RADAR BOGOR - Dessert ubi cream cheese belakangan menjadi salah satu kuliner paling viral di media sosial.
Warnanya yang cerah, teksturnya yang lembut dan lumer, hingga tampilannya yang estetik membuat camilan ini diburu banyak anak muda.
Tidak sedikit orang rela antre panjang di pusat perbelanjaan hanya untuk mencicipi hidangan penutup yang sedang tren tersebut.
Fenomena ini semakin ramai setelah berbagai konten tentang ubi cream cheese membanjiri TikTok dan Instagram.
Banyak warganet mengunggah pengalaman mereka saat berburu dessert tersebut, mulai dari antrean panjang hingga sensasi penasaran karena takut tertinggal tren atau fenomena fear of missing out (FOMO).
Salah seorang konsumen asal Pamijahan Kabupaten Bogor bernama Erika mengaku, tertarik membeli ubi cream cheese karena penasaran dengan rasanya yang unik dan tampilannya yang menarik di media sosial.
"Enak banget," ucapnya kepada Radar Bogor, Sabtu 16 Mei 2026.
Menurutnya, tren kuliner seperti ini sering membuat banyak orang ikut mencoba meski belum mengetahui kandungan gizi maupun dampaknya bagi kesehatan.
Di balik popularitasnya, ubi ungu ternyata menyimpan kandungan nutrisi yang cukup tinggi.
Sejumlah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah menyebut ubi kaya akan antosianin, yaitu senyawa antioksidan yang memberikan warna ungu khas sekaligus membantu melawan radikal bebas dalam tubuh.
Berdasarkan hasil penelitian, kandungan antosianin pada ubi ungu mencapai sekitar 110,51 miligram per 100 gram.
Senyawa ini dikenal baik untuk membantu menjaga kesehatan jantung, mengurangi risiko peradangan, hingga mendukung kesehatan sel tubuh.
Selain itu, ubi ungu juga mengandung karbohidrat kompleks yang mampu memberikan rasa kenyang lebih lama karena energi dilepaskan secara perlahan.
Kandungan beta-karoten pada ubi jalar juga bermanfaat untuk kesehatan mata, sementara kalium membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.
Tidak hanya ubi ungu, varietas ubi Cilembu juga disebut memiliki kandungan nutrisi yang baik.
Namun, dibandingkan ubi putih dan ubi kuning, ubi ungu dinilai unggul karena memiliki kadar vitamin C dan antioksidan lebih tinggi.
Dalam perbandingan kadar pati, ubi ungu juga dianggap lebih rendah dibanding ubi putih dan ubi kuning.
Hal itu membuat ubi ungu kerap dipilih sebagai alternatif sumber karbohidrat yang lebih ringan bagi sebagian orang yang sedang menjaga pola makan.
Meski begitu, ahli gizi mengingatkan masyarakat untuk tetap memperhatikan kandungan tambahan pada dessert tersebut, terutama cream cheese.
Bahan ini memang memberikan rasa gurih dan tekstur creamy yang disukai banyak orang, tetapi juga mengandung kalori dan lemak cukup tinggi.
Dalam satu sendok makan cream cheese terdapat sekitar 50 kalori dan lima gram lemak.
Jika digunakan dalam jumlah banyak, kandungan kalori dessert bisa meningkat drastis, terlebih bila ditambah gula dan whipping cream.
Di sisi lain, cream cheese juga memiliki manfaat karena mengandung protein, kalsium, vitamin A, hingga probiotik yang baik untuk kesehatan pencernaan.
Namun, konsumsi berlebihan tetap tidak disarankan, terutama bagi penderita intoleransi laktosa atau mereka yang sedang membatasi asupan lemak.
Tren ubi cream cheese juga memunculkan kreativitas masyarakat untuk membuat versi rumahan yang lebih sehat.
Banyak resep beredar dengan penggunaan gula lebih sedikit serta penggantian susu rendah lemak agar kandungan kalorinya lebih terkontrol.
Cara membuatnya pun cukup sederhana.
Ubi ungu dikukus hingga lembut lalu dihaluskan, kemudian dicampur dengan cream cheese, susu, dan whipping cream.
Setelah itu adonan disusun berlapis di atas remahan biskuit dan didinginkan di dalam kulkas hingga teksturnya padat.
Selain lebih hemat, membuat dessert sendiri di rumah dinilai menjadi solusi agar masyarakat tetap bisa menikmati tren kuliner viral tanpa khawatir berlebihan terhadap kandungan gula dan kalori.
Fenomena ubi cream cheese menunjukkan bagaimana makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga visual dan pengalaman sosial di era digital.
Namun di balik tampilannya yang menggoda, masyarakat tetap diimbau bijak memilih dan mengatur porsi konsumsi agar manfaat kesehatannya tetap optimal. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim