RADAR BOGOR — YouTuber kuliner Indonesia, Mamank Kuliner, kembali menarik perhatian penonton lewat review terbarunya saat mencoba menu ayam pedas dari restoran jaringan mie populer Golden Lamian.
Dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, ia mengulas menu ayam geprek versi restoran modern yang diklaim memiliki sensasi pedas berbeda dari ayam geprek tradisional Indonesia.
Menu yang dicoba adalah Hong Kong Extra Spicy Chicken, salah satu varian ayam goreng tepung pedas yang menjadi menu pendamping di Golden Lamian.
Berbeda dengan ayam geprek kaki lima yang identik dengan sambal ulekan kasar, hidangan ini hadir dengan saus pedas bergaya fusion yang menggabungkan sentuhan kuliner Asia modern.
Sejak awal video, Mamank langsung menyoroti tampilan makanan yang terlihat "banjir saus" dengan minyak cabai cukup dominan.
Warna merah menyala pada sambalnya memberikan kesan pedas ekstrem, meskipun ia mengaku masih penasaran apakah rasa pedasnya benar-benar sekuat tampilannya.
Untuk menguji klaim tersebut, Mamank memilih level kepedasan tertinggi, yaitu level tiga.
Keputusan itu diambil agar penonton bisa mengetahui batas maksimal rasa pedas yang ditawarkan menu ini, terutama bagi pecinta makanan pedas yang sering mencari tantangan baru.
Menariknya, sensasi pedas yang dirasakan tidak langsung menghantam lidah.
Mamank menggambarkannya sebagai tipe slow burn, yakni rasa pedas yang muncul perlahan setelah beberapa gigitan.
Pada awalnya justru terasa sedikit manis sebelum panas cabai mulai terasa semakin kuat di mulut.
Dari sisi tekstur ayam, ia memberikan catatan khusus pada lapisan tepung yang dinilai cukup tebal.
Meski tetap renyah, bagian tepung dianggap sedikit terlalu dominan dibandingkan daging ayamnya.
Hal ini membuat pengalaman makan terasa berbeda dari ayam geprek lokal yang biasanya lebih sederhana dan fokus pada sambal.
Karakter sambalnya juga menjadi pembahasan utama. Menurutnya, rasa pedas di menu ini bukan tipe sambal bawang khas Indonesia, melainkan lebih menyerupai saus pedas restoran modern dengan perpaduan rasa manis dan gurih.
Pendekatan rasa tersebut membuat menu ini terasa lebih ramah bagi konsumen umum, bukan hanya penggemar pedas ekstrem.
Seperti ciri khas kontennya, Mamank menyampaikan review dengan gaya humor santai dan komentar spontan yang menghibur.
Ia beberapa kali melontarkan candaan tentang rasa pedas yang datang "diam-diam tapi pasti," membuat suasana review terasa ringan sekaligus informatif.
Dari segi kelebihan, ia menilai menu ini memiliki rasa ayam yang enak, pilihan level pedas yang fleksibel, serta konsep rasa yang cocok untuk pengunjung restoran mall.
Namun, ia juga menyoroti minyak sambal yang cukup banyak dan tekstur tepung yang mungkin tidak cocok bagi semua orang.
Pada akhirnya, Mamank menyimpulkan bahwa ayam pedas Golden Lamian layak dicoba sebagai alternatif ayam geprek versi modern.
Meski tidak menghadirkan sensasi pedas brutal ala warung geprek tradisional, menu ini menawarkan pengalaman berbeda dengan rasa yang lebih seimbang dan konsep fusion yang unik bagi pecinta kuliner perkotaan.***
Editor : Eli Kustiyawati