahan talas dengan tekstur lembut dan cita rasa khas.

Tahun 2011 menjadi awal perjalanan serius usaha ini dengan dibukanya toko resmi pertama di Jalan Soleh Iskandar, Bogor.

Di waktu yang sama, proses produksi yang sebelumnya dilakukan secara rumahan mulai dipindahkan ke lokasi khusus agar lebih terorganisasi.

Setahun berselang, ekspansi dilakukan dengan membuka toko kedua di Jalan Pajajaran dan toko ketiga di kawasan wisata Puncak.

Pada periode yang sama, Lapis Bogor Sangkuriang meraih penghargaan Wirausaha Muda Mandiri wilayah Jabodetabek dari salah satu bank BUMN, menandai pengakuan terhadap perkembangan bisnisnya.

Perjalanan usaha terus berlanjut. Pada 2013, lokasi produksi kembali dipindahkan ke kawasan Tanah Baru, Bogor, guna meningkatkan kapasitas produksi.

Penghargaan Wanita Wirausaha Mandiri turut diraih sebagai bentuk apresiasi atas peran dan kontribusi pengelolanya.

Puncaknya terjadi pada 2017 ketika Lapis Bogor Sangkuriang menempati pabrik di Kawasan Industri Sentul dan menerapkan standar Hazard Analysis Critical Control Unit (HACCP).

Penerapan standar ini memastikan kualitas produk tetap terjaga sekaligus memungkinkan produksi dalam skala besar.

Keberhasilan Lapis Bogor Sangkuriang tidak hanya bertumpu pada sejarah dan ekspansi bisnis, tetapi juga pada kekuatan produknya.

Talas yang dulunya dikenal sebagai bahan pangan sederhana kini diolah menjadi kue berlapis dengan tekstur lembut dan aroma harum.

Lapisan-lapisan tipis berwarna kuning dan ungu menjadi ciri visual yang kuat dan mudah dikenali sebagai identitas produk.

Dari sisi kepraktisan, kue ini memiliki daya tahan yang cukup baik, yakni hingga empat hari pada suhu ruang dan sekitar tujuh hari jika disimpan di lemari pendingin.

Pilihan rasa yang beragam mulai dari original keju, ekstra keju, brownies keju, chocovila keju, kopi susu, talas susu, cocopandan keju, hingga pisang cokelat membuat konsumen memiliki banyak alternatif sesuai selera.

Harga yang relatif terjangkau turut memperkuat posisinya sebagai oleh-oleh favorit. Dengan kisaran Rp32.000 hingga Rp35.000 per kotak, Lapis Bogor Sangkuriang menjadi produk yang mudah diakses oleh berbagai kalangan.

Dari talas lokal hingga kue ikonik, Lapis Bogor Sangkuriang menunjukkan bagaimana pangan tradisional dapat berkembang menjadi simbol identitas kuliner dan kebanggaan Kota Bogor. (Fadhil/Polimedia)

Editor : Yosep Awaludin
#talas #bogor #Lapis Bogor Sangkuriang